Kamis, 28 April 2022

 

CINTAKU PADA SUATU MASA (III)


CHAPTER 8

Selesai meeting, sore itu aku bergegas berkemas-kemas untuk pulang dan seperti biasa aku menuliskan beberapa memo singkat pada secarik kertas dan kutempelkan di meja, karena cara itu yang ampuh untuk menyelamatkanku dari sifat pelupaku. Ada sedikit rasa was-was sebenarnya untuk meninggalkan kantor selarut ini, apalagi beberapa hari ini aku sudah rutin selalu pulang terlambat. Pelan-pelan kujalankan mobilku meninggalkan area parkir yang sepi dan mulai beranjak gelap karena lampu penerangan yang kurang memadai. Seperti biasa aku mengambil jalan alternative untuk menghindari macetnya jalanan kota, rute yang biasa aku lewati setiap berangkat dan pulang kerja ini sedikit memutar dan jauh dari pemukiman sehingga aku bisa memacu mobilku sedikit lebih cepat. Dari kaca spionku aku melihat dua motor yang berjarak cukup dekat dengan mobilku, sepertinya sudah sejak keluar dari parkiran tadi mereka terlihat dibelakangku tapi mengapa mereka terus searah jalan denganku, apakah mereka membuntutiku. Aku berusaha tenang dan tidak ambil pusing dengan pengendara motor tersebut, aku berusaha meyakinkan pada diriku kalau mereka memang satu arah denganku. Tiba-tiba ada suara yang cukup keras, dan ternyata salah satu dari pengendara motor tersebut menghantamkan semacam tongkat kayu  kekaca samping dan berusaha menjajariku, dan kuperhatikan pengendara yang satunya lagi menghantamkan sesuatu dalam banku. Aku menjadi sadar kalau aku dalam bahaya, untungnya aku sudah paham betul dengan daerah yang selalu kulalui setiap hari, segera aku pacu lebih cepat mobilku dan segera kubelokkan mobilku setelah mencapai pom bensin. Mobilku mulai oleng dan menjadi susah dikendalikan, setelah masuk ke area pom bensin aku segera turun untuk melihat kondisi mobilku, sekilas dua pengendara motor mengawasiku dari jauh dan segera berlalu ketika aku perhatikan. Aku sedikit bersyukur, baru saja terhindar dari marabahaya, dan pikiranku langsung terlintas Fadil, akhirnya ancaman itu benar-benar ada dan sudah didepan mata. Aku berusaha menepiskan bayang-bayang Fadil dan segera memeriksa ban belakangku, ternyata dugaanku benar,asap mengepul dan bau hangus menyegat dari arah ban belakangku, sebuah papan berisi beberapa paku masih menancap disitu, untungnya didalam area pom bensin ada tukang tambal ban yang dengan cekatan segera mengganti ban dengan ban cadangan, dan menyarankan untuk segera membeli ban baru. Sejenak aku terpaku di depan kemudi, sesuatu yang aku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Mungkin ini merupakan peringatan awal agar aku menjauh dari Aisyah, tapi kamu salah besar Fadil aku tidak akan menyerah menghadapi apapun bentuk terormu.

Niat untuk mampir sekaligus membawakan gado-gado kesukaan Aisyah kuurungkan, aku takut Aisyah akan dapat membaca kekawatiran yang masih membekas dalam wajahku, aku terpaksa berbohong dengan menginformasikan kalau mobilku ada kerusakan dan aku harus membawanya kebengkel segera. Ada nada sedikit kecewa dalam desah suaranya dan aku berjanji akan mengunjunginya besok. Aku masih tidak habis pikir dengan Fadil, mengapa sampai sejauh itu dia berniat mau mencelakakan orang lain, bukankah apabila kita mencintai seseorang apapun dilakukan demi membahagiakannya atau setidak-tidaknya berbuat baik agar mendapat simpatinya. Apakah keluarganya tidak mendidiknya dengan baik atau bahkan dendam kesumat orangtuanya yang membuat Fadil semakin kalap. Aku segera terlelap malam itu dengan beribu pertanyaan dan kekawatiran terutama tentang kelanjutan cintaku dengan Aisyah, jujur aku juga sangat khawatir kalau kisah cintaku hanya sampai disini, seperti kisah cinta Rachel Carlson pada Angus Mc. Culloch di Film Half Light yang menggebu-gebu tapi hanya seumur jagung.

