Jumat, 22 April 2022

 

CINTAKU PADA SUATU MASA (I)



PROLOG

Dengan menahan rasa pusing yang luar biasa, aku berusaha mencari tahu mengapa aku berada di rumah sakit, Samar-samar aku bisa mengenali wajah ibuku yang berusaha tersenyum menyambutku, menatapku dengan penuh kasih sayang dan kedua tangannya menggenggam erat tangan kananku. Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan, sepertinya begitu banyak orang disekelilingku, tapi sangat susah untuk mengenali satu persatu dan hanya sayup-sayup terdengar percakapan mereka, sepertinya mereka mengatakan sesuatu atau menyapaku tetapi tidak bisa kutangkap dengan baik, mungkin teman kantor atau saudara-saudaraku yang datang dari jauh. Saat pandanganku kualihkan kesebelah kiri, mataku menangkap sosok yang sangat aku kenal, Aisyah tepat di samping tempat tidurku menangis terisak-isak sambil sesekali kedua tangannya menutupi wajahnya, diapit Papa dan Mamanya yang terus berusaha menenangkannya, tapi tatkala aku berusaha meyakinkan pandanganku, mereka sudah menghilang. Aku belum memahami apa yang terjadi denganku, kepalaku terasa berdenyut-denyut dan kurasakan sakit luar biasa, perutku terasa mual sekali dan setelah aku muntah-muntah untuk kesekian kalinya aku tidak sadarkan diri lagi…

Aku terjaga dari tidurku pagi itu dengan kehangatan sinar mentari pagi yang menerobos lewat kisi-kisi jendela. Aku masih terbaring lemah di tempat tidur dengan tangan dan kaki terbalut perban disana-sini begitu juga di bagian kepala. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengingat-ingat lagi tentang kecelakaan di jalan tol yang amat dahsyat itu. Hal yang sedikit membuatku nyaman adalah kehadiran ibukku yang selalu menyambutku dengan senyum dibibirnya walau jelas masih terlihat sisa-sisa kesedihan yang tidak bisa disembunyikan. Tiba-tiba kepalaku mulai terasa berat dan pusing, perutku juga terasa sangat mual, tangan dan kakiku terasa nyeri dan semakin lama semakin sakit luar biasa. Aku merintih dalam dekapan ibuku dan mengiba dipanggilkan perawat untuk menghilangkan rasa sakitku. Sejenak ibukku tampak mengusap air mata yang hampir jatuh dari pipinya sebelum beringsut meninggalkanku, sesaat kemudian nampak dua perawat yang masih muda masuk ke ruangan dan berbisik kepada ibuku, entah apa yang diucapkan. Salah satu dari mereka menyapaku dengan senyum ramah dan menyuntikkan sesuatu ke botol infusku, samar-samar aku melihat perawat yang lain memeriksa perban yang ada di kakiku, aku hendak menanyakan beberapa hal kepada kedua perawat tersebut, tapi efek obat bius yang baru disuntikkan membuatku  tak sadarkan diri lagi.

 

 CHAPTER 1

Kusempatkan sejenak untuk membaca beberapa email yang masuk di laptopku pagi itu sebelum beranjak memenuhi undangan meeting, salah satunya email dari Amel mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri dikota ini yang memintaku untuk menjadi pembicara pada sebuah seminar. Aku ragu untuk segera menjawabnya karena pada tanggal yang dimaksud sebetulnya aku sudah berencana mengambil cuti beberapa hari untuk menengok orangtuaku di desa dan sekaligus melepas kepenatan dengan menghabiskan akhir pekan disana. Aku tinggalkan dahulu email itu dan segera kumatikan laptop karena aku sudah ditunggu oleh peserta meeting yang lain. Beberapa panggilan masuk di handphoneku tidak kuhiraukan karena meeting kali ini cukup penting dan aku sangat dibutuhkan untuk ikut merumuskan proyek beserta besaran dana yang dibutuhkan sebelum diajukan ke Direktur. Untuk kesekian kali nomor itu muncul dilayar telephone genggamku, dengan setengah hati akhirnya kujawab juga dengan agak berbisik,

“Assalamu’alaikum, maaf dengan siapa ya”

“Wa’alaikum salam maaf mengganggu waktu bapak, saya Amel mahasiswi yang tadi kirim email ke bapak”. Terdengar suara yang lincah khas anak muda, aku baru akan menjawab saat anak muda tersebut meneruskan pembicaraannya,

“Apakah kami boleh ke kantor bapak untuk menjelaskan agenda seminar seperti yang sudah kami emailkan ke bapak, kalau boleh mohon bapak bisa menentukan waktunya ”

Sejenak aku mengingat agendaku besok dan segera aku memberi jawaban singkat,

“Silakan datang besok jam sembilan pagi ya”

Terdengar ucapan terimakasih disusul ucapan syukur dari temannya yang sayup-sayup terdengar dibelakangnya.

