CINTAKU PADA SUATU MASA (I)
PROLOG
Dengan menahan rasa pusing yang
luar biasa, aku berusaha mencari tahu mengapa aku berada di rumah sakit,
Samar-samar aku bisa mengenali wajah ibuku yang berusaha tersenyum menyambutku,
menatapku dengan penuh kasih sayang dan kedua tangannya menggenggam erat tangan
kananku. Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan, sepertinya begitu banyak
orang disekelilingku, tapi sangat susah untuk mengenali satu persatu dan hanya
sayup-sayup terdengar percakapan mereka, sepertinya mereka mengatakan
sesuatu atau menyapaku tetapi tidak bisa kutangkap dengan baik,
mungkin teman kantor atau saudara-saudaraku yang datang dari jauh. Saat
pandanganku kualihkan kesebelah kiri, mataku menangkap sosok yang sangat aku
kenal, Aisyah tepat di samping tempat tidurku menangis terisak-isak
sambil sesekali kedua tangannya menutupi wajahnya, diapit Papa dan Mamanya yang
terus berusaha menenangkannya, tapi tatkala aku berusaha meyakinkan
pandanganku, mereka sudah menghilang. Aku belum memahami apa yang terjadi
denganku, kepalaku terasa berdenyut-denyut dan kurasakan sakit luar biasa,
perutku terasa mual sekali dan setelah aku muntah-muntah untuk kesekian
kalinya aku tidak sadarkan diri lagi…
Aku terjaga dari
tidurku pagi itu dengan kehangatan sinar mentari pagi yang
menerobos lewat kisi-kisi jendela. Aku masih terbaring lemah di tempat tidur
dengan tangan dan kaki terbalut perban disana-sini begitu juga di bagian kepala. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengingat-ingat lagi tentang
kecelakaan di jalan tol yang amat dahsyat itu. Hal yang sedikit membuatku
nyaman adalah kehadiran ibukku yang selalu menyambutku dengan senyum dibibirnya
walau jelas masih terlihat sisa-sisa kesedihan yang tidak bisa disembunyikan.
Tiba-tiba kepalaku mulai terasa berat dan pusing, perutku juga terasa sangat
mual, tangan dan kakiku terasa nyeri dan semakin lama
semakin sakit luar biasa. Aku merintih dalam dekapan ibuku dan
mengiba dipanggilkan perawat untuk menghilangkan rasa sakitku. Sejenak ibukku
tampak mengusap air mata yang hampir jatuh dari pipinya sebelum beringsut
meninggalkanku, sesaat kemudian nampak dua perawat yang masih muda masuk ke
ruangan dan berbisik kepada ibuku, entah apa yang diucapkan. Salah satu dari
mereka menyapaku dengan senyum ramah dan menyuntikkan sesuatu ke
botol infusku, samar-samar aku melihat perawat yang lain memeriksa perban
yang ada di kakiku, aku hendak menanyakan beberapa hal kepada kedua perawat
tersebut, tapi efek obat bius yang baru disuntikkan
membuatku tak sadarkan diri lagi.
CHAPTER 1
Kusempatkan sejenak untuk membaca beberapa email yang
masuk di laptopku pagi itu
sebelum beranjak memenuhi undangan meeting, salah satunya email
dari Amel mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri dikota ini yang memintaku
untuk menjadi pembicara pada sebuah seminar. Aku ragu untuk segera menjawabnya
karena pada tanggal yang dimaksud sebetulnya aku sudah berencana mengambil cuti
beberapa hari untuk menengok orangtuaku di desa dan sekaligus melepas
kepenatan dengan menghabiskan akhir pekan disana. Aku tinggalkan dahulu email
itu dan segera kumatikan laptop karena aku sudah ditunggu oleh peserta meeting
yang lain. Beberapa panggilan masuk di handphoneku tidak kuhiraukan karena
meeting kali ini cukup penting dan aku sangat dibutuhkan
untuk ikut merumuskan proyek beserta besaran dana yang dibutuhkan
sebelum diajukan ke Direktur. Untuk kesekian kali nomor itu muncul dilayar
telephone genggamku, dengan setengah hati akhirnya kujawab juga dengan agak
berbisik,
“Assalamu’alaikum, maaf dengan siapa ya”
“Wa’alaikum salam maaf mengganggu waktu bapak,
saya Amel mahasiswi yang tadi kirim email ke bapak”. Terdengar suara yang
lincah khas anak muda, aku baru akan menjawab saat anak muda tersebut
meneruskan pembicaraannya,
“Apakah kami boleh ke kantor bapak untuk menjelaskan agenda
seminar seperti yang sudah kami emailkan ke bapak, kalau boleh mohon bapak bisa
menentukan waktunya ”
Sejenak aku mengingat agendaku besok dan segera aku
memberi jawaban singkat,
“Silakan datang besok jam sembilan pagi ya”
Terdengar ucapan terimakasih disusul ucapan syukur
dari temannya yang sayup-sayup terdengar dibelakangnya.
Esok harinya, mereka bertiga sudah menunggu di lobi
bawah saat aku keluar dari lift, senyum sopan mengembang dari ketiga tamuku dan
serempak mereka beranjak dari duduknya untuk berdiri menyambutku dan
memperkenalkan diri masing-masing. Dimulai dari yang kemarin menelphoneku,
Amel, ternyata dia adalah ketua panitia penyelenggara seminar. Sedangkan yang
tengah, Sheila menjabat sebagai sekretaris dan satunya yang paling pojok memperkenalkan
namanya Aisyah sebagai bendahara dan saat tatapan matanya beradu denganku
terasa jantungku berdesir, dan aku tidak bisa konsentrasi untuk beberapa saat.