Sayup-sayup suara kokok ayam jago nun jauh disana bersahut-sahutan membangunkanku dari kelelapan, sebentar lagi adzan subuh pikirku. Aku bergegas kekamar mandi untuk mengambil air wudlu, Kubasuh mukaku dengan air yang begitu sejuk berulang-ulang seakan hendak meluruhkan segala kekawatiran dan ketakutan yang ada pada hatiku. Ku hadapkan diri ini kepadaNya dengan memuji atas keagunganNya serta memohon ampunan dan pertolongan atas semua perkara yang sedang aku hadapi. Aku baru mengakhiri doaku ketika dari Handphoneku beberapa kali terdengar pesan masuk. Ada perasaan was-was dan takut sebetulnya untuk membukanya dan ternyata dugaanku benar, pesan-pesan yang bernada ancaman tersebut pasti dari Fadil atau setidak-tidaknya orang suruhannya, aku segera menghapus semua pesan yang masuk darinya tanpa satupun aku balas.

Aku berjanji untuk menyembunyikan segala sesuatu yang berkaitan dengan kejadian kemarin sore kepada siapapun termasuk teman-teman kantorku karena aku tdak mau khabar itu akhirnya akan terdengar oleh Aisyah, biarkan kusimpan untuk diriku sendiri. Aku tetap berusaha keras tampil riang dan penuh canda seakan tidak pernah terjadi sesuatu kepadaku dan sejauh ini cukup berhasil. Untuk sementara aku sengaja tidak membawa mobil dulu dan memanfaatkan jasa tranportasi online atau sesekali naik motor yang sudah lama tidak pernah kumanfaatkan. Didalam tasku pun sekarang tidak lupa selalu aku bawa teleskop kecil untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan dan satu lagi alat untuk melindungi diri yang aku beli secara resmi beberapa waktu yang lalu atas bantuan omku yang menjadi petinggi di kepolisian. Hal ini sangat membebani pikiranku dan harus kujalani hidup dalam kewaspadaan penuh selama lebih kurang dua minggu sampai akhirnya aku meyakini kalau ancaman itu sudah berlalu apalagi teror dari Fadil juga sudah tidak kuterima lagi. Walaupun begitu untuk keluar rumah apalagi makan keluar bersama Aisyah aku masih berhati-hati sekali, demi keamanan aku lebih memilih memakai motor dengan jaket yang menutup rapat dan untungnya Aisyah juga menikmati naik motor dan bahkan beberapakali memohon kepadaku untuk diijinkan ikut touring bersama kelompokku.

“Mas Yudha, mau gak suatu saat mengantar Aisyah pulang kerumah dengan motor ini, Aisyah dah jatuh cinta dengan motor ini.”Bisik Aisyah dari belakang sambil mendongakkan helmnya.

“Waduh dapat saingan baru nih” gurauku sembari kunaikkan kaca helmku yang ketat membungkus kepalaku.

“Hahaha…. Cemburuan amat sih sekarang” sahut Aisyah sambil menekan tangannya ke perutku,

“Serius nih mas, Aisyah pengen mengenalkan mas Yudha kepada  orangtua Aisyah” lanjut Aisyah

Sekalian nanti aku ngajak penghulu ya” jawabku sambil cekikan

“Ih… gemes deh” kali ini tekanan tangan Aisyah keperutku semakin kencang membuat aku kesulitan bernafas karena menahannya.

“Okay…..”teriakku kencang berharap Aisyah mau melonggarkan tangannya.

“Goodjob mister, Sabtu pagi ya” balas Aisyah penuh kemenangan sambil mengendorkan tekanan pada perutku.