Esok harinya, mereka bertiga sudah menunggu di lobi bawah saat aku keluar dari lift, senyum sopan mengembang dari ketiga tamuku dan serempak mereka beranjak dari duduknya untuk berdiri menyambutku dan memperkenalkan diri masing-masing. Dimulai dari yang kemarin menelphoneku, Amel, ternyata dia adalah ketua panitia penyelenggara seminar. Sedangkan yang tengah, Sheila menjabat sebagai sekretaris dan satunya yang paling pojok memperkenalkan namanya Aisyah sebagai bendahara dan saat tatapan matanya beradu denganku terasa jantungku berdesir, dan aku tidak bisa konsentrasi untuk beberapa saat. Aku merasa tidak asing dengan wajah dan senyumnya itu, tapi dimana, ah aku segera menyingkirkan pikiran nakalku itu. Aku segera kembali konsentrasi dengan penjelasan Amel bahwa seminar ini akan dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi dan alumni dari berbagai  perguruan tinggi di kota ini bahkan juga dari luar kota, tujuannya agar para mahasiswa dan sarjana punya pemahaman dan strategi yang dapat dijadikan bekal dalam memasuki dunia kerja. Aku beberapa kali mengajukan pertanyaan dan memberikan saran, Sheila dengan sigap mencatat kalimat-kalimat yang aku ucapkan dan beberapa kali juga mengajukan pertanyaan. Sesekali kuedarkan pandanganku ke Aisyah yang sejak tadi diam dan setiap kali juga wajahnya menunduk demi melihat aku menatapnya. Akhirnya mereka berpamitan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Aku termenung untuk beberapa saat dan sekali lagi mencoba mengingat-ingat kapan aku pernah bertemu atau setidaknya pernah melihat wajahnya, dan senyuman itu sepertinya lekat dalam pikiranku.

 

CHAPTER 2

Hari ini aku bangun lebih awal karena harus mempersiapkan materi seminar seperti permintaan Amel. Selepas sholat subuh kusempatkan membuka laptop karena masih ada beberapa perbaikan materi, aku sisipkan juga beberapa potongan video yang menarik, agar lebih menggugah suasana sekaligus sebagai ice breaking atau energizing agar peserta tidak jenuh. Setelah yakin semuanya sudah siap, aku berangkat menuju tempat seminar yang akan berlangsung disebuah hotel  bintang lima yang tidak jauh dari kampus tempat kuliah Amel dan kawan-kawannya. Suasana masih sepi saat aku tiba ditempat dan kursi peserta yang dibalut satin putih masih kosong melompong. Ada spanduk selamat datang persis disamping kanan kiri pintu masuk dan backdrop berukuran besar tepat didepan audience diapit oleh dua layar screen yang cukup lebar, terpampang tema seminar disertakan juga fotoku yang cukup gagah, seingatku foto tersebut pernah aku jadikan profile di akun sosial mediaku, sungguh kreatif anak muda jaman sekarang, batinku. Aku bersyukur karena masih ada waktu yang cukup longgar untuk mencoba tampilan gambar dalam layar screen dan juga menjajal audio dengan dibantu oleh petugas hotel yang cukup terampil menjalankan tugasnya. Tanpa butuh waktu lama semuanya sudah siap dan pesertapun satu demi satu mulai memasuki ruangan. Amel nampak sudah berdiri didepanku bersama Sheila menyapaku dan mengucapkan terimakasih atas kedatanganku juga menyampaikan beberapa hal terkait dengan agenda seminar hari itu serta memperkenalkan Sarita yang akan memandu seminar. Aku masih berharap Aisyah akan terlihat sebelum acara dimulai tapi aku mulai menyadari bahwa harapanku untuk melihat wajah dan senyumnya sia-sia karena Sarita sudah memberikan aba-aba untuk segera membuka acara. Segera aku buang jauh-jauh perasaan itu dan aku harus fokus pada seminar ini.

Seminar berjalan lancar dan selesai persis jam dua belas siang sesuai dengan rencana. Pesertapun terlihat puas dan antusias dengan seminar yang kubawakan, terbukti setelah acara seminar ditutup oleh pembawa acara secara spontan seluruh peserta memberikan standing applause bergemuruh seakan tiada hentinya. Sekejap kemudian satu demi satu peserta memberikan ucapan terimakasih, beberapa diantaranya meminta kesediaaku untuk berfoto bersama. Setelah selesai membereskan laptop dan peralatan lainnya, Amel menghampiriku  sambil bertepuk tangan kecil, didampingi Sheila dan beberapa mahasiswa lainnya yang belum aku kenal. Amel menjabat tanganku dengan erat diikuti ucapkan terimakasih dan diikuti oleh Sheila dan juga yang lain. Setelah berbasa-basi sebentar Amel mengajakku  makan siang bersama di restauran yang berada di lantai bawah. Selama menuruni tangga menuju restautan, Amel banyak memberikan pujian terhadap penampilanku dan berharap suatu saat nanti bisa mengundangku kembali. Restauran ini cukup indah dengan penataan ruangan yang sangat profesional sehingga memberi kesan mewah, menu yang disajikanpun cukup lengkap mulai dari traditional food, Chinese food sampai western food semuanya tersaji dengan apik mengelilingi setengah ruangan. Sambil bercanda kami menikmati hidangan demi hidangan yang memang enak. Setelah selesai makan siang, Amel dan Sheila berpamitan hendak mengambilkan sesuatu dan memintaku untuk menunggu sebentar, ada hal penting yang akan disampaikan katanya. Pikiranku masih dipenuhi tanda tanya mengapa Aisyah tidak menampakkan batang hidungnya, bukankah kemarin mereka bertiga yang kekantorku. Tak lama kemudian Amel dan Sheila sudah nampak  lagi dan tersenyum kepadaku.

“Maaf ya bapak harus menunggu kami agak lama” sapa Amel dengan map di tangannya.

”Ehm jangan panggil bapak ah, kesannya seperti sudah tua banget”, selorohku sambil tersenyum kecil.