Aku merasa tidak asing dengan wajah dan senyumnya itu, tapi dimana, ah aku
segera menyingkirkan pikiran nakalku itu. Aku segera kembali konsentrasi dengan
penjelasan Amel bahwa seminar ini akan dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi dan
alumni dari berbagai perguruan tinggi di kota ini bahkan juga dari
luar kota, tujuannya agar para mahasiswa dan sarjana punya pemahaman
dan strategi yang dapat dijadikan bekal dalam memasuki dunia kerja. Aku
beberapa kali mengajukan pertanyaan dan memberikan saran, Sheila dengan sigap
mencatat kalimat-kalimat yang aku ucapkan dan beberapa kali juga mengajukan
pertanyaan. Sesekali kuedarkan pandanganku ke Aisyah yang sejak tadi diam dan
setiap kali juga wajahnya menunduk demi melihat aku menatapnya. Akhirnya mereka
berpamitan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Aku termenung untuk beberapa
saat dan sekali lagi mencoba mengingat-ingat kapan aku pernah bertemu atau
setidaknya pernah melihat wajahnya, dan senyuman itu sepertinya lekat dalam
pikiranku.
CHAPTER 2
Hari ini aku bangun lebih awal karena harus
mempersiapkan materi seminar seperti permintaan Amel. Selepas sholat subuh
kusempatkan membuka laptop karena masih ada beberapa perbaikan materi, aku
sisipkan juga beberapa potongan video yang menarik, agar lebih menggugah
suasana sekaligus sebagai ice breaking atau energizing agar
peserta tidak jenuh. Setelah yakin semuanya sudah siap, aku berangkat menuju
tempat seminar yang akan berlangsung disebuah hotel bintang lima
yang tidak jauh dari kampus tempat kuliah Amel dan
kawan-kawannya. Suasana masih sepi saat aku tiba
ditempat dan kursi peserta yang dibalut satin putih masih kosong
melompong. Ada spanduk selamat datang persis disamping kanan
kiri pintu masuk dan backdrop berukuran besar tepat didepan audience
diapit oleh dua layar screen yang cukup lebar, terpampang tema
seminar disertakan juga fotoku yang cukup gagah, seingatku foto
tersebut pernah aku jadikan profile di akun sosial mediaku, sungguh
kreatif anak muda jaman sekarang, batinku. Aku bersyukur karena masih ada waktu
yang cukup longgar untuk mencoba tampilan gambar dalam layar screen dan
juga menjajal audio dengan dibantu oleh petugas hotel yang
cukup terampil menjalankan tugasnya. Tanpa butuh waktu lama semuanya sudah
siap dan pesertapun satu demi satu mulai memasuki ruangan. Amel
nampak sudah berdiri didepanku bersama Sheila menyapaku dan mengucapkan
terimakasih atas kedatanganku juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan
agenda seminar hari itu serta memperkenalkan Sarita yang akan memandu seminar.
Aku masih berharap Aisyah akan terlihat sebelum acara dimulai tapi aku mulai
menyadari bahwa harapanku untuk melihat wajah dan senyumnya sia-sia karena
Sarita sudah memberikan aba-aba untuk segera membuka acara. Segera aku buang
jauh-jauh perasaan itu dan aku harus fokus pada seminar ini.
Seminar berjalan lancar dan selesai persis jam dua
belas siang sesuai dengan rencana. Pesertapun terlihat puas dan antusias dengan
seminar yang kubawakan, terbukti setelah acara seminar ditutup oleh pembawa
acara secara spontan seluruh peserta memberikan standing applause bergemuruh
seakan tiada hentinya. Sekejap kemudian satu demi satu peserta memberikan
ucapan terimakasih, beberapa diantaranya meminta kesediaaku untuk berfoto
bersama. Setelah selesai membereskan laptop dan peralatan lainnya, Amel
menghampiriku sambil bertepuk tangan kecil, didampingi Sheila dan
beberapa mahasiswa lainnya yang belum aku kenal. Amel menjabat tanganku dengan
erat diikuti ucapkan terimakasih dan diikuti oleh Sheila dan juga yang lain.
Setelah berbasa-basi sebentar Amel mengajakku makan siang bersama di
restauran yang berada di lantai bawah. Selama menuruni tangga menuju
restautan, Amel banyak memberikan pujian terhadap penampilanku dan berharap
suatu saat nanti bisa mengundangku kembali. Restauran ini cukup
indah dengan penataan ruangan yang sangat
profesional sehingga memberi kesan mewah, menu yang disajikanpun
cukup lengkap mulai dari traditional food, Chinese food sampai western
food semuanya tersaji dengan apik mengelilingi setengah
ruangan. Sambil bercanda kami menikmati hidangan demi hidangan yang memang
enak. Setelah selesai makan siang, Amel dan Sheila berpamitan hendak
mengambilkan sesuatu dan memintaku untuk menunggu sebentar, ada hal
penting yang akan disampaikan katanya. Pikiranku masih dipenuhi tanda
tanya mengapa Aisyah tidak menampakkan batang hidungnya, bukankah kemarin
mereka bertiga yang kekantorku. Tak lama kemudian Amel dan Sheila sudah
nampak lagi dan tersenyum kepadaku.
“Maaf ya bapak harus menunggu kami agak lama” sapa
Amel dengan map di tangannya.
”Ehm jangan panggil bapak ah, kesannya seperti sudah
tua banget”, selorohku sambil tersenyum kecil.