Senang juga sih Aisyah tidak malu atau canggung kalau harus naik motor. Tapi aku sangat khawatir kalau suatu saat Aisyah juga diteror sama Fadil, dan aku takut hari-hariku yang penuh dengan suka cita seperti ini akan segera berlalu. Aku berharap semoga Aisyah tidak tahu hal yang sebenarnya mengapa aku tiba-tiba suka naik motor. Bukannya aku pengecut dan tidak berani menghadapi kejahatan Fadil, tapi otakku masih waras untuk mengambil langkah menghindar dahulu sambil memikirkan strategi yang tepat dalam menghadapi Fadil. Aku juga tidak akan melibatkan omku yang seorang perwira tinggi di kepolisian, walau aku tahu kalau omku pasti akan menolongku tanpa aku minta. Aku masih ingat saat perusahaanku kedatangan para pendemo yang sebagian besar karyawan sendiri, tanpa aku minta sepuluh perwira intel dibawah komandonya membayangiku kemanapun aku melangkah.

 

CHAPTER 9

Pagi itu begitu dingin mengigit dan mataharipun belum mau menampakkan sinarnya, hawa dingin masih terasa menusuk tulang walau aku sudah memakai jaket tebal. Aku sudah bersiap membawa Aisyah melaju dengan motorku, dengan jaket ditambah slayer Aisyah terlihat begitu innocent. Sheila dan Febri yang masih berbalut selimut ikut mengantar sampai ujung pintu pagar. Sheila terlihat mengkhawatirkan kami mengingat perjalanan yang akan kami tempuh cukup jauh dan belum pernah sekalipun Aisyah naik motor untuk perjalanan yang begitu panjang. Aku yakinkan pada Sheila bahwa semua akan baik-baik saja. Kujalankan motor sportku perlahan membelah jalan yang masih sepi dan Aisyah tidak bosan-bosannya mengingatkanku agar terus berhati-hati. Perjalanan cukup lancar karena belum banyak kendaraan yang melaju apalagi di jalur pintas yang jarang dilewati mobil disebabkan banyaknya tikungan serta turunan yang curam. Tidak banyak yang kuperbincangkan selama perjalanan, aku memang harus berkonsentrasi dengan motorku untuk melewati beberapa tekukan yang cukup tajam dan sesekali harus mendahului beberapa truk pembawa pasir yang nekat melewati jalur yang sangat berbahaya ini. Aisyah erat memelukku dibelakang dan sesekali berteriak memperingatkanku bahkan terkadang memukul perutku saat aku terlalu kencang mengendarai. Aku jadi ingat dengan perkataan Aisyah beberapa bulan yang lalu bahwa keluarganya belum tentu bisa menerima apabila calon menantunya bukan dari keturunan Arab. Tapi aku yakin bahwa itu hanya kekawatiran Aisyah saja, akan kubuktikan bahwa aku pantas untuk bisa mendapatkan restu dari oragtuanya. Kota Temanggung sudah lewat dan kami memutuskan untuk tidak jadi mampir di alun-alun menikmati sedapnya soto temanggung, karena rumah Aisyah tinggal beberapa belokan lagi. Tepat dipertigaan yang menuju kekawasan wisata Dieng, Aisyah memberikan aba-aba untuk mengurangi kecepatan karena sudah hampir sampai di rumahnya, dan  beberapa saat kemudian Aisyah menunjuk rumah putih dengan lantai dua yang berdiri cukup gagah dan agak terpisah dari rumah-rumah penduduk yang lain. Rumah Aisyah walau tidak mewah tapi cukup terawat dengan pekarangan depan yang luas penuh dengan berbagai pepohonan yang rindang. Rasa penat dan letih yang sempat menyergapku diperjalanan tadi tiba-tiba hilang seketika berada di rumah Aisyah ini, apalagi Aisyah belum juga mau turun dari motor dan masih erat memelukku,

“Welcome to my country, Welcome to my home” ucap Aisyah  

“Home sweet home” desisku sambil masih mengamati bangunan rumah didepanku.

Aku segera turun dari motor dan melepas jaket serta helmku, diikuti oleh Aisyah yang tiada hentinya menebarkan senyum manisnya. Dari arah dalam nampak Papa dan Mamanya Aisyah tergopoh-gopoh menyambut anak kesayangannya, Aisyah langsung memeluk kedua orangtuanya dengan hangat. Aku masih menunggu dibelakang sekaligus menjadi saksi bisu begitu hangatnya hubungan keluarga Aisyah. Aisyah menolehku dan memperkenalkanku kepada kedua orangtuanya, Aku segera mencium tangan orangtua Aisyah dengan takzim sambil memperkenalkan diri

“Saya Yudha om & tante….” Sedikit gugup aku menata kata-kataku

Papanya Aisyah langsung merangkulku dengan hangat,

Selamat datang nak... nak Yudha” ucap Papanya Aisyah sambil masih terus memegang tanganku.