“Eh iya sebetulnya kita juga mau panggil mas atau kakak tadi, tapi kayaknya gak menghormati banget” sambut Sheila sambil tertawa cekikikan.

“Mohon bapak eh…kak eh… mas Yudha… mohon mas Yudha dapat menerima ini walau tidak seberapa” lanjut Amel tersipu malu sambil menyodorkan map yang berisi amplop .

Aku tersenyum juga mendengar Amel sedikit gelagapan, tanganku segera mencegah map yang disodorkan kepadaku tersebut serta mendorongnya kembali ke depan Amel.

“Terimakasih ya Amel dan Sheila tapi aku tidak bisa menerima pemberian kalian, aku sudah senang bisa membantu kalian yang pastinya kalian sudah bersusah payah untuk menyiapkan penyelenggaraan seminar ini, silakan dana ini dipakai untuk keperluan yang lain saja”

Amel tampak kebingungan dan sekali lagi berusaha menyerahkan map tersebut kepadaku, tapi akhirnya menyerah karena aku bersikukuh tidak mau menerimanya.

“Baik kalau mas Yudha memang ikhlas mau menyumbangkan honor ke kami, saya mewakili seluruh panitia sekali lagi mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya dan semoga mas Yudha selalu dalam keberkahanNya serta tidak kapok kalau suatu saat nanti kita minta lagi untuk menjadi pembicara”

Tawa kecil Amel diikuti Sheila pecah demi melihat gerakan tangan dan gelengan kepalaku yang menirukan gaya orang India.

Aku baru mau bertanya tentang Aisyah saat Sheila tiba-tiba menyela,

“Oh ya mas Yudha dapat salam dari Aisyah yang kemarin ikut kekantor mas yudha”

Sejenak mereka tampak saling memandang dan hampir berbarengan melirikku, dan akupun jadi tersipu malu. Aku berusaha menyembunyikan raut wajahku yang tiba-tiba menegang demi mendengar nama Aisyah.

“Mas Yudha, Aisyah sedang ujian skripsi pagi ini, doakan semoga sukses ya” sahut Amel.

“Oh ya” jawabku singkat menahan gelora dalam hatiku dan aku berharap mereka tidak melihat kegugupan yang tiba-tiba menyergapku.

“Dan… mohon maaf kalau kami buru-buru harus segera kekampus menemui Aisyah untuk memberikan dukungan” sahut Sheila dengan senyum nakalnya.

“Bagaimana kalau aku antar kalian kekampus, semoga aku juga bisa bertemu dan memberi dukungan ke Aisyah”, sahutku seketika yang membuat Amel dan Sheila terlihat kaget menatapku.

“Beneran nih”, sahut Sheila sambil tersenyum dan melirikku dengan nakal.

“Makasih ya mas Yudha sudah sudi mau mengantar kami”, timpal Amel sambil melirik Sheila dan serempak mereka berdua tersenyum.

Aku merasa seperti ditelanjangi mereka berdua, apakah mereka tahu yang sebenarnya sedang terjadi dalam hatiku. Ah biarlah asal hari ini aku diberi kesempatan untuk dapat melihat senyum manis Aisyah.

“Kalau begitu kita langsung berangkat yuk” lanjut Amel sambil berdiri dan menarik tangan Sheila.

Selama perjalanan kekampus, Amel banyak bercerita tentang seminar tadi, dimana sebetulnya Aisyah yang menggagas temanya, termasuk yang memilih siapa yang akan jadi pembicaranya. Tapi sayang Aisyah yang sedianya akan menjadi pembawa acara harus diganti dengan yang lain karena hari ini Aisyah tiba-tiba harus maju ujian skripsi, karena sesuatu hal bapak dosen penguji memajukan jadwal ujian skripsinya. Hatiku jadi sedikit terhibur mendengar penjelasan Amel tapi sekaligus penasaran, darimana Aisyah tahu tentang aku? mengapa Aisyah menawarkan aku sebagai pengisi seminar? sedikit curious seklaigus ge er juga sih. Aku mau menanyakan hal tersebut ke Amel tapi urung kuutarakan karena Amel sepertinya sedang sibuk membalas beberapa pesan dalam ponselnya. Sheila yang duduk disampingku setengah berbisik mengatakan sesuatu kepadaku

“Mas… Aisyah itu sering bercerita tentang mas Yudha lho, makanya dia sangat kecewa tidak bisa mengikuti seminar kali ini”.

Aku tertawa kecil demi mendengar celotehan Sheila, tapi jauh didalam lubuk hatiku kurasakan hatiku berdesir lagi dan kali ini bahkan lebih kencang, ada kerinduan yang tiba-tiba menyeruak dalam diriku, perasaan yang selama ini kututup rapat-rapat jauh dalam hatiku, entah kapan terakhir kali aku merasakan kerinduan seperti ini dalam hatiku terhadap kehadiran seorang kekasih.

“Langsung menuju ke Fakultas Ekonomi ya, letaknya diujung itu” teriak Amel dari belakang menyadarkanku dari lamunan. Aku mengikuti arahan Amel menyusuri jalan boulevard yang sangat lebar menuju fakultas Ekonomi  yang ternyata  letaknya cukup jauh dari pintu gerbang.