“Eh iya sebetulnya kita juga mau panggil mas atau
kakak tadi, tapi kayaknya gak menghormati banget” sambut Sheila
sambil tertawa cekikikan.
“Mohon bapak eh…kak eh… mas Yudha… mohon mas Yudha
dapat menerima ini walau tidak seberapa” lanjut Amel tersipu malu sambil
menyodorkan map yang berisi amplop .
Aku tersenyum juga mendengar Amel sedikit gelagapan,
tanganku segera mencegah map yang disodorkan kepadaku tersebut serta
mendorongnya kembali ke depan Amel.
“Terimakasih ya Amel dan Sheila tapi aku tidak bisa
menerima pemberian kalian, aku sudah senang bisa membantu kalian yang pastinya
kalian sudah bersusah payah untuk menyiapkan penyelenggaraan seminar ini,
silakan dana ini dipakai untuk keperluan yang lain saja”
Amel tampak kebingungan dan sekali lagi
berusaha menyerahkan map tersebut kepadaku, tapi akhirnya menyerah karena aku
bersikukuh tidak mau menerimanya.
“Baik kalau mas Yudha memang ikhlas mau menyumbangkan
honor ke kami, saya mewakili seluruh panitia sekali lagi mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya dan semoga mas Yudha selalu
dalam keberkahanNya serta tidak kapok kalau suatu saat nanti kita minta
lagi untuk menjadi pembicara”
Tawa kecil Amel diikuti Sheila pecah demi melihat
gerakan tangan dan gelengan kepalaku yang menirukan gaya orang India.
Aku baru mau bertanya tentang Aisyah saat Sheila
tiba-tiba menyela,
“Oh ya mas Yudha dapat salam dari Aisyah yang kemarin
ikut kekantor mas yudha”
Sejenak mereka tampak saling memandang dan hampir
berbarengan melirikku, dan akupun jadi tersipu malu. Aku berusaha
menyembunyikan raut wajahku yang tiba-tiba menegang demi mendengar nama Aisyah.
“Mas Yudha, Aisyah sedang ujian skripsi pagi ini,
doakan semoga sukses ya” sahut Amel.
“Oh ya” jawabku singkat menahan gelora dalam hatiku
dan aku berharap mereka tidak melihat kegugupan yang tiba-tiba menyergapku.
“Dan… mohon maaf kalau kami buru-buru harus segera
kekampus menemui Aisyah untuk memberikan dukungan” sahut Sheila dengan senyum
nakalnya.
“Bagaimana kalau aku antar kalian kekampus, semoga aku
juga bisa bertemu dan memberi dukungan ke Aisyah”, sahutku seketika
yang membuat Amel dan Sheila terlihat kaget menatapku.
“Beneran nih”, sahut Sheila sambil tersenyum dan
melirikku dengan nakal.
“Makasih ya mas Yudha sudah sudi mau mengantar
kami”, timpal Amel sambil melirik Sheila dan serempak mereka berdua tersenyum.
Aku merasa seperti ditelanjangi mereka berdua, apakah
mereka tahu yang sebenarnya sedang terjadi dalam hatiku. Ah biarlah asal hari
ini aku diberi kesempatan untuk dapat melihat senyum manis Aisyah.
“Kalau begitu kita langsung berangkat yuk” lanjut Amel
sambil berdiri dan menarik tangan Sheila.
Selama perjalanan kekampus, Amel banyak bercerita
tentang seminar tadi, dimana sebetulnya Aisyah yang menggagas temanya,
termasuk yang memilih siapa yang akan jadi pembicaranya. Tapi sayang Aisyah
yang sedianya akan menjadi pembawa acara harus diganti dengan yang lain karena
hari ini Aisyah tiba-tiba harus maju ujian skripsi, karena sesuatu hal bapak dosen
penguji memajukan jadwal ujian skripsinya. Hatiku jadi sedikit terhibur
mendengar penjelasan Amel tapi sekaligus penasaran, darimana Aisyah tahu
tentang aku? mengapa Aisyah menawarkan aku sebagai pengisi seminar? sedikit
curious seklaigus ge er juga sih. Aku mau menanyakan hal tersebut ke Amel
tapi urung kuutarakan karena Amel sepertinya sedang sibuk membalas beberapa
pesan dalam ponselnya. Sheila yang duduk disampingku setengah berbisik
mengatakan sesuatu kepadaku
“Mas… Aisyah itu sering bercerita tentang mas Yudha
lho, makanya dia sangat kecewa tidak bisa mengikuti seminar kali ini”.
Aku tertawa kecil demi mendengar celotehan Sheila,
tapi jauh didalam lubuk hatiku kurasakan hatiku berdesir lagi dan kali ini
bahkan lebih kencang, ada kerinduan yang tiba-tiba menyeruak dalam diriku,
perasaan yang selama ini kututup rapat-rapat jauh dalam hatiku, entah kapan
terakhir kali aku merasakan kerinduan seperti ini dalam hatiku terhadap
kehadiran seorang kekasih.
“Langsung menuju ke Fakultas Ekonomi ya, letaknya
diujung itu” teriak Amel dari belakang menyadarkanku dari lamunan. Aku
mengikuti arahan Amel menyusuri jalan boulevard yang sangat lebar menuju
fakultas Ekonomi yang ternyata letaknya cukup jauh dari
pintu gerbang.