“Yuk, masuk ke dalam dulu nak” lanjutnya sambil masih menggandeng tanganku untuk dibimbing masuk kedalam rumah.

Aku cukup kagum dengan penataan ruang tamu yang bersih dan terkesan elegan, Sofa berwarna putih tulang tertata apik di tegah-tengah ruangan, lemari hias dan buffet tepat dipojok ruangan dengan warna senada berisi beberapa beberapa foto keluarga. Kehangatan dari cara penyambutan mereka telah menghilangkan kekawatiranku akan penolakan orangtua Aisyah kepadaku, sungguh tidak terbukti ketakutan Aisyah, paling tidak sampai detik ini. Mamanya Aisyah segera duduk menjajariku dan memelukku seakan tidak mau ketinggalan dengan Papanya Aisyah, aku bisa merasakan pancaran rasa bahagia dan bangga dari raut wajahnya.

“Ihhhh…. Koq semua pada memeluk mas Yudha tanpa ijin dulu” celetuk Aisyah dari belakang yang membuat semua jadi tertawa geli.

“Aduh anak Mama cemburu ya” goda Mama sambil beringsut berdiri dari duduknya gentian memeluk anak semata wayangnya tersebut dengan erat.

Aku jadi tersenyum sendiri menyaksikan hangatnya suasana keluarga Aisyah jauh dari dugaanku semula dimana aku kira keluarga Aisyah akan dipenuhi dengan suasana kesedihan. Papanya Aisyah terlihat jelas berparas arab mengingatkanku akan bintang film Hollywood legendaris Omar Syarif, sementara Mamanya Aisyah tidak terlihat wajah arabnya kecuali hidung yang mancung dan bulu mata yang lentik persis seperti Aisyah. Bahkan sejujurnya mereka berdua lebih cocok seperti kakak beradik, sama-sama mempunyai kecantikan ala gadis Turki.

“Yuk diminum mas Yudha, jangan terpana dengan kecantikan Mama, nanti Aisyah cemburu lho” sergap Aisyah yang menyodorkan segelas minuman hangat sambil melirik Mamanya dengan nakal.

Aku jadi salah tingkah dan hampir saja menumpahkan isi gelas yang dibawa Aisyah, Papa dan Mamanya Aisyah tertawa kecil demi melihat kenakalan anaknya.

“Hm… nak Yudha” sela Papanya Aisyah yang sudah berdiri dari duduknya

Saya tinggal dulu ya, mau meninjau tanaman kenthang yang akan segera dipanen, kalau tidak buru-buru nanti sore saya mau bicara sebentar” lanjutnya sambil membuka handphone ditangannya.

“Insyaallah om, Yudha akan tunggu sampai om pulang dari kebun” jawabku dengan sopan.

“Aisyah kamu ajak dulu makan, mbok Yah sudah menyiapkan dilantai atas” lanjutnya lagi sambil menepuk-nepuk pundak Aisyah.

Sambil tersenyum kepadaku Papanya Aisyah bergegas meninggalkan kami.

“Yuk nak Yudha langsung saja keatas” ajak Mamanya Aisyah setelah menutup pintu depan.

Aku segera bangkit dan bergegas mengikuti Aisyah dan Mamanya dari belakang, Aisyah Nampak manja dalam pelukan erat tangan Mamanya. Aku bersyukur dalam hati dan berharap suatu saat nanti menjadi bagian dalam keluarga ini.

“Wow sempurna” teriakku ketika sudah sampai dilantai atas, sebuah ruangan terbuka yang berfungsi sebagai teras tersebut menghadap ke pemandangan yang luar biasa nun jauh disana. Nampak sejauh mata memandang pepohonan yang menghijau diselimuti kabut tipis bak selendang sutera yang menari-nari diatas permadani. Terik matahari tidak begitu terasa bahkan hembusan angin yang sesekali menyapu teras tersebut membawa hawa yang cukup membuatku kedinginan.