 

CHAPTER 3

Kampus ini dulunya berada ditengah kota dan akhirnya harus pindah lokasi pinggiran karena butuh lahan yang lebih luas untuk pengembangan. Tempatnya yang sangat luas dan dipenuhi dengan pepohonan yang rindang membuat kampus ini terlihat sangat teduh dan terasa nyaman sebagai tempat perkuliahan. Sepanjang jalan boulevard, dikanan-kiri dipenuhi pepohonan berjajar sambung-menyambung membuat suasana menjadi sangat rindang, bunga dahlia dengan berbagai warna ditanam disepanjang trotoar sebagai pembatas jalan semakin menambah indahnya mata memandang. Deretan gedung-gedung perkuliahan yang berdiri kokoh sungguh sangat apik penataannya, tidak lupa beberapa taman yang cukup luas dilengkapi dengan kolam ikan dan tempat-tempat duduk mengisi ruang kosong dan menjadi pembatas antara fakultas satu dengan lainnya. Mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang dengan mobil dan motor tiada hentinya bahkan ada juga yang berjalan kaki dengan santai sambil bersenda gurau menikmati perjalanan menuju tempat kuliahnya. Gedung Fakultas Ekonomi terlihat paling menonjol sendiri, menjulang tinggi dan terlihat angkuh diantara gedung-gedung yang lain. Amel memberitahukan kalau jumlah mahasiswa Ekonomi hampir separuhnya sendiri, karena memang fakultas ekonomi paling favorit dikampus ini, kalau tidak salah menteri ekonomi sekarang ini juga merupakan lulusan terbaik dari fakultas sini. Nampak security memberikan aba-aba kepadaku untuk berhenti karena ada pemeriksaan rutin setiap mobil mau memasuki kawasan parkir.

“Sebaiknya mas Yudha menunggu di kantin ya letaknya di lantai dasar, biar aku dan Sheila yang menemui Aisyah diruang ujian” usul Amel setelah aku mendapatkan tempat parkir yang cukup sesak itu.

Sebelum turun Sheila mengedipkan mata seakan memberi tanda sesuatu kepadaku sambil tertawa kecil meninggalkanku. Aku tidak begitu paham apa maksudnya, mungkinkah Aisyah mengatakan sesuatu ke Sheila karena sepertinya Sheila adalah teman dekat Aisyah. Aku geli sendiri dengan tingkah nakal Sheila, tapi jujur karena tingkah Sheila yang apa adanya itu yang membuatku jadi tambah percaya diri  untuk melangkahkan kaki ke kampus ini. Kurasakan lagi desiran halus dalam jantungku dan benih-benih kerinduan mulai mengalir lembut dalam hatiku, anganku mulai dipenuhi oleh pesona gadis itu yang tak dapat lagi kucegah. Apakah aku sanggup untuk menerima kenyataan apabila Aisyah ternyata sudah punya seseorang kekasih, mengapa aku terlalu percaya diri. Aku memaki diriku sendiri, menyesali diriku yang membiarkan terbakar oleh asmara hanya karena pandangan pertama.  Aku jadi ingat kalau belum sholat Dzuhur, sebaiknya ku buang jauh-jauh pikiranku yang tidak berdasar ini dan segera aku ambil air wudhu untuk menunaikan sholat dan menyerahkan semuanya kepadaNya.

Tidak sulit untuk menemukan kantin yang dimaksud Amel, letaknya terbuka ditengah-tengah aula yang luas dan dikelilingi oleh ruangan-ruangan tempat perkuliahan dan bersebelahan dengan ruang perpustakaan. Meja dan kursi makan tertata rapi ditengah dikelilingi oleh berbagai penjual minuman dan makanan. Semua gerai dibuat sama dan sejajar sehingga tampak rapi dan indah, menu makanan tertempel ditiap gerai dan pemesanan akan diantar setelah melakukan pembayaran dikasir. Aku memesan Caramel Machiato Latte dan memilih tempat duduk diujung agar tidak terlalu terganggu oleh bisingnya mahasiswa-mahasiswi yang sedang nongkrong di kantin.

Sejenak setelah pesananku datang, nampak Amel dan Sheila setengah berlari menuju kearahku, sepertinya mereka punya radar untuk memantau keberadaanku karena di antara penuh sesak mahasiswa yang memenuhi kantin, sepertinya tidak ada kesulitan bagi mereka untuk menemukanku.

 “Mas Yudha tidak pesan makan sekalian” Tanya Amel berbasa-basi.

“Dah minum aja…. “ jawabku sambil tersenyum menyambut mereka berdua.

“Eh, anda berdua pesan geh, nanti saya yang traktir”

“Yuk duduk dulu dong, masak berdiri terus disitu” tambahku sambil menggeser kursi yang dekat dengan ku agar sedikit menjauh dari meja.

“Ehm gini mas” kata Sheila sambil menoleh kearah Amel seakan meminta persetujuan.

“Jadi gini mas Yudha, baru saja Aisyah memasuki ruangan untuk mengikuti ujian pendadaran, tadi sebelum maju ujian saya sempat ngobrol sebentar dan memberi semangat, juga sudah saya sampaikan kalau mas Yudha yang mengantar kami kekampus” lanjut Sheila.

“Tapi mohon maaf, saya dan Sheila tidak bisa menemani mas Yudha, karena kami sudah ditunggu teman-teman di hotel tempat seminar tadi untuk pembubaran panitia dan penyelesaian administrasi dengan pihak hotel” Timpal Amel seakan terburu-buru dan tidak memberiku kesempatan menjawab.

“Oke, kalau begitu saya antar anda berdua ya”jawabku sambil berdiri dan tak lupa menyeruput kopi yang baru saja dihidangkan oleh pelayan.