CHAPTER 3
Kampus ini dulunya berada ditengah kota dan akhirnya
harus pindah lokasi pinggiran karena butuh lahan yang lebih luas untuk
pengembangan. Tempatnya yang sangat luas dan dipenuhi dengan pepohonan yang
rindang membuat kampus ini terlihat sangat teduh dan terasa nyaman sebagai
tempat perkuliahan. Sepanjang jalan boulevard, dikanan-kiri dipenuhi pepohonan
berjajar sambung-menyambung membuat suasana menjadi sangat rindang, bunga
dahlia dengan berbagai warna ditanam disepanjang trotoar sebagai pembatas jalan
semakin menambah indahnya mata memandang. Deretan gedung-gedung perkuliahan
yang berdiri kokoh sungguh sangat apik penataannya, tidak lupa beberapa taman
yang cukup luas dilengkapi dengan kolam ikan dan tempat-tempat duduk mengisi
ruang kosong dan menjadi pembatas antara fakultas satu dengan lainnya.
Mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang dengan mobil dan motor tiada hentinya
bahkan ada juga yang berjalan kaki dengan santai sambil bersenda gurau
menikmati perjalanan menuju tempat kuliahnya. Gedung Fakultas Ekonomi terlihat
paling menonjol sendiri, menjulang tinggi dan terlihat angkuh diantara
gedung-gedung yang lain. Amel memberitahukan kalau jumlah mahasiswa Ekonomi
hampir separuhnya sendiri, karena memang fakultas ekonomi paling favorit
dikampus ini, kalau tidak salah menteri ekonomi sekarang ini juga merupakan
lulusan terbaik dari fakultas sini. Nampak security memberikan aba-aba kepadaku
untuk berhenti karena ada pemeriksaan rutin setiap mobil mau memasuki kawasan
parkir.
“Sebaiknya mas Yudha menunggu di kantin ya letaknya di
lantai dasar, biar aku dan Sheila yang menemui Aisyah diruang ujian” usul Amel
setelah aku mendapatkan tempat parkir yang cukup sesak itu.
Sebelum turun Sheila mengedipkan mata seakan memberi
tanda sesuatu kepadaku sambil tertawa kecil meninggalkanku. Aku tidak begitu
paham apa maksudnya, mungkinkah Aisyah mengatakan sesuatu ke Sheila karena
sepertinya Sheila adalah teman dekat Aisyah. Aku geli sendiri dengan tingkah
nakal Sheila, tapi jujur karena tingkah Sheila yang apa adanya itu yang
membuatku jadi tambah percaya diri untuk melangkahkan kaki ke kampus
ini. Kurasakan lagi desiran halus dalam jantungku dan benih-benih kerinduan
mulai mengalir lembut dalam hatiku, anganku mulai dipenuhi oleh pesona gadis
itu yang tak dapat lagi kucegah. Apakah aku sanggup untuk menerima kenyataan
apabila Aisyah ternyata sudah punya seseorang kekasih, mengapa
aku terlalu percaya diri. Aku memaki diriku sendiri, menyesali diriku yang
membiarkan terbakar oleh asmara hanya karena pandangan pertama. Aku
jadi ingat kalau belum sholat Dzuhur, sebaiknya ku buang jauh-jauh
pikiranku yang tidak berdasar ini dan segera aku ambil air wudhu untuk
menunaikan sholat dan menyerahkan semuanya kepadaNya.
Tidak sulit untuk menemukan kantin yang dimaksud Amel,
letaknya terbuka ditengah-tengah aula yang luas dan dikelilingi oleh
ruangan-ruangan tempat perkuliahan dan bersebelahan dengan ruang perpustakaan.
Meja dan kursi makan tertata rapi ditengah dikelilingi oleh berbagai
penjual minuman dan makanan. Semua gerai dibuat sama dan sejajar sehingga
tampak rapi dan indah, menu makanan tertempel ditiap gerai dan pemesanan akan
diantar setelah melakukan pembayaran dikasir. Aku memesan Caramel
Machiato Latte dan memilih tempat duduk diujung agar tidak terlalu
terganggu oleh bisingnya mahasiswa-mahasiswi yang sedang nongkrong di kantin.
Sejenak setelah pesananku datang, nampak Amel dan
Sheila setengah berlari menuju kearahku, sepertinya mereka punya radar untuk
memantau keberadaanku karena di antara penuh sesak mahasiswa yang memenuhi kantin,
sepertinya tidak ada kesulitan bagi mereka untuk menemukanku.
“Mas Yudha tidak pesan makan sekalian” Tanya
Amel berbasa-basi.
“Dah minum aja…. “ jawabku sambil tersenyum menyambut
mereka berdua.
“Eh, anda berdua pesan geh, nanti saya yang traktir”
“Yuk duduk dulu dong, masak berdiri terus disitu”
tambahku sambil menggeser kursi yang dekat dengan ku
agar sedikit menjauh dari meja.
“Ehm gini mas” kata Sheila sambil menoleh kearah Amel
seakan meminta persetujuan.
“Jadi gini mas Yudha, baru saja Aisyah memasuki
ruangan untuk mengikuti ujian pendadaran, tadi sebelum maju ujian saya sempat
ngobrol sebentar dan memberi semangat, juga sudah saya sampaikan kalau mas
Yudha yang mengantar kami kekampus” lanjut Sheila.
“Tapi mohon maaf, saya dan Sheila tidak bisa menemani
mas Yudha, karena kami sudah ditunggu teman-teman di hotel tempat seminar tadi
untuk pembubaran panitia dan penyelesaian administrasi dengan pihak
hotel” Timpal Amel seakan terburu-buru dan tidak memberiku kesempatan menjawab.
“Oke, kalau begitu saya antar anda berdua ya”jawabku
sambil berdiri dan tak lupa menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan oleh
pelayan.