Meja makan persis di sebelah teras hingga hawa dingin tersebut sesekali menyapa seluruh tubuhku dan membuatku jadi jatuh hati dengan rumah Aisyah ini. Setelah selesai makan, aku duduk-duduk santai di sofa yang berdekatan dengan meja makan dan menghadap ke teras. Sejenak aku ingin menikmati alam pegunungan yang terhampar diluar sana, diiringi lagu-lagu lama yang sayup-sayup terdengar dari lantai bawah, beberapa aku bisa mengenali seperti Nothing Gona Chane My Love For You, How I Remember You, One Day In Your Life, Earth Angel dan masih ada beberapa lagi, sambil batinku berharap alam ikut mentasbihkan kehadiranku ditengah-tengah keluarga ini. Beberapa gerombolan awan nampak berarak diatas pepohonan dan terus bergerak menjauh, dibawahnya nampak bayangan hitam dengan setia mengikuti kemanapun awan bergerak. Angin semakin kencang menerpa wajahku dan setiap wajahku tersapu angin, kurasakan kesegaran alam pegunungan membelai wajahku. Sungguh kediaman yang sempurna dan aku berjanji dalam hati untuk menghabiskan sisa hidupku bersama Aisyah membangun rumah tangga dilereng perbukitan dengan keindahan panorama yang bisa kami nikmati setiap hari.

“Asyik banget ngelamunnya mas” bisik Aisyah yang tiba-tiba sudah ada disampingku.

Aku menatap Aisyah sekejap dan kuraih tangan Aisyah dan kupegang erat tapi segera kulepaskan lagi pegangan tanganku karena kulihat Mamanya Aisyah berjalan mendekat.

“Aisyah, nak Yudha ditawarin istirahat dong, Mama dah siapkan kamar di sebelah” sela Mamanya Aisyah yang sudah berdiri disamping Aisyah.

“Gak usah repot-repot tante, saya masih ingin duduk-duduk disini Bersama Aisyah, anginnya sungguh segar membuat enggan beranjak dari sini” jawabku sambil kulirik Aisyah.

“Tenang aja Mama, sebagai tuan rumah Aisyah akan menjaga mas Yudha dengan baik meskipun harus menahan kantuk sampai sore” timpa Aisyah sambil nyengir memperlihatkan barisan giginya yang rapi.

“Ya … aku pasti betah disini karena ditunggui oleh sang putri” bisikku pada Aisyah.

 “Siap sang pangeran hatiku” bisik Aisyah tepat di telingaku sambil memukul pelan punggungku.

Sore yang dingin disertai hembusan angin yang membuatku terasa menggigil walau sudah mengenakan jaket tebalku. Aku sudah bersiap-siap mau pulang, setelah Papanya Aisyah memberitahukan beberapa hal penting yang harus kusimpan rapat-rapat sampai suatu saat nanti tiba, bahkan Aisyahpun tidak pernah tahu masalah ini. Kucium dan kupeluk kedua orangtua Aisyah dan kuanggukkan kepalaku saat mereka  berpesan untuk hati-hati dan jaga diri dengan baik. Aisyah masih berdiri dibelakang sambil memeluk helmku, seakan tak mau melepaskannya dari dekapannya. Aku berusaha meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja, dan selama Aisyah menghabiskan liburan di rumah, aku berjanji akan rutin mengunjunginya setiap akhir pekan.

“Kan ada helmku yang kemarin kamu pakai sebagai jaminan kalau aku pasti akan kembali kesini” candaku agar Aisyah terhibur.

“Mas Yudha janji ya akan selalu mengabari Aisyah apapun yang terjadi dan dimanapun mas Yudha berada” pinta Aisyah dengan mata yang sembab.

“Insyaallah sayang, aku kan tidak akan maju perang cantikku” godaku lagi

Kali ini Aisyah sedikit tersenyum dan itu cukup membuatku lega.

Pelan-pelan kutinggalkan Aisyah dan kedua orangtuanya untuk kembali ke Semarang dengan motor sportku. Pengalaman yang sangat menakjubkan, gumamku sambil mempercepat laju motorku membelah jalan raya yang masih sepi.