“Eh…. Jangan mas, kami akan berangkat dengan teman-teman yang lain, sebaiknya mas Yudha nikmati dulu nanti malah capek lho kalau harus bolak-balik mengantar kami”, cegah Amel

“Aku dah ngomong sama Aisyah kalau mas Yudha ada di kantin, please tunggu ya” imbuh Sheila setengan berbisik sambil tersenyum nakal.

Belum sempat aku merespon ucapan Sheila, mereka berdua sudah mohon diri dan setengah berlari menghilang dari pandanganku. Aku seruput lagi kopi yang ada didepanku dan aku mulai mengkhayal lagi, membayangkan indahnya suatu saat nanti bersama Aisyah, mendamba gadis cantik itu dapat mengisi ruang hatiku yang masih kosong yang sampai saat ini belum juga kutemukan pengisinya. Kulirik jam tanganku yang mengabarkanku kalau sudah lebih dari satu jam aku duduk sendiri bersama khayalanku. Keraguan kembali menderaku, dan didalam hatiku mulai menyangsikan kalau Aisyah akan menemuiku di kantin. pikiranku kembali terombang-ambing antara khayalan dan kenyataan. Caramel Machiato Latte ku juga hampir habis dan aku sudah bulat bergegas mau meninggalkan kantin tatkala dengan tiba-tiba Aisyah sudah berdiri tepat didepanku dengan senyum manisnya. Bibirku mendadak kelu untuk sekedar mengucapkan namanya dan aku masih belum yakin kalau ini bukan mimpi.

“Bapak…..” sapa Aisyah dengan lembut sambil mengulurkan tangannya.

Kali ini dengan jelas aku bisa melihat wajah dan senyumnya, kupandangi sosok wanita yang sudah sanggup membuat jantungku berdegup kencang belakangan ini dan sekarang tegak berdiri persis dihadapanku.

“Hai Aisyah” sapaku agak parau karena luapan kegembiraan dalam hatiku sambil kusodorkan tanganku dan kujabat erat tangan halusnya dengan sopan.

“Alhamdulillah bapak masih ada disini, maaf ya bapak kalau harus menunggu lama, Amel dan Sheila tadi yang kasih kabar kalau bapak menunggu Aisyah di kantin ini”

Aku menjadi tambah salah tingkah demi menyadari kalau Aisyah mengetahui aku menungguinya di kantin. Aisyah mengambil kursi dan duduk tepat dihadapanku, tidak seperti kesan pertama yang aku tangkap saat pertama kali bertemu dikantorku kala itu, kali ini Aisyah terlihat energik dan penuh percaya diri.

“Aku... aku mendengar kalau Aisyah sedang ujian skripsi ...... jadi secara reflek aku menawarkan tumpangan kepada Amel dan Sheila untuk bersama-sama ke kampus ini sekaligus memberi support” jawabku tergopoh-gopoh sambil sekuat tenaga melawan kegugupanku. Sumpah, belum pernah aku jadi sekikuk ini ditambah perasaan yang campur aduk disertai degup jantung yang seakan mau copot dari dadaku.

“Waduh terimakasih sekali bapak, sampai repot-repot kesini, Aisyah jadi tersanjung”

Sekilas mata kami beradu dan aku berusaha mengalihkan perhatian, tatapan Aisyah yang tajam langsung menghunjam kedalam hatiku, membuatku menjadi tambah gugup.

“By the way panggil aku mas saja ya, biar tidak seperti anak ketemu bapaknya”candaku setelah bisa memulihkan sebagian dari keberanianku dan disambut tawa kecil dari Aisyah.

“Eh….cerita dong gimana ujian skripsinya tadi?” lanjutku.

Sesaat suasana hening, nampak pipi Aisyah sedikit memerah dan dengan tersipu malu menjawab pertanyaanku,

“Alhamdulillah bapak eh … mas, pendadarannya berjalan lancar dan Aisyah dinyatakan lolos ujian”.

“Alhamdulillah” timpalku

Sejenak percakapanku terhenti karena ada pelayan dengan membawa baki berisi minuman menghampiri mejaku dan meletakkan Ice Lemon Tea pesanannya Aisyah. Khayalanku mulai menari-nari lagi, sekuat tenaga aku menahannya agar tidak tambah liar hingga mengacaukan akal warasku. Aisyah nampak menunduk menikmati Lemon Tea-nya, begitu mempesona gadis ini dengan baju gamis warna marun dipadu dengan jilbab berwarna merah muda.

“Ehm…..Aisyah tadi naik apa?”, tanyaku berbasa basi setelah saling terdiam beberapa saat.

Aisyah memandangku dengan senyum manisnya “Aku selalu jalan kaki bapak eh…mas, hehehe…..,kostku tidak begitu jauh dari kampus ini”, jawab Aisyah sambil menutupkan kedua tangannya kemulut untuk menutupi kegugupannya kala harus memanggilku  mas.

“Kalau begitu nanti saya antar ya sampai ke kost kamu” pintaku sambil kupandangi kedua matanya yang bening dihiasi alis yang lebat dan bulu-bulu mata yang lentik.

“Gak usah …. Jangan repot-repot mas, biar nanti Aisyah jalan kaki saja” sahut Aisyah tergesa.