“Eh…. Jangan mas, kami akan berangkat dengan
teman-teman yang lain, sebaiknya mas Yudha nikmati dulu nanti malah capek lho
kalau harus bolak-balik mengantar kami”, cegah Amel
“Aku dah ngomong sama Aisyah kalau mas Yudha ada di
kantin, please tunggu ya” imbuh Sheila setengan berbisik sambil tersenyum
nakal.
Belum sempat aku merespon ucapan Sheila, mereka berdua
sudah mohon diri dan setengah berlari menghilang dari pandanganku. Aku seruput
lagi kopi yang ada didepanku dan aku mulai mengkhayal lagi, membayangkan
indahnya suatu saat nanti bersama Aisyah, mendamba gadis cantik itu dapat
mengisi ruang hatiku yang masih kosong yang sampai saat ini belum juga
kutemukan pengisinya. Kulirik jam tanganku yang mengabarkanku kalau sudah
lebih dari satu jam aku duduk sendiri bersama khayalanku. Keraguan
kembali menderaku, dan didalam hatiku mulai menyangsikan kalau Aisyah akan
menemuiku di kantin. pikiranku kembali terombang-ambing antara khayalan dan
kenyataan. Caramel Machiato Latte ku juga hampir habis dan aku
sudah bulat bergegas mau meninggalkan kantin tatkala dengan tiba-tiba Aisyah
sudah berdiri tepat didepanku dengan senyum manisnya. Bibirku mendadak kelu
untuk sekedar mengucapkan namanya dan aku masih belum yakin kalau ini bukan
mimpi.
“Bapak…..” sapa Aisyah dengan lembut sambil
mengulurkan tangannya.
Kali ini dengan jelas aku bisa melihat wajah dan
senyumnya, kupandangi sosok wanita yang sudah sanggup membuat jantungku
berdegup kencang belakangan ini dan sekarang tegak berdiri persis
dihadapanku.
“Hai Aisyah” sapaku agak parau karena luapan
kegembiraan dalam hatiku sambil kusodorkan tanganku dan kujabat erat tangan
halusnya dengan sopan.
“Alhamdulillah bapak masih ada disini, maaf ya bapak
kalau harus menunggu lama, Amel dan Sheila tadi yang kasih kabar kalau bapak
menunggu Aisyah di kantin ini”
Aku menjadi tambah salah tingkah demi menyadari kalau
Aisyah mengetahui aku menungguinya di kantin. Aisyah mengambil kursi dan duduk
tepat dihadapanku, tidak seperti kesan pertama yang aku tangkap
saat pertama kali bertemu dikantorku kala itu, kali ini Aisyah
terlihat energik dan penuh percaya diri.
“Aku... aku mendengar kalau Aisyah sedang ujian
skripsi ...... jadi secara reflek aku menawarkan tumpangan kepada
Amel dan Sheila untuk bersama-sama ke kampus ini sekaligus memberi support”
jawabku tergopoh-gopoh sambil sekuat tenaga melawan kegugupanku.
Sumpah, belum pernah aku jadi sekikuk ini ditambah perasaan yang campur
aduk disertai degup jantung yang seakan mau copot dari dadaku.
“Waduh terimakasih sekali bapak, sampai repot-repot
kesini, Aisyah jadi tersanjung”
Sekilas mata kami beradu dan
aku berusaha mengalihkan perhatian, tatapan Aisyah yang tajam
langsung menghunjam kedalam hatiku, membuatku menjadi tambah gugup.
“By the way panggil aku mas saja ya, biar tidak
seperti anak ketemu bapaknya”candaku setelah bisa memulihkan sebagian dari
keberanianku dan disambut tawa kecil dari Aisyah.
“Eh….cerita dong gimana ujian skripsinya tadi?”
lanjutku.
Sesaat suasana hening, nampak pipi Aisyah sedikit
memerah dan dengan tersipu malu menjawab pertanyaanku,
“Alhamdulillah bapak eh … mas, pendadarannya berjalan
lancar dan Aisyah dinyatakan lolos ujian”.
“Alhamdulillah” timpalku
Sejenak percakapanku terhenti karena ada pelayan
dengan membawa baki berisi minuman menghampiri mejaku dan meletakkan Ice
Lemon Tea pesanannya Aisyah. Khayalanku mulai menari-nari lagi, sekuat
tenaga aku menahannya agar tidak tambah liar hingga mengacaukan akal warasku.
Aisyah nampak menunduk menikmati Lemon Tea-nya, begitu mempesona gadis
ini dengan baju gamis warna marun dipadu dengan jilbab berwarna merah
muda.
“Ehm…..Aisyah tadi naik apa?”,
tanyaku berbasa basi setelah saling terdiam beberapa saat.
Aisyah memandangku dengan senyum manisnya “Aku selalu
jalan kaki bapak eh…mas, hehehe…..,kostku tidak begitu jauh dari kampus ini”,
jawab Aisyah sambil menutupkan kedua tangannya kemulut untuk menutupi
kegugupannya kala harus memanggilku mas.
“Kalau begitu nanti saya antar ya
sampai ke kost kamu” pintaku sambil kupandangi kedua matanya yang
bening dihiasi alis yang lebat dan bulu-bulu mata yang lentik.
“Gak usah …. Jangan repot-repot mas, biar nanti Aisyah
jalan kaki saja” sahut Aisyah tergesa.