 

CHAPTER 10

Setelah beberapa pertimbangan akhirnya aku putuskan untuk mengiyakan tawaran Umar, teman baikku sejak kecil untuk makan malam bersama sekaligus merayakan kepindahannya dari Mabes ke Polda Semarang. Hujan masih cukup deras saat aku mulai menjalankan mobilku menyusuri kota menuju ke suatu rumah makan sesuai dengan permintaan Umar. Hawa dingin menyergapku ketika aku keluar dari mobil untuk memastikan suara yang berdebum yang barusan terdengar dari belakang mobil. Aku baru saja mau menunduk meneliti setiap jengkal mobilku ketika sebuah tendangan keras dari arah samping tepat mengenai pinggangku sehingga membuatku terjungkal. Aku berusaha untuk bangun tetapi sebuah tendangan dari belakang membuat tubuhku terpental menghempas bodi mobilku. Secepat kilat aku langsung menelusup ke kolong bawah mobilku untuk bersembunyi dan berusaha memahami sebenarnya apa yang sedang terjadi. Darah mengucur segar dari mulut dan hidungku, perih sekali. Aku menggeser badanku ke samping ketika sebuah tongkat di sodok-sodokkan ke arahku, aku berusaha menggeser tubuhku ke belakang mobil secepatnya dan tanpa kesulitan aku segera keluar dari kolong mobilku. Aku segera berkelit dari pukulan tongkat yang diarahkan ke kepalaku dan sambil menghempaskan tubuh ketanah aku berhasil menendang kakinya dan merebut tongkatnya yang terlepas dari tangannya. Tanpa ampun lagi segera aku gebuk kepalanya yang sedang berusaha berdiri serta ku hantamkan sekeras-kerasnya ke arah temannya yang berusaha meninjuku dari belakang, sehingga membuat keduanya terpental dan darah mengucur deras dari pelipis dan hidungnya. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya dan segera merangsekku untuk bisa menghunuskan pisaunya ke tubuhku, aku berusaha menghindar sambil ku ayunkan tongkat kesana-kemari. Walau pada awalnya mereka berdua terlihat sudah mulai kepayahan tapi dengan memegang pisau ditangannya mereka kembali terlihat beringas. Bahkan beberapa kali tangan dan punggungku terkena sayatan pisau sehingga membuat darah mulai merembes dari pergelangan tanganku dan aku mulai terdesak karena tangan kananku terasa kaku dan semakin sulit untuk memegang tongkat. Aku hanya bisa bertahan dengan berusaha menangkis setiap serangan dari mereka berdua dengan menempelkan punggungku pada mobilku. Tiba-tiba Umar datang dan segera merangsek meghajar tanpa ampun kedua preman tersebut, aku yang sudah lunglai tiba-tiba seperti mendapat energi baru dan berkali-kali kupukulkan tongkat yang ada ditanganku tepat dipunggung dan kepala salah satu preman tersebut. Setelah beberapa saat mereka menjadi bulan-bulanan aku dan Umar akhirnya mereka terjatuh lemas bersimbah darah. Aku berusaha menghajar salah satu dari mereka yang sudah kukunci dengan kakiku, beberapa kali bogem mentahku menghajar hidung dan pipinya, membuat darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya.

Hentikan Yudha, demi Allah jangan membuat mereka kehilangan nyawa, nanti akan panjang urusannya” cegah Umar sambil menarikku sekuat tenaga menjauh dari preman tersebut.

“Huh… biar mampus sekalian” ucapku sambil meronta berusaha lepas dari cengkeraman tangan Umar.

“Stop Yudha, cukup...! teriak Umar sambil mengunci tangan dan kakiku. Umar memang sangat kuat dan tubuhnya sangat kekar, membuat aku kalah tenaga bergelut dengannya.

“Kamu tidak tahu kejahatan yang telah mereka lakukan padaku” teriakku pada Umar yang terus menahan tangan dan kakiku agar tidak terlepas.

“Lepaskan tanganku Umar, sakit sekali” teriakku mengiba dan Umar segera melepaskannya.

Tubuhku masih bergetar menahan amarah dalam dadaku, nafasku pun masih memburu ketika Umar merangkulku untuk masuk kemobil.

Umar menelphone kesatuannya untuk datang mengurus kedua preman tersebut dan setelah terdengar raungan ambulance diiringi mobil pratoli dari kejauhan Umar segera menjalankan mobilnya membawaku ke klinik terdekat, tentang mobilku Umar meyakinkanku akan diurus dengan baik oleh anak buahnya.