Aku tersenyum sejenak kemudian terdiam dan pikiranku mulai berpacu berkejar-kejaran dengan waktu untuk segera menemukan akal. Aku tidak mau momen ini akan cepat berlalu begitu saja tanpa kesan, aku masih ingin bersamanya lebih lama lagi. Kualihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang ringan, tentang keseharian di kampus, hobi dan juga makanan favorit. Aisyah nampak antusias menjawabnya dan bercerita tentang kesukaanya akan musik serta film dan sesekali balik menanyakan kesukaanku akan beberapa hal. Sungguh gadis ini semakin memikat hatiku, senyum cerah selalu mengawali pembicaraanya, diselingi dengan tatapan mata yang teduh. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, dan kantin mulai ditinggal satu-persatu mahasiswa. Beberapa gerai malah sudah berkemas-kemas mau tutup dan Aisyah sepertinya juga masih bersemangat untuk bercerita tentang berbagai hal, seakan juga tak mau menyia-nyiakan waktunya.

“Aisyah, kayaknya hari sudah mulai sore, sebaiknya kita segera pulang, sekali lagi saya memohon, boleh ya saya antar?”

Aisyah memandangiku sebentar dan segera bangkit dari tempat duduknya sembari sejenak merapikan baju dan jilbabnya.

“Maaf lo mas, jadi merepotkan” jawab Aisyah sambil tersenyum menatapku.

“Kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu nih ?” candaku sesaat setelah mobil keluar dari area parkir.

“Hehehe…., memang mas mau ngajak Aisyah kemana”  Jawab Aisyah sambil tersenyum memandangku.

“Aku mau membawamu ke negeri diatas awan” candaku dan Aisyah pun tergelak.

“Kayak lagunya Katon Bagaskara, ketahuan nih kalau mas seumuran dengannya?” canda Aisyah dan tawa kamipun pecah kembali.

Tak terasa kost Aisyah sudah didepan, ada tulisan yang cukup menyolok Kost Tiga Dara diatas pintu utama, mungkin penghuninya ada tiga batinku sambil membuka pintu mobil dan mempersilakan Aisyah keluar. Timbul perasaan tidak ingin melepaskan Aisyah dan berusaha menahannya lebih lama, tapi segera kubuang jauh-jauh keinginan itu. Aisyah juga terasa enggan untuk segera berlalu meninggalkanku, dari tatapan matanya seakan memintaku tinggal lebih lama lagi untuk bersenda gurau.

“Terimakasih ya mas sudah mengantar Aisyah” ucap Aisyah dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

“Yuk mampir dulu sebentar?” lanjutnya dengan pandangan tajam menatapku, memberikan isyarat kalau ia serius dengan tawarannya.

Ingin rasanya memenuhi tawarannya, tapi egoku yang memaksaku untuk segera pergi,

“Terimakasih, saya langsung saja ya”

“Asalamu’alaikum” lanjutku sambil menjauh dari Aisyah dan masuk ke dalam mobil.

Kuhidupkan mesin mobilku dan aku sempatkan menatap Aisyah yang masih berdiri dengan senyum manis tersungging dibibirnya. Indah kurasakan perjumpaan ku dengan Aisyah kali ini tapi sekaligus juga sedih karena akhirnya harus kuakhiri pertemuan ini dan ada perasaan takut kalau aku tidak punya kesempatan lagi untuk dapat bertemu dengannya.

CHAPTER 4

Sudah lebih dari seminggu sejak aku bertemu dengan Aisyah, dan senandung lagu indah selalu memenuhi hatiku memuji kecantikan Aisyah. Sayang saat itu aku tidak sempat menanyakan nomor handphone-nya, andaikan saja kemarin aku tidak terlalu egois untuk meminta nomornya, atau berjanji untuk mengunjunginya, atau membuat janji untuk bertemu disuatu tempat, mungkin semuanya akan berbeda. Sekarang tinggal penyesalan dan perasaan rindu yang semakin menyiksaku. Disaat libur seperti hari ini perasaan itu menyandera seluruh waktuku, membayangkan wajahnya yang cantik, kesopanan dan kehangatannya dan terutama senyum manisnya yang membuat aku jatuh hati padanya. Tetapi apakah Aisyah juga mempunyai perasaan yang sama denganku, jangan-jangan Aisyah hanya menganggapku tak lebih dari sahabat? Mengapa juga Aisyah tidak berusaha menghubungiku atau sekedar menanyakan kabar kalau ia memang menganggapku lebih dari teman biasa, dia kan punya nomor ponselku. Aneh mengapa tiba-tiba keraguan menghampiri pikiranku. Aku menjadi khawatir kalau kebaikan yang ditunjukkan Aisyah adalah bentuk dari keramah tamahan yang ditunjukkan kepada setiap orang, apalagi kepada seseorang yang telah berjasa seperti aku yang mau menjadi pembicara pada seminar yang digagasnya. Tak terasa keringat dingin membasahi tubuhku, kegelisahan menyusup dengan cepat ke jantungku, sia-sia aku berusaha menepis bayang-bayang kegalauan yang mulai menguasai akal sehatku. Apalagi kalau mengingat usiaku yang terpaut jauh dibanding usia Aisyah, yang lebih pantas menjadi keponakanku. Pikiranku kembali melayang membayangkan saat Aisyah menyapaku dengan halus di kantin kampus, gelak canda saat dimobil dan sorot matanya yang penuh harap saat aku berpamitan, apabila itu hanya akan menjadi kenangan akan kujaga dengan segenap hati dan akan selalu tersimpan rapat-rapat dalam hatiku.

Waktu terus berlalu dan sudah hampir dua minggu kegelisahan benar-benar menderaku. Kuraih ponselku yang dari tadi berdering, ada beberapa panggilan masuk dan pesan WhatsUp yang belum aku kenal nomornya. Segera aku buka dan dari kalimatnya aku mengenali kalau itu dari Sheila yang memohon untuk bisa bertemu di sebuah cafe di suatu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini, ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikan, pasti tentang Aisyah, batinku.