Aku tersenyum sejenak kemudian terdiam dan pikiranku
mulai berpacu berkejar-kejaran dengan waktu untuk segera menemukan akal. Aku
tidak mau momen ini akan cepat berlalu begitu saja tanpa kesan, aku masih ingin bersamanya
lebih lama lagi. Kualihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang ringan, tentang
keseharian di kampus, hobi dan juga makanan favorit. Aisyah nampak
antusias menjawabnya dan bercerita tentang kesukaanya akan musik serta
film dan sesekali balik menanyakan kesukaanku akan beberapa hal. Sungguh gadis
ini semakin memikat hatiku, senyum cerah selalu mengawali pembicaraanya,
diselingi dengan tatapan mata yang teduh. Tak terasa waktu berlalu dengan
cepat, dan kantin mulai ditinggal satu-persatu mahasiswa. Beberapa gerai malah
sudah berkemas-kemas mau tutup dan Aisyah sepertinya juga masih bersemangat
untuk bercerita tentang berbagai hal, seakan juga tak mau menyia-nyiakan
waktunya.
“Aisyah, kayaknya hari sudah mulai sore, sebaiknya
kita segera pulang, sekali lagi saya memohon, boleh ya saya
antar?”
Aisyah memandangiku sebentar dan segera bangkit dari
tempat duduknya sembari sejenak merapikan baju dan jilbabnya.
“Maaf lo mas, jadi merepotkan” jawab Aisyah sambil
tersenyum menatapku.
“Kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu nih ?”
candaku sesaat setelah mobil keluar dari area parkir.
“Hehehe…., memang mas mau ngajak Aisyah
kemana” Jawab Aisyah sambil tersenyum memandangku.
“Aku mau membawamu ke negeri diatas awan” candaku dan
Aisyah pun tergelak.
“Kayak lagunya Katon Bagaskara, ketahuan nih kalau mas
seumuran dengannya?” canda Aisyah dan tawa kamipun pecah kembali.
Tak terasa kost Aisyah sudah didepan, ada tulisan
yang cukup menyolok Kost Tiga Dara diatas pintu utama, mungkin
penghuninya ada tiga batinku sambil membuka pintu mobil dan mempersilakan
Aisyah keluar. Timbul perasaan tidak ingin melepaskan Aisyah dan berusaha
menahannya lebih lama, tapi segera kubuang jauh-jauh keinginan itu. Aisyah juga
terasa enggan untuk segera berlalu meninggalkanku, dari tatapan matanya seakan
memintaku tinggal lebih lama lagi untuk bersenda gurau.
“Terimakasih ya mas sudah mengantar Aisyah” ucap
Aisyah dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Yuk mampir dulu sebentar?” lanjutnya dengan pandangan
tajam menatapku, memberikan isyarat kalau ia serius dengan tawarannya.
Ingin rasanya memenuhi tawarannya, tapi egoku yang
memaksaku untuk segera pergi,
“Terimakasih, saya langsung saja ya”
“Asalamu’alaikum” lanjutku sambil menjauh dari Aisyah
dan masuk ke dalam mobil.
Kuhidupkan mesin mobilku dan aku sempatkan menatap
Aisyah yang masih berdiri dengan senyum manis tersungging dibibirnya. Indah
kurasakan perjumpaan ku dengan Aisyah kali ini tapi sekaligus juga sedih karena
akhirnya harus kuakhiri pertemuan ini dan ada perasaan takut kalau aku tidak
punya kesempatan lagi untuk dapat bertemu dengannya.
CHAPTER 4
Sudah lebih dari seminggu sejak aku bertemu dengan
Aisyah, dan senandung lagu indah selalu memenuhi hatiku memuji kecantikan
Aisyah. Sayang saat itu aku tidak sempat menanyakan nomor handphone-nya,
andaikan saja kemarin aku tidak terlalu egois untuk meminta nomornya, atau
berjanji untuk mengunjunginya, atau membuat janji untuk bertemu disuatu tempat,
mungkin semuanya akan berbeda. Sekarang tinggal penyesalan dan perasaan rindu
yang semakin menyiksaku. Disaat libur seperti hari ini perasaan itu menyandera
seluruh waktuku, membayangkan wajahnya yang cantik, kesopanan dan kehangatannya
dan terutama senyum manisnya yang membuat aku jatuh hati padanya. Tetapi apakah
Aisyah juga mempunyai perasaan yang sama denganku, jangan-jangan Aisyah hanya
menganggapku tak lebih dari sahabat? Mengapa juga Aisyah tidak berusaha
menghubungiku atau sekedar menanyakan kabar kalau ia memang
menganggapku lebih dari teman biasa, dia kan punya nomor ponselku. Aneh mengapa
tiba-tiba keraguan menghampiri pikiranku. Aku menjadi khawatir kalau kebaikan
yang ditunjukkan Aisyah adalah bentuk dari keramah tamahan yang ditunjukkan
kepada setiap orang, apalagi kepada seseorang yang telah berjasa seperti
aku yang mau menjadi pembicara pada seminar yang digagasnya. Tak terasa
keringat dingin membasahi tubuhku, kegelisahan menyusup dengan cepat ke
jantungku, sia-sia aku berusaha menepis bayang-bayang kegalauan yang mulai
menguasai akal sehatku. Apalagi kalau mengingat usiaku yang terpaut jauh
dibanding usia Aisyah, yang lebih pantas menjadi keponakanku. Pikiranku kembali
melayang membayangkan saat Aisyah menyapaku dengan halus di kantin kampus,
gelak canda saat dimobil dan sorot matanya yang penuh harap saat aku
berpamitan, apabila itu hanya akan menjadi kenangan akan kujaga dengan segenap
hati dan akan selalu tersimpan rapat-rapat dalam hatiku.