Aku baru menyadari kalau tidak hanya luka-luka lecet di tangan dan pipiku, tapi di lengan dan punggung tangan kananku harus dijahit  karena ada luka yang cukup dalam. Tapi aku masih beruntung karena dokter mengijinkanku langsung bisa pulang malam itu juga tidak perlu menginap.

“Yud, kenapa dengan orang-orang itu, sepertinya ada niat untuk mencelakaimu” Tanya Umar setelah menjalankan mobilnya mengantakanku pulang.

“Kamu punya musuh?” selidik Umar

Aku masih diam saja, pura-pura meringis biar dikira tidak mendengar pertanyaan Umar.

“Setahuku hidupmu lempeng-lempeng aja, minum kagak, ngobat kagak main perempuan juga gak pernah” cerca Umar sambil duduk tepat disampingku seakan takut gak terdengar lagi.

“Kamu harus jujur sama aku Yud, aku kan sahabatmu sejak kecil dan sekarang kita sama-sama di kota ini, masak kamu juga gak mempercayaiku sih” lanjut Umar sedikit memberi tekanan pada suaranya dan terus memperhatikan aku yang sedang merintih kesakitan.

“thanks kawan, kamu datang tepat pada waktunya, besok kamu pasti tahu saat kamu menginterogasi para preman tersebut” jawabku singkat dan bergegas menuju mobilku untuk istirahat di rumah.

“Maaf kalau malam ini aku tidak bisa memenuhi undanganmu” lanjutku.

“Hehehe masih juga bisa berkelakar kau kawan, hubungi aku kalau kamu butuh pertolongan” ucap Umar sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku rangkul sahabat sejak kecilku tersebut yang sekarang sudah menjadi perwira menengah di Reskrim. Karirnya melesat setelah sempat menjadi ajudan pejabat tinggi di Mabes. Aku ikut bersyukur dengan kesuksesan yang dia capai, semoga tetap menjaga amanah.

Ketakutanku bukan karena aku harus menghadapi teror ini terus-menerus entah sampai kapan, tapi kekawatiranku adalah apabila Aisyah mengetahui tentang hal ini pasti jiwanya akan terguncang. Aku berjanji akan mengabarinya besok pagi tentang kecelakaan yang aku alami sesuai janjiku saat aku meninggalkan rumahnya tempo hari. Tetapi untuk hal ini aku harus berbohong dengan membuat cerita lain karena aku belum siap semua ini diketahui oleh Aisyah dan keluarganya, tapi sampai kapan hal ini akan terus aku tutupi.

“Halo mas Yudha” suara Aisyah terdengar ceria sambal tersenyum cengar-cengir dilayar ponselku..

“Halo Aisyah” jawabku sambil berusaha kucubit kedua pipinya yang memenuhi layar ponselku.

“Ya Allah mas Yudha…… ada apa dengan kening dan pelipismu?’ tanya Aisyah yang ternyata cukup jeli juga menangkap ada bekas luka-luka diwajahku akibat kejadian kemarin malam, walau aku sudah berusaha menyembunyikan dari kamera ponselku dengan menghidupkan aplikasi filter camera.

“Gak apa-apa koq sayang, hanya sedikit memar karena terjatuh saat Latihan futsal tadi malam” jawabku sekenanya. Maafkan aku ya Aisyah, batinku karena aku tidak bisa membayangkan kalau aku berkata jujur. Suatu saat aku akan mengatakan hal yang sebenarnya tapi entah kapan.

“Eh mas Yudha koq jadi ngelamun, mikirin apa sih… Aisyah jadi gak tenang nih, hati-hati ya mas jangan biarkan Aisyah jadi khawatir kalau terjadi apa-apa dengan mas Yudha ?” sergap Aisyah yang membuatku jadi tambah celingusan.

“Aku lagi mikirin…. bagaimana kalau besok Sabtu kita menjelajahi Kawasan wisata Dieng, Nepal from Java…. hehehe…” jawabku sekenanya untuk mengalihkan fokus Aisyah dari luka di wajahku.

“Mas…. koq bisa sama persis ya, hehehe…. Aisyah tuh juga pengen ngajak mas Yudha keliling tempat-tempat wisata di Dieng.

“Ya udah sayangSabtu pagi ya, aku akan sampai dirumahmu sepagi mungkin, sebelum ayam berhenti berkokok…” candaku sambil menahan tawa.

“Aduh mas Yudha, gak usah lebay ah…. Jam segitu mau jalan-jalan ntar malah ditangkap hansip, hik hik hik…” sahut Aisyah sambil tertawa cekikikan.

“Oh ya mas Yudha, aku juga mau ambil persyaratan wisuda senin besok, jadi nanti Aisyah nunut saja ke Semarangnya ya” lanjut Aisyah.

“Oke, aku bawa mobil aja kalau gitu”

“Loh mengapa mas Yudha, aku kan sudah kangen sama motor sport kamu”

“Aduh sungguh teganya teganya teganya hatimu, ternyata kangenmu hanya sama motorku “ balasku sambil pura-pura sedih sambil mengusap-usap air mataku, sehingga Aisyah tak bisa lagi menahan ketawanya.

“Aku khawatir aja sayang, kalau nanti hujan deras, kamu kan jadi basah kuyub sampai Semarang..” lanjutku

Kebetulan, hehehe........ Aisyah bisa berhujan-hujanan sama mas Yudha…” sahut Aisyah sambil memejamkan matanya, dan sekejap kemudian tertawa lagi lepas.

“Hmmmm kalau dekat dah aku cubit hidung kamu …. Terus kalau kamu sakit siapa yang akan ngerawat kamu, kan temen-temen kost kamu sudah pada pulang semua, masak sih harus kurawat di rumahku” candaku sambil kututup kedua mataku, tak sanggup menunggu dampratan Aisyah.

“Nih, aku jewer sampai putus telinga mas ya…..  berani-beraninya mbawa aku kerumah kamu” jawab Aisyah masih dengan wajah yang pura-pura cemberut.

Tak ayal membuat kami berdua jadi tertawa terpingkal-pingkal.

“Udah dulu ya sayang, salam buat Papa dan Mama juga mbok Yah”, dengan berat hati aku harus akhiri karena waktu yang sudah menjelang tengah malam.

“Ihh jahat, Aisyah kan belum puas kangennya sama mas Yudha….” rengek Aisyah tidak rela kalau harus berakhir percakapan yang penuh tawa dan canda.

“Sabar ya sayang, besok Sabtu kita kan bisa melepas rindu sepuasnya” bujukku sambil ku elus pipinya di layar ponselu.

“Oke deh mas Yudhaku sayang, I always love you, ever and after..” ucap Aisyah hampir berbisik.

“I do love you my sweet heart, semoga Allah selalu menjaga cinta kita, Aamiin…” bisikku sambil kupejamkan mata dengan penuh pengharapan padaNya.

“Aamiin” jawab Aisyah

Aku baru saja menghamparkan sajadah untuk sholat Duha ketika Umar menelephoneku,. Agak tergesa-gesa Umar memberitahuku kalau kedua preman tersebut dibebaskan karena ada jaminan dari seorang pengusaha besar di Semarang yang terkenal dekat dengan pejabat-pejabat tinggi di kota ini, dan Umar segera mengakhiri pembicaraan karena harus mengejar pesawat pagi dan tanpa mempedulikan aku yang masih terbengong-bengong. Aku jadi heran, apa hubungannya pengusaha sukses di semarang denganku, mengapa tidak terungkap kalau begundal-begundal itu suruhan Fadil anaknya seorang pengusaha dari Solo. Lebih aneh lagi kala Umar memberitahuku kalau alasan dibebaskannya kedua preman tersebut adalah tindak kejahatan yang dilakukan karena pengaruh alkohol dan tidak ada motif apapun selain sedang mabuk. Aku mau menghubungi om Fahrudin untuk mengadukan kejanggalan ini, tapi kuurungkan niatku karena untuk saat ini aku belum mau omku terlibat dalam kasus yang menimpaku ini.

Berlanjut.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  CINTAKU PADA SUATU MASA (III) CHAPTER 8 Selesai meeting, sore itu aku bergegas berkemas-kemas untuk pulang dan seperti biasa aku menulis...