Ku susuri pedestrian di jalan Pemuda, Malam minggu begini tempat parkir didalam Mall sudah penuh dan aku harus memarkir agak jauh diluar. Gerimis sisa hujan yang sejak tadi sore mengguyur masih menyisakan butiran-butiran lembut yang membasahiku, dari sorot lampu yang menerangi jalan nampak jelas guratan gerimis bagai garis-garis tipis berjajar rapi menghunjam bumi. Sebetulnya aku selalu menyiapkan payung dan jaket dalam mobil, tetapi aku tadi malas mengenakannya dan sekarang aku harus menanggung akibatnya. Kurapatkan baju dengan kedua tanganku untuk menghalau hawa dingin dan beberapa kali kukibas-kibaskan rambutku untuk menghempaskan air hujan yang mulai membasahi kepalaku. Kupercepat jalanku agar segera sampai ketujuan dan terbebas dari gerimis hujan, nampak beberapa muda-mudi saling memadu kasih disepanjang pinggir jalan seakan tak peduli dengan gerimis dan dinginnya malam. Aku menjadi sangat ingin mendengar cerita dari Sheila, karena sudah dua minggu semenjak perjumpaanku dengan Aisyah sampai sekarang kami belum ada komunikasi lagi. Kafe yang menjadi favorit anak muda ini memang terkenal dengan beberapa varian kopinya, disamping itu juga menawarkan suasana yang rilek yang sangat cocok untuk melepas kepenatan. Kuedarkan pandanganku sesampainya di tempat yang berada dilantai dua ini, belum kulihat Sheila disana dan aku segera mencari tempat duduk yang nyaman. Pelayan segera menghampiriku dan memberikan buku menu padaku, Aku tidak perlu membuka dan mencermati satu-persatu karena aku tahu menu unggulan yang tidak ada duanya disini, yaitu  Flavour Cappuccino kali ini aku pesan yang panas. Sedangkan untuk cemilan aku memesan Fried Potatoes. Selang beberapa saat kemudian Sheila dengan sweater abu-abu mengedarkan pandangan sebentar dan bergegas menuju kearahku. Seperti biasa senyum nakal dan tingkahnya yang kekanak-kanakan membuat gemes siapapun yang melihatnya. Syukurnya aku sudah tahu walau Sheila bertingkah seperti itu tapi sebenarnya hatinya baik, hangat dan ramah. Setelah memesan makanan dan minuman kepada pelayan yang sejak tadi mengikutinya Sheila segera menyapaku,

“Mas Yudha sudah lama ya menunggu Sheila” ucapnya sambil membetulkan posisi duduknya dan menggeser sedikit kursinya kebelakang.

“Maaf ya kalau Sheila terlambat” lanjutnya.

“Santai aja, aku juga baru datang koq” sahutku sambil kutunjukkan rambut dan bahuku yang masih basah.

“Pesananku aja juga belum datang” lanjutku disambut tawa kami berdua.

Seperti biasa Kafe ini selalu penuh dengan pengunjung yang memang menjadi jujukan mereka yang ingin suasana santai tapi berkelas. Tak lama kemudian pelayan datang dengan pesanan-pesanan kami, Sheila memesan Ice Expresso Shake dan Prawn Platter. Sejenak kami menikmati minuman masing-masing dan makanan ringan yang sudah terhidang. Sheila nampak ragu untuk memulai percakapan dan tangannya sibuk mengoleskan udang dengan saus yang dihidangkan dalam piring kecil. Kuperhatikan Sheila beberapa saat sebelum kucoba memulai pembicaraan,

“Sheila…..aku siap dengan apa yang ingin kamu sampaikan” kataku dengan hati-hati.

“Apakah ini tentang Aisyah” lanjutku.

Sheila tersenyum memandangku dan sejurus kemudian menundukkan kepalanya,

“Mas, sekali lagi Sheila mohon maaf ya sudah mengganggu waktu mas Yudha”

Sejenak Sheila menghentikan perkataanya seakan menunggu persetujuanku. Aku menganggukkan kepala sembari memberi isyarat agar Sheila melanjutkan ucapannya, karena jujur hatiku juga sudah tidak sabar dengan berita yang ingin disampaikan Sheila.

“Sebenarnya ini semua inisiatif saya dan teman-teman kost karena kami semua tidak tega melihat kondisi Aisyah beberapa hari ini”.

Deg! kurasakan ada sebongkah batu besar yang menabrak dadaku, terasa sesak dan perih. Ada apa dengan Aisyah? bagaimana kondisinya saat ini? tanyaku dalam hati dan aku yakin kalau aku tak bisa menyembunyikan kepanikanku. Sheila menatapku sekejap dan melanjutkan pembicaraanya.

“Awalnya kami mengira Aisyah kena sakit flu atau demam biasa karena berhari-hari tidak mau keluar kamar dan sudah beberapa kali kutawarkan untuk kuantar ke dokter tapi selalu ditolaknya, akhirnya setelah kudesak Aisyah mau menceritakan sejujurnya kepadaku” Sheila menghela nafas sebentar, kulihat ada gurat kesedihan dalam wajahnya.

“Aisyah kenapa Sheila, apakah perlu saya jemput untuk dibawa kedokter” sahutku cepat dengan penuh nada kekawatiran.