Waktu terus berlalu dan sudah hampir dua minggu
kegelisahan benar-benar menderaku. Kuraih ponselku yang dari tadi
berdering, ada beberapa panggilan masuk dan pesan WhatsUp yang belum
aku kenal nomornya. Segera aku buka dan dari kalimatnya aku mengenali
kalau itu dari Sheila yang memohon untuk bisa bertemu di sebuah cafe
di suatu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini, ada sesuatu hal penting yang
ingin disampaikan, pasti tentang Aisyah, batinku.
Ku susuri pedestrian di jalan Pemuda, Malam minggu
begini tempat parkir didalam Mall sudah penuh dan aku harus memarkir agak jauh
diluar. Gerimis sisa hujan yang sejak tadi sore mengguyur masih menyisakan
butiran-butiran lembut yang membasahiku, dari sorot lampu yang menerangi jalan
nampak jelas guratan gerimis bagai garis-garis tipis berjajar rapi menghunjam
bumi. Sebetulnya aku selalu menyiapkan payung dan jaket dalam mobil, tetapi aku
tadi malas mengenakannya dan sekarang aku harus menanggung akibatnya.
Kurapatkan baju dengan kedua tanganku untuk menghalau hawa dingin dan beberapa
kali kukibas-kibaskan rambutku untuk menghempaskan air hujan yang mulai
membasahi kepalaku. Kupercepat jalanku agar segera sampai ketujuan dan
terbebas dari gerimis hujan, nampak beberapa muda-mudi saling memadu kasih
disepanjang pinggir jalan seakan tak peduli dengan gerimis dan dinginnya malam.
Aku menjadi sangat ingin mendengar cerita dari Sheila, karena sudah dua
minggu semenjak perjumpaanku dengan Aisyah sampai sekarang kami belum ada
komunikasi lagi. Kafe yang menjadi favorit anak muda ini memang terkenal dengan
beberapa varian kopinya, disamping itu juga menawarkan suasana yang rilek yang
sangat cocok untuk melepas kepenatan. Kuedarkan pandanganku sesampainya di
tempat yang berada dilantai dua ini, belum kulihat Sheila disana dan aku segera
mencari tempat duduk yang nyaman. Pelayan segera menghampiriku dan memberikan
buku menu padaku, Aku tidak perlu membuka dan mencermati satu-persatu karena
aku tahu menu unggulan yang tidak ada duanya disini, yaitu Flavour
Cappuccino kali ini aku pesan yang panas. Sedangkan untuk cemilan aku
memesan Fried Potatoes. Selang beberapa saat kemudian Sheila dengan
sweater abu-abu mengedarkan pandangan sebentar dan bergegas menuju kearahku.
Seperti biasa senyum nakal dan tingkahnya yang kekanak-kanakan membuat gemes
siapapun yang melihatnya. Syukurnya aku sudah tahu walau Sheila bertingkah
seperti itu tapi sebenarnya hatinya baik, hangat dan ramah. Setelah memesan
makanan dan minuman kepada pelayan yang sejak tadi mengikutinya Sheila segera
menyapaku,
“Mas Yudha sudah lama ya menunggu Sheila” ucapnya
sambil membetulkan posisi duduknya dan menggeser sedikit kursinya kebelakang.
“Maaf ya kalau Sheila terlambat” lanjutnya.
“Santai aja, aku juga baru datang koq” sahutku sambil
kutunjukkan rambut dan bahuku yang masih basah.
“Pesananku aja juga belum datang” lanjutku disambut
tawa kami berdua.
Seperti biasa Kafe ini selalu penuh dengan pengunjung
yang memang menjadi jujukan mereka yang ingin suasana santai tapi
berkelas. Tak lama kemudian pelayan datang dengan pesanan-pesanan
kami, Sheila memesan Ice Expresso Shake dan Prawn
Platter. Sejenak kami menikmati minuman masing-masing dan makanan
ringan yang sudah terhidang. Sheila nampak ragu untuk memulai percakapan dan
tangannya sibuk mengoleskan udang dengan saus yang dihidangkan
dalam piring kecil. Kuperhatikan Sheila beberapa saat sebelum kucoba memulai
pembicaraan,
“Sheila…..aku siap dengan apa yang ingin kamu
sampaikan” kataku dengan hati-hati.
“Apakah ini tentang Aisyah” lanjutku.
Sheila tersenyum memandangku dan sejurus kemudian
menundukkan kepalanya,
“Mas, sekali lagi Sheila mohon maaf ya sudah
mengganggu waktu mas Yudha”
Sejenak Sheila menghentikan perkataanya seakan
menunggu persetujuanku. Aku menganggukkan kepala sembari memberi isyarat agar
Sheila melanjutkan ucapannya, karena jujur hatiku juga sudah tidak sabar dengan
berita yang ingin disampaikan Sheila.
“Sebenarnya ini semua inisiatif saya
dan teman-teman kost karena kami semua tidak tega melihat kondisi
Aisyah beberapa hari ini”.
Deg! kurasakan ada sebongkah batu besar yang menabrak
dadaku, terasa sesak dan perih. Ada apa dengan Aisyah? bagaimana kondisinya
saat ini? tanyaku dalam hati dan aku yakin kalau aku tak bisa menyembunyikan
kepanikanku. Sheila menatapku sekejap dan melanjutkan pembicaraanya.
“Awalnya kami mengira Aisyah kena sakit flu atau demam
biasa karena berhari-hari tidak mau keluar kamar dan sudah beberapa kali
kutawarkan untuk kuantar ke dokter tapi selalu ditolaknya, akhirnya setelah
kudesak Aisyah mau menceritakan sejujurnya kepadaku” Sheila menghela nafas
sebentar, kulihat ada gurat kesedihan dalam wajahnya.