Sheila masih menunduk seakan tidak ada reaksi terhadap kecemasanku.

“Aisyah memang selalu menjadi primadona semenjak awal kuliah, selain cantik Aisyah juga mahir dan memukau dalam segala bidang, juga pandai dalam hampir semua mata kuliah, tak heran kalau banyak pria yang ingin mendekatinya”.

Aku membayangkan wajah Aisyah yang memang sungguh mempesonaku sejak pertama kali bertemu, seperti perpaduan antara kecantikan gadis Turki dan Jawa.

Sheila melanjutkan perkataanya, “Tapi tidak satupun dari pria-pria tersebut yang beruntung, dan bahkan sampai saat ini diantara penghuni kost hanya Aisyah yang belum punya kekasih, dan Aisyah memang sangat tertutup kalau diajak berbicara masalah itu”

Sheila sejenak menghentikan perkataanya dan menyeruput Ice Expresso yang ada didepannya.

“Sampai suatu saat, kira-kira sebulan yang lalu dengan semangat Aisyah menceritakan tentang seorang motivator muda, dia ingin mengundang motivator tersebut sebagai pembicara sekaligus ingin berkenalan” lanjut Sheila sambil memandangku untuk meyakinkan aku bahwa aku sudah paham siapa yang dimaksud.

Aku merasakan perasaan yang campur aduk dalam hatiku diantara perasaan senang dan sedih. Aku berusaha tersenyum membalas tatapan Sheila, tapi terasa hambar dan kering.

Sheila segera melanjutkan penjelasannya, “Saat aku tahu bahwa mas Yudha juga menyukai Aisyah, aku senang dan lega karena aku tidak butuh usaha yang banyak untuk menyatukan kalian berdua, dan kamipun menjadi yakin kalau semua akan berjalan dengan lancar dan akan baik-baik saja”,

Terjawab sudah kecurigaanku selama ini sama Sheila dan Amel, sejak bertemu mereka, aku memang merasa digiring untuk bisa dekat dengan Aisyah dan mereka telah sukses menjalankan misinya bahkan tanpa usaha apapun.

Sheila menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Ternyata dugaanku keliru, Aisyah berterus terang kepadaku kalau ragu untuk mengejar cintanya dengan mas Yudha, dia mengatakan sedang menghadapi masalah yang cukup berat yang tidak ada seorangpun yang tahu, bahkan Aisyah mengatakan tidak mau melibatkan mas Yudha dalam masalahnya, Ia merasa tidak pantas diperjuangkan oleh Mas Yudha, ia akan menyeleseikan masalahnya sendiri dan setelah itu baru akan mengejar cintanya kembali”.

Sheila menghentikan ceritanya, sesaat menjadi hening karena Sheila beberapa kali menghela nafasnya dan berusaha menahan airmatanya.

“Maaf, kalau aku jadi sedih dengan kondisi yang dialami Aisyah, dan kami semua bersumpah akan membantu Aisyah keluar dari permasalahannya dan segera mendapatkan kebahagiaannya kembali” ujar Sheila sambil mengelap kedua matanya yang mulai sembab.

Aku berusaha keras untuk menahan airmataku, aku alihkan pandanganku ke langit-langit kafe ini, ingin rasanya kubuang kesedihan hatiku saat ini kesana. Mungkin aku jauh lebih sedih dari pada yang dirasakan Sheila, Sheila yang periang, yang terlihat nakal ternyata punya perasaan halus dan mulia seperti dugaanku.

Setelah beberapa saat kami terdiam, aku beranikan diri untuk bertanya dengan hati-hati,

“Sheila, apakah Aisyah juga menceritakan apa permasalahannya?”.

Sheila menggelengkan kepalanya, “Aisyah hanya bercerita kalau sudah lama sebetulnya permasalahan ini ditanggungnya, tapi Aisyah tidak mau menceritakan apa permasalahan yang sedang dihadapinya walau saya desak berulangkali, tapi kami yakin hanya Mas Yudha yang bisa membuatnya terbuka”

“Kami sangat berharap mas Yudha mau segera menemui Aisyah”.

Hatiku merintih sedih ikut merasakan derita yang dialami Aisyah, ternyata dibalik senyum manisnya tersimpan kesedihan yang ditanggungnya sendiri tanpa pernah mengeluhkannya kepada orang lain. Sheila berusaha tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya,

“Oh ya… sudah menjadi tradisi kami sesama penghuni kost bahwa kami akan mengadakan syukuran kecil-kecilan atas keberhasilan Aisyah dalam ujian skripsi kemarin, dan kami berharap mas Yudha bisa ikut menghadirinya, karena inilah kesempatan mas Yudha untuk meyakinkan kesungguhan cinta mas Yudha ke Aisyah”.

Aku masih bimbang dengan saran Sheila barusan, aku khawatir dengan kehadiranku malah akan merusak suasana,

“Apakah Aisyah tidak keberatan dengan kehadiranku? Tanyaku ragu-ragu.

Sheila tersenyum manis seakan sudah hilang kesedihan yang tadi menderanya,

“Mengapa mas Yudha masih ragu? Kami aja yakin kalau sebenarnya Aisyah sangat mengharapkan mas Yudha, percayalah pada takdir mas” jawab Sheila meyakinkanku.  

Berlanjut.......




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  CINTAKU PADA SUATU MASA (III) CHAPTER 8 Selesai meeting, sore itu aku bergegas berkemas-kemas untuk pulang dan seperti biasa aku menulis...