“Aisyah kenapa Sheila, apakah perlu saya jemput untuk
dibawa kedokter” sahutku cepat dengan penuh nada kekawatiran.
Sheila masih menunduk seakan tidak ada reaksi terhadap
kecemasanku.
“Aisyah memang selalu menjadi primadona semenjak awal
kuliah, selain cantik Aisyah juga mahir dan memukau dalam segala bidang, juga
pandai dalam hampir semua mata kuliah, tak heran kalau banyak pria yang ingin
mendekatinya”.
Aku membayangkan wajah Aisyah yang memang sungguh
mempesonaku sejak pertama kali bertemu, seperti perpaduan antara kecantikan
gadis Turki dan Jawa.
Sheila melanjutkan perkataanya, “Tapi tidak satupun
dari pria-pria tersebut yang beruntung, dan bahkan sampai saat ini diantara
penghuni kost hanya Aisyah yang belum punya kekasih, dan Aisyah memang
sangat tertutup kalau diajak berbicara masalah itu”
Sheila sejenak menghentikan perkataanya dan menyeruput
Ice Expresso yang ada didepannya.
“Sampai suatu saat, kira-kira sebulan yang lalu dengan
semangat Aisyah menceritakan tentang seorang motivator muda, dia ingin
mengundang motivator tersebut sebagai pembicara sekaligus ingin berkenalan”
lanjut Sheila sambil memandangku untuk meyakinkan aku bahwa aku sudah paham
siapa yang dimaksud.
Aku merasakan perasaan yang campur aduk dalam hatiku
diantara perasaan senang dan sedih. Aku berusaha tersenyum membalas tatapan
Sheila, tapi terasa hambar dan kering.
Sheila segera melanjutkan penjelasannya, “Saat aku
tahu bahwa mas Yudha juga menyukai Aisyah, aku senang dan lega karena aku tidak
butuh usaha yang banyak untuk menyatukan kalian berdua, dan kamipun menjadi
yakin kalau semua akan berjalan dengan lancar dan akan baik-baik saja”,
Terjawab sudah kecurigaanku selama ini sama Sheila dan
Amel, sejak bertemu mereka, aku memang merasa digiring untuk bisa dekat dengan
Aisyah dan mereka telah sukses menjalankan misinya bahkan tanpa usaha apapun.
Sheila menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan,
“Ternyata dugaanku keliru, Aisyah berterus terang kepadaku kalau ragu
untuk mengejar cintanya dengan mas Yudha, dia mengatakan sedang menghadapi
masalah yang cukup berat yang tidak ada seorangpun yang tahu, bahkan Aisyah
mengatakan tidak mau melibatkan mas Yudha dalam masalahnya, Ia merasa tidak
pantas diperjuangkan oleh Mas Yudha, ia akan menyeleseikan masalahnya sendiri
dan setelah itu baru akan mengejar cintanya kembali”.
Sheila menghentikan ceritanya, sesaat menjadi hening
karena Sheila beberapa kali menghela nafasnya dan berusaha menahan airmatanya.
“Maaf, kalau aku jadi sedih dengan kondisi yang
dialami Aisyah, dan kami semua bersumpah akan membantu Aisyah
keluar dari permasalahannya dan segera mendapatkan kebahagiaannya kembali”
ujar Sheila sambil mengelap kedua matanya yang mulai sembab.
Aku berusaha keras untuk menahan airmataku, aku
alihkan pandanganku ke langit-langit kafe ini, ingin rasanya kubuang kesedihan
hatiku saat ini kesana. Mungkin aku jauh lebih sedih dari pada yang
dirasakan Sheila, Sheila yang periang, yang terlihat nakal ternyata punya perasaan
halus dan mulia seperti dugaanku.
Setelah beberapa saat kami terdiam, aku beranikan diri
untuk bertanya dengan hati-hati,
“Sheila, apakah Aisyah juga menceritakan apa
permasalahannya?”.
Sheila menggelengkan kepalanya, “Aisyah hanya
bercerita kalau sudah lama sebetulnya permasalahan ini ditanggungnya, tapi
Aisyah tidak mau menceritakan apa permasalahan yang sedang dihadapinya walau
saya desak berulangkali, tapi kami yakin hanya Mas Yudha yang bisa membuatnya
terbuka”
“Kami sangat berharap mas Yudha mau segera menemui
Aisyah”.
Hatiku merintih sedih ikut merasakan derita yang
dialami Aisyah, ternyata dibalik senyum manisnya tersimpan kesedihan yang
ditanggungnya sendiri tanpa pernah mengeluhkannya kepada orang lain. Sheila
berusaha tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya,
“Oh ya… sudah menjadi tradisi kami sesama
penghuni kost bahwa kami akan mengadakan syukuran kecil-kecilan atas
keberhasilan Aisyah dalam ujian skripsi kemarin, dan kami berharap
mas Yudha bisa ikut menghadirinya, karena inilah kesempatan mas Yudha untuk
meyakinkan kesungguhan cinta mas Yudha ke Aisyah”.
Aku masih bimbang dengan saran Sheila
barusan, aku khawatir dengan kehadiranku malah akan merusak suasana,
“Apakah Aisyah tidak keberatan dengan kehadiranku?
Tanyaku ragu-ragu.
Sheila tersenyum manis seakan sudah hilang kesedihan
yang tadi menderanya,
“Mengapa mas Yudha masih ragu? Kami aja yakin kalau sebenarnya Aisyah sangat mengharapkan mas Yudha, percayalah pada takdir mas” jawab Sheila meyakinkanku.
Berlanjut.......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar