CINTAKU PADA SUATU MASA (III)
CHAPTER 8
Selesai
meeting, sore itu aku bergegas berkemas-kemas untuk pulang dan seperti biasa
aku menuliskan beberapa memo singkat pada secarik kertas dan kutempelkan di
meja, karena cara itu yang ampuh untuk menyelamatkanku dari sifat pelupaku. Ada
sedikit rasa was-was sebenarnya untuk meninggalkan kantor selarut ini, apalagi beberapa hari ini aku sudah
rutin selalu pulang terlambat. Pelan-pelan kujalankan mobilku meninggalkan area
parkir yang sepi dan mulai beranjak gelap karena lampu penerangan yang kurang
memadai. Seperti biasa aku mengambil jalan alternative untuk menghindari
macetnya jalanan kota, rute yang biasa aku lewati setiap berangkat dan pulang
kerja ini sedikit memutar dan jauh dari pemukiman sehingga aku bisa memacu
mobilku sedikit lebih cepat. Dari kaca spionku aku melihat dua motor yang
berjarak cukup dekat dengan mobilku, sepertinya sudah sejak keluar dari
parkiran tadi mereka terlihat dibelakangku tapi mengapa mereka terus searah
jalan denganku, apakah mereka membuntutiku. Aku berusaha tenang dan tidak ambil
pusing dengan pengendara motor tersebut, aku berusaha meyakinkan pada diriku
kalau mereka memang satu arah denganku. Tiba-tiba ada suara yang cukup keras,
dan ternyata salah satu dari pengendara motor tersebut menghantamkan semacam
tongkat kayu kekaca samping dan berusaha
menjajariku, dan kuperhatikan pengendara yang satunya lagi menghantamkan
sesuatu dalam banku. Aku menjadi sadar kalau aku dalam bahaya, untungnya aku
sudah paham betul dengan daerah yang selalu kulalui setiap hari, segera aku pacu lebih cepat mobilku dan segera kubelokkan mobilku setelah
mencapai pom bensin. Mobilku mulai oleng dan menjadi susah dikendalikan,
setelah masuk ke area pom bensin aku segera turun untuk melihat kondisi
mobilku, sekilas dua pengendara motor mengawasiku dari jauh dan segera berlalu
ketika aku perhatikan. Aku sedikit bersyukur, baru saja terhindar dari marabahaya, dan pikiranku
langsung terlintas Fadil, akhirnya ancaman itu benar-benar ada dan sudah
didepan mata. Aku berusaha menepiskan bayang-bayang Fadil dan segera memeriksa
ban belakangku, ternyata dugaanku benar,asap mengepul dan bau hangus menyegat
dari arah ban belakangku, sebuah papan berisi beberapa paku masih menancap
disitu, untungnya didalam area pom bensin ada tukang tambal ban yang dengan
cekatan segera mengganti ban dengan ban cadangan, dan menyarankan untuk segera membeli
ban baru. Sejenak aku terpaku di depan kemudi, sesuatu yang aku khawatirkan akhirnya
terjadi juga. Mungkin ini merupakan peringatan awal agar aku menjauh dari
Aisyah, tapi kamu salah besar Fadil aku tidak akan menyerah menghadapi apapun
bentuk terormu.
Niat
untuk mampir sekaligus membawakan gado-gado kesukaan Aisyah kuurungkan, aku
takut Aisyah akan dapat membaca kekawatiran yang masih membekas dalam wajahku,
aku terpaksa berbohong dengan menginformasikan kalau mobilku ada kerusakan dan
aku harus membawanya kebengkel segera. Ada nada sedikit kecewa dalam desah
suaranya dan aku berjanji akan mengunjunginya besok. Aku masih tidak habis
pikir dengan Fadil, mengapa sampai sejauh itu dia berniat mau mencelakakan
orang lain, bukankah apabila kita mencintai seseorang apapun dilakukan demi
membahagiakannya atau setidak-tidaknya berbuat baik agar mendapat simpatinya. Apakah
keluarganya tidak mendidiknya dengan baik atau bahkan dendam kesumat
orangtuanya yang membuat Fadil semakin kalap. Aku segera terlelap malam itu
dengan beribu pertanyaan dan kekawatiran terutama tentang kelanjutan cintaku
dengan Aisyah, jujur aku juga sangat khawatir kalau kisah cintaku hanya sampai
disini, seperti kisah cinta Rachel Carlson pada Angus Mc. Culloch di Film Half
Light yang menggebu-gebu tapi hanya seumur jagung.
Sayup-sayup
suara kokok ayam jago nun jauh disana bersahut-sahutan membangunkanku dari
kelelapan, sebentar lagi adzan subuh pikirku. Aku bergegas kekamar mandi untuk mengambil air
wudlu, Kubasuh mukaku dengan air yang begitu sejuk berulang-ulang seakan hendak
meluruhkan segala kekawatiran dan ketakutan yang ada pada hatiku. Ku hadapkan
diri ini kepadaNya dengan memuji atas keagunganNya serta memohon ampunan dan pertolongan
atas semua perkara yang sedang aku hadapi. Aku baru mengakhiri doaku ketika
dari Handphoneku beberapa kali terdengar pesan masuk. Ada perasaan
was-was dan takut
sebetulnya untuk membukanya dan ternyata dugaanku benar, pesan-pesan yang
bernada ancaman tersebut pasti dari Fadil atau setidak-tidaknya orang suruhannya, aku segera menghapus
semua pesan yang masuk darinya tanpa satupun aku balas.
Aku
berjanji untuk menyembunyikan segala sesuatu yang berkaitan dengan kejadian
kemarin sore kepada siapapun termasuk teman-teman kantorku karena aku tdak mau
khabar itu akhirnya akan terdengar oleh Aisyah, biarkan kusimpan untuk diriku
sendiri. Aku tetap berusaha keras tampil riang dan penuh canda seakan tidak
pernah terjadi sesuatu kepadaku dan sejauh ini cukup berhasil. Untuk sementara
aku sengaja tidak membawa mobil dulu dan memanfaatkan jasa tranportasi online
atau sesekali naik motor yang sudah lama tidak pernah kumanfaatkan. Didalam
tasku pun sekarang tidak lupa selalu aku bawa teleskop kecil untuk memastikan
tidak ada yang mencurigakan dan satu lagi alat untuk melindungi diri yang aku
beli secara resmi beberapa waktu yang lalu atas bantuan omku yang menjadi
petinggi di kepolisian. Hal ini sangat membebani pikiranku dan harus kujalani hidup
dalam kewaspadaan penuh selama lebih kurang dua minggu sampai akhirnya aku
meyakini kalau ancaman itu sudah berlalu apalagi teror dari Fadil juga sudah
tidak kuterima lagi. Walaupun begitu untuk keluar rumah apalagi makan keluar
bersama Aisyah aku masih berhati-hati sekali, demi keamanan aku lebih memilih
memakai motor dengan jaket yang menutup rapat dan untungnya Aisyah juga
menikmati naik motor dan bahkan beberapakali memohon kepadaku untuk diijinkan
ikut touring bersama kelompokku.
“Mas
Yudha, mau gak suatu saat mengantar Aisyah pulang kerumah dengan motor ini, Aisyah
dah jatuh cinta dengan motor ini.”Bisik Aisyah dari belakang sambil
mendongakkan helmnya.
“Waduh
dapat saingan baru nih” gurauku sembari kunaikkan kaca helmku yang ketat
membungkus kepalaku.
“Hahaha….
Cemburuan amat sih sekarang” sahut Aisyah sambil menekan tangannya ke perutku,
“Serius
nih mas, Aisyah pengen mengenalkan mas Yudha kepada orangtua Aisyah” lanjut Aisyah
“Sekalian
nanti aku ngajak penghulu ya”
jawabku sambil cekikan
“Ih…
gemes deh” kali ini tekanan tangan Aisyah keperutku semakin kencang membuat aku
kesulitan bernafas karena menahannya.
“Okay…..”teriakku
kencang berharap Aisyah mau melonggarkan tangannya.
“Goodjob
mister, Sabtu pagi ya” balas Aisyah penuh kemenangan sambil mengendorkan
tekanan pada perutku.
Senang juga sih Aisyah tidak malu atau canggung kalau harus naik motor. Tapi aku
sangat khawatir kalau suatu saat Aisyah juga diteror sama Fadil, dan aku takut
hari-hariku yang penuh dengan suka cita seperti ini akan segera berlalu. Aku
berharap semoga Aisyah tidak tahu hal yang sebenarnya mengapa aku tiba-tiba
suka naik motor. Bukannya aku pengecut dan tidak berani menghadapi kejahatan
Fadil, tapi otakku masih waras untuk mengambil langkah menghindar dahulu sambil
memikirkan strategi yang tepat dalam menghadapi Fadil. Aku juga
tidak akan melibatkan omku yang seorang perwira tinggi di kepolisian, walau aku
tahu kalau omku pasti akan menolongku tanpa aku minta. Aku masih ingat saat
perusahaanku kedatangan para pendemo yang sebagian besar karyawan sendiri,
tanpa aku minta sepuluh perwira intel dibawah komandonya membayangiku kemanapun
aku melangkah.
CHAPTER 9
Pagi itu begitu dingin mengigit dan mataharipun belum mau menampakkan sinarnya, hawa dingin masih terasa menusuk tulang walau aku sudah memakai jaket tebal. Aku sudah
bersiap membawa Aisyah melaju dengan motorku, dengan jaket ditambah slayer Aisyah terlihat begitu innocent. Sheila dan Febri yang masih
berbalut selimut ikut mengantar sampai ujung pintu pagar. Sheila terlihat
mengkhawatirkan kami mengingat perjalanan yang akan kami tempuh cukup jauh dan
belum pernah sekalipun Aisyah naik motor untuk perjalanan yang begitu panjang. Aku
yakinkan pada Sheila bahwa semua akan baik-baik saja. Kujalankan motor sportku
perlahan membelah jalan yang masih sepi dan Aisyah tidak bosan-bosannya
mengingatkanku agar terus berhati-hati. Perjalanan cukup lancar karena belum
banyak kendaraan yang melaju apalagi di jalur pintas yang jarang dilewati mobil
disebabkan banyaknya tikungan serta turunan yang curam. Tidak banyak yang
kuperbincangkan selama perjalanan, aku memang harus berkonsentrasi dengan
motorku untuk melewati
beberapa tekukan yang cukup tajam dan sesekali harus mendahului beberapa truk
pembawa pasir yang nekat melewati jalur yang sangat berbahaya ini. Aisyah erat
memelukku dibelakang dan sesekali berteriak memperingatkanku bahkan terkadang
memukul perutku saat aku terlalu kencang mengendarai. Aku jadi ingat dengan
perkataan Aisyah beberapa bulan yang lalu bahwa keluarganya belum tentu bisa
menerima apabila calon menantunya bukan dari keturunan Arab. Tapi aku yakin
bahwa itu hanya kekawatiran Aisyah saja, akan kubuktikan bahwa aku pantas untuk
bisa mendapatkan restu dari oragtuanya. Kota Temanggung sudah lewat dan kami memutuskan
untuk tidak jadi mampir di alun-alun menikmati sedapnya soto temanggung, karena
rumah Aisyah tinggal beberapa belokan lagi. Tepat dipertigaan yang menuju
kekawasan wisata Dieng, Aisyah memberikan aba-aba untuk mengurangi kecepatan
karena sudah hampir sampai di rumahnya, dan beberapa saat kemudian Aisyah menunjuk rumah
putih dengan lantai dua
yang berdiri cukup gagah dan agak terpisah dari rumah-rumah penduduk yang lain.
Rumah Aisyah walau tidak mewah tapi cukup terawat dengan pekarangan depan yang
luas penuh dengan berbagai pepohonan yang rindang. Rasa penat dan letih yang
sempat menyergapku diperjalanan tadi tiba-tiba hilang seketika berada di rumah Aisyah
ini, apalagi Aisyah belum juga mau turun dari motor dan masih erat memelukku,
“Welcome to
my country, Welcome
to my home” ucap Aisyah
“Home
sweet home” desisku sambil masih mengamati bangunan rumah didepanku.
Aku
segera turun dari motor dan melepas jaket serta helmku, diikuti oleh Aisyah
yang tiada hentinya menebarkan senyum manisnya. Dari arah dalam nampak Papa dan Mamanya Aisyah
tergopoh-gopoh menyambut anak kesayangannya, Aisyah langsung memeluk kedua
orangtuanya dengan hangat. Aku masih menunggu dibelakang sekaligus menjadi
saksi bisu begitu hangatnya
hubungan keluarga Aisyah.
Aisyah menolehku dan memperkenalkanku kepada kedua orangtuanya, Aku segera mencium
tangan orangtua Aisyah dengan takzim sambil memperkenalkan diri
“Saya
Yudha om & tante….” Sedikit gugup aku menata kata-kataku
Papanya Aisyah
langsung merangkulku dengan hangat,
“Selamat
datang nak... nak Yudha”
ucap Papanya Aisyah sambil masih terus memegang tanganku.
“Yuk,
masuk ke dalam dulu nak” lanjutnya sambil masih menggandeng tanganku untuk dibimbing
masuk kedalam rumah.
Aku cukup kagum dengan penataan ruang tamu yang bersih dan terkesan elegan, Sofa berwarna putih tulang tertata apik di tegah-tengah ruangan, lemari hias dan buffet tepat dipojok ruangan dengan warna senada berisi beberapa beberapa foto keluarga. Kehangatan dari cara penyambutan mereka telah menghilangkan kekawatiranku akan penolakan orangtua Aisyah kepadaku, sungguh tidak terbukti ketakutan Aisyah, paling tidak sampai detik ini. Mamanya Aisyah segera duduk menjajariku dan memelukku seakan tidak mau ketinggalan dengan Papanya Aisyah, aku bisa merasakan pancaran rasa bahagia dan bangga dari raut wajahnya.
“Ihhhh….
Koq semua pada memeluk mas Yudha tanpa ijin dulu” celetuk Aisyah dari belakang
yang membuat semua jadi tertawa geli.
“Aduh
anak Mama cemburu ya” goda Mama sambil beringsut berdiri dari duduknya gentian
memeluk anak semata wayangnya tersebut dengan erat.
Aku jadi tersenyum sendiri menyaksikan hangatnya
suasana keluarga Aisyah jauh dari dugaanku semula dimana aku
kira
keluarga Aisyah akan dipenuhi
dengan suasana kesedihan. Papanya Aisyah terlihat jelas berparas arab
mengingatkanku akan bintang film Hollywood legendaris Omar Syarif, sementara Mamanya Aisyah tidak terlihat wajah arabnya kecuali hidung yang mancung dan bulu mata
yang lentik persis seperti Aisyah. Bahkan sejujurnya mereka berdua lebih cocok
seperti kakak beradik, sama-sama mempunyai kecantikan ala gadis Turki.
“Yuk
diminum mas Yudha, jangan terpana dengan kecantikan Mama, nanti Aisyah cemburu
lho” sergap Aisyah yang menyodorkan segelas minuman hangat sambil melirik Mamanya
dengan nakal.
Aku jadi
salah tingkah dan hampir saja menumpahkan isi gelas yang dibawa Aisyah, Papa
dan Mamanya Aisyah tertawa kecil demi melihat kenakalan anaknya.
“Hm… nak
Yudha” sela Papanya Aisyah yang sudah berdiri dari duduknya
“Saya tinggal dulu ya, mau
meninjau tanaman kenthang yang akan segera dipanen, kalau tidak buru-buru nanti
sore saya
mau bicara sebentar” lanjutnya sambil membuka handphone ditangannya.
“Insyaallah
om, Yudha akan tunggu sampai om pulang dari kebun” jawabku dengan sopan.
“Aisyah
kamu ajak dulu makan, mbok Yah sudah menyiapkan dilantai atas” lanjutnya lagi
sambil menepuk-nepuk pundak Aisyah.
Sambil
tersenyum kepadaku Papanya Aisyah bergegas meninggalkan kami.
“Yuk nak
Yudha langsung saja keatas”
ajak Mamanya Aisyah setelah menutup pintu depan.
Aku segera
bangkit dan bergegas mengikuti Aisyah dan Mamanya dari belakang, Aisyah Nampak
manja dalam pelukan erat tangan Mamanya. Aku bersyukur dalam hati dan berharap suatu saat nanti
menjadi bagian dalam keluarga ini.
“Wow
sempurna” teriakku ketika sudah sampai dilantai atas, sebuah ruangan terbuka yang
berfungsi sebagai teras tersebut menghadap ke pemandangan yang luar biasa nun
jauh disana. Nampak sejauh mata memandang pepohonan yang menghijau diselimuti
kabut tipis bak selendang sutera yang menari-nari diatas permadani. Terik
matahari tidak begitu terasa bahkan hembusan angin yang sesekali menyapu teras
tersebut membawa hawa yang cukup membuatku kedinginan.
Meja makan persis di sebelah teras hingga hawa dingin tersebut sesekali
menyapa seluruh tubuhku dan membuatku jadi jatuh hati dengan rumah Aisyah ini. Setelah
selesai
makan, aku duduk-duduk santai di sofa yang berdekatan dengan meja makan dan menghadap ke teras.
Sejenak aku ingin menikmati
alam pegunungan yang terhampar diluar sana, diiringi lagu-lagu lama yang
sayup-sayup terdengar dari lantai bawah, beberapa aku bisa mengenali seperti
Nothing Gona Chane My Love For You, How
I Remember You, One Day
In Your Life, Earth Angel
dan masih ada beberapa lagi, sambil batinku berharap alam ikut
mentasbihkan kehadiranku ditengah-tengah keluarga ini. Beberapa gerombolan awan
nampak berarak diatas pepohonan dan terus bergerak menjauh, dibawahnya nampak
bayangan hitam dengan setia mengikuti kemanapun awan bergerak. Angin semakin
kencang menerpa wajahku dan setiap wajahku tersapu angin, kurasakan kesegaran
alam pegunungan membelai wajahku. Sungguh kediaman yang sempurna dan aku
berjanji dalam hati untuk menghabiskan sisa hidupku bersama Aisyah membangun
rumah tangga dilereng perbukitan dengan keindahan panorama yang bisa kami nikmati setiap hari.
“Asyik
banget ngelamunnya mas” bisik Aisyah yang tiba-tiba sudah ada disampingku.
Aku
menatap Aisyah sekejap dan kuraih tangan Aisyah dan kupegang erat tapi segera kulepaskan
lagi pegangan tanganku karena kulihat Mamanya Aisyah berjalan mendekat.
“Aisyah,
nak Yudha ditawarin istirahat dong, Mama dah siapkan
kamar di sebelah” sela Mamanya Aisyah yang sudah berdiri disamping Aisyah.
“Gak usah
repot-repot tante, saya masih ingin duduk-duduk disini Bersama Aisyah, anginnya
sungguh segar membuat enggan beranjak dari sini” jawabku sambil kulirik Aisyah.
“Tenang
aja Mama, sebagai tuan rumah Aisyah akan menjaga mas Yudha dengan baik meskipun
harus menahan kantuk sampai sore” timpa Aisyah sambil nyengir memperlihatkan
barisan giginya yang rapi.
“Ya … aku
pasti betah
disini karena
ditunggui oleh sang
putri” bisikku pada Aisyah.
“Siap sang pangeran hatiku” bisik Aisyah tepat
di telingaku sambil memukul pelan punggungku.
Sore yang dingin
disertai hembusan angin yang membuatku terasa menggigil walau sudah mengenakan
jaket tebalku. Aku
sudah bersiap-siap mau pulang, setelah Papanya Aisyah memberitahukan beberapa hal
penting yang harus kusimpan rapat-rapat sampai suatu saat nanti tiba, bahkan Aisyahpun
tidak pernah tahu masalah ini. Kucium dan kupeluk kedua orangtua Aisyah dan
kuanggukkan kepalaku saat mereka berpesan
untuk hati-hati dan jaga diri dengan baik. Aisyah masih berdiri dibelakang
sambil memeluk helmku, seakan tak mau melepaskannya dari dekapannya. Aku
berusaha meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja, dan selama Aisyah
menghabiskan liburan di rumah, aku berjanji akan rutin mengunjunginya setiap
akhir pekan.
“Kan ada
helmku yang kemarin kamu pakai sebagai jaminan kalau aku pasti akan kembali
kesini” candaku agar Aisyah terhibur.
“Mas
Yudha janji ya akan selalu mengabari Aisyah apapun yang terjadi dan dimanapun
mas Yudha berada” pinta Aisyah dengan mata yang sembab.
“Insyaallah
sayang, aku kan tidak akan maju perang cantikku” godaku lagi
Kali ini Aisyah
sedikit tersenyum dan itu cukup membuatku lega.
Pelan-pelan
kutinggalkan Aisyah dan kedua orangtuanya untuk kembali ke Semarang dengan
motor sportku. Pengalaman yang sangat menakjubkan, gumamku sambil mempercepat
laju motorku membelah jalan raya yang masih sepi.
CHAPTER
10
Setelah beberapa pertimbangan akhirnya aku putuskan untuk mengiyakan
tawaran Umar, teman baikku sejak kecil untuk makan malam bersama sekaligus
merayakan kepindahannya dari Mabes ke Polda Semarang. Hujan masih cukup deras
saat aku mulai menjalankan mobilku menyusuri kota menuju ke suatu rumah makan
sesuai dengan permintaan Umar. Hawa
dingin menyergapku ketika aku keluar dari mobil untuk memastikan suara yang
berdebum yang barusan terdengar dari belakang mobil. Aku baru saja mau menunduk
meneliti setiap jengkal mobilku ketika sebuah tendangan keras dari arah samping
tepat mengenai pinggangku sehingga membuatku terjungkal. Aku berusaha untuk
bangun tetapi sebuah tendangan dari belakang membuat tubuhku terpental
menghempas bodi mobilku. Secepat kilat aku langsung menelusup ke kolong bawah
mobilku untuk bersembunyi dan berusaha memahami sebenarnya apa yang sedang terjadi. Darah mengucur segar
dari mulut dan hidungku, perih sekali. Aku menggeser badanku ke samping ketika
sebuah tongkat di sodok-sodokkan ke arahku, aku berusaha menggeser tubuhku ke
belakang mobil secepatnya dan tanpa kesulitan aku segera keluar dari kolong
mobilku. Aku segera berkelit dari pukulan tongkat yang diarahkan ke kepalaku
dan sambil menghempaskan tubuh ketanah aku berhasil menendang kakinya dan
merebut tongkatnya yang terlepas dari tangannya. Tanpa ampun lagi segera aku
gebuk kepalanya yang sedang berusaha
berdiri serta ku hantamkan sekeras-kerasnya ke arah temannya yang berusaha
meninjuku dari belakang, sehingga membuat keduanya
terpental dan darah mengucur deras dari pelipis dan hidungnya. Salah satu dari
mereka mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya dan segera merangsekku
untuk bisa menghunuskan pisaunya ke tubuhku, aku berusaha menghindar sambil ku
ayunkan tongkat kesana-kemari. Walau pada awalnya mereka berdua terlihat sudah
mulai kepayahan tapi dengan memegang pisau ditangannya mereka kembali terlihat beringas.
Bahkan beberapa kali tangan dan punggungku terkena sayatan pisau sehingga
membuat darah mulai merembes dari pergelangan tanganku dan aku mulai terdesak
karena tangan kananku terasa kaku dan semakin sulit untuk memegang tongkat. Aku
hanya bisa bertahan dengan berusaha menangkis setiap serangan dari mereka
berdua dengan menempelkan punggungku pada mobilku. Tiba-tiba Umar datang dan
segera merangsek meghajar tanpa ampun kedua preman tersebut, aku yang sudah
lunglai tiba-tiba
seperti mendapat energi baru dan berkali-kali kupukulkan tongkat yang ada
ditanganku tepat dipunggung dan kepala salah satu preman tersebut. Setelah
beberapa saat mereka menjadi bulan-bulanan aku dan Umar akhirnya mereka
terjatuh lemas bersimbah darah. Aku berusaha
menghajar salah satu dari mereka yang sudah kukunci dengan kakiku, beberapa kali
bogem mentahku menghajar hidung dan pipinya, membuat darah segar mengucur dari
hidung dan mulutnya.
“Hentikan Yudha, demi Allah jangan membuat mereka
kehilangan nyawa, nanti akan panjang
urusannya” cegah Umar
sambil menarikku sekuat tenaga menjauh dari preman tersebut.
“Huh…
biar mampus sekalian” ucapku
sambil meronta berusaha lepas dari cengkeraman tangan Umar.
“Stop Yudha, cukup...! teriak Umar sambil mengunci tangan dan kakiku. Umar
memang sangat kuat dan tubuhnya sangat kekar, membuat aku kalah tenaga bergelut
dengannya.
“Kamu tidak tahu kejahatan yang telah mereka lakukan padaku” teriakku pada
Umar yang terus menahan tangan dan kakiku agar tidak terlepas.
“Lepaskan tanganku Umar, sakit sekali” teriakku mengiba dan Umar segera
melepaskannya.
Tubuhku masih bergetar menahan amarah dalam dadaku, nafasku pun masih
memburu ketika Umar merangkulku untuk masuk kemobil.
Umar menelphone kesatuannya untuk datang mengurus kedua preman tersebut dan
setelah terdengar raungan ambulance diiringi mobil pratoli dari kejauhan Umar
segera menjalankan mobilnya membawaku ke klinik terdekat, tentang mobilku Umar
meyakinkanku akan diurus dengan baik oleh anak buahnya.
Aku baru
menyadari kalau tidak hanya luka-luka lecet di tangan dan pipiku, tapi di lengan
dan punggung tangan kananku harus dijahit
karena ada luka yang cukup dalam. Tapi aku masih beruntung karena dokter
mengijinkanku langsung bisa pulang malam itu juga tidak perlu menginap.
“Yud, kenapa dengan orang-orang itu, sepertinya ada niat untuk
mencelakaimu” Tanya Umar setelah menjalankan mobilnya mengantakanku pulang.
“Kamu punya musuh?” selidik Umar
Aku masih diam saja, pura-pura meringis biar dikira tidak mendengar
pertanyaan Umar.
“Setahuku hidupmu lempeng-lempeng aja, minum kagak, ngobat kagak main
perempuan juga gak pernah” cerca Umar sambil duduk tepat disampingku seakan
takut gak terdengar lagi.
“Kamu harus jujur sama aku Yud, aku kan sahabatmu sejak kecil dan sekarang
kita sama-sama di kota ini, masak kamu juga gak mempercayaiku sih” lanjut Umar
sedikit memberi tekanan pada suaranya dan terus memperhatikan aku yang sedang
merintih kesakitan.
“thanks kawan, kamu datang tepat pada waktunya, besok kamu pasti tahu saat
kamu menginterogasi para preman tersebut” jawabku singkat dan bergegas menuju
mobilku untuk istirahat di rumah.
“Maaf kalau malam ini aku tidak bisa memenuhi undanganmu” lanjutku.
“Hehehe masih juga bisa berkelakar kau kawan, hubungi aku kalau kamu butuh
pertolongan” ucap Umar sambil menepuk-nepuk pundakku.
Aku rangkul sahabat sejak kecilku tersebut yang sekarang sudah menjadi
perwira menengah di Reskrim. Karirnya melesat setelah sempat menjadi ajudan
pejabat tinggi di Mabes. Aku ikut bersyukur dengan kesuksesan yang dia capai,
semoga tetap menjaga amanah.
Ketakutanku
bukan karena aku harus menghadapi teror ini terus-menerus entah sampai kapan,
tapi kekawatiranku adalah
apabila Aisyah mengetahui tentang hal ini pasti jiwanya akan terguncang. Aku berjanji
akan mengabarinya besok pagi tentang kecelakaan yang aku alami sesuai janjiku saat aku
meninggalkan rumahnya tempo hari. Tetapi untuk hal ini aku harus berbohong dengan membuat
cerita lain karena aku
belum siap semua ini diketahui oleh Aisyah dan keluarganya, tapi sampai kapan
hal ini akan terus aku tutupi.
“Halo mas
Yudha” suara Aisyah terdengar ceria sambal tersenyum cengar-cengir dilayar ponselku..
“Halo Aisyah”
jawabku sambil berusaha kucubit kedua pipinya yang memenuhi layar ponselku.
“Ya Allah
mas Yudha…… ada apa dengan kening dan pelipismu?’ tanya Aisyah yang ternyata
cukup jeli juga menangkap ada bekas luka-luka diwajahku akibat kejadian kemarin
malam, walau aku sudah berusaha menyembunyikan dari kamera ponselku dengan
menghidupkan aplikasi filter camera.
“Gak
apa-apa koq sayang,
hanya sedikit memar karena terjatuh saat Latihan futsal tadi malam” jawabku
sekenanya. Maafkan aku ya Aisyah,
batinku karena aku tidak bisa membayangkan kalau aku berkata jujur. Suatu saat
aku akan mengatakan hal yang sebenarnya tapi entah kapan.
“Eh mas
Yudha koq jadi ngelamun, mikirin apa sih… Aisyah jadi gak tenang nih, hati-hati
ya mas jangan biarkan Aisyah jadi khawatir kalau terjadi apa-apa dengan mas
Yudha ?” sergap Aisyah yang membuatku jadi tambah celingusan.
“Aku lagi
mikirin…. bagaimana kalau besok Sabtu kita
menjelajahi Kawasan wisata Dieng, Nepal from Java…. hehehe…” jawabku
sekenanya untuk mengalihkan fokus Aisyah dari luka di wajahku.
“Mas….
koq bisa sama persis ya, hehehe…. Aisyah tuh juga pengen ngajak mas Yudha
keliling tempat-tempat wisata di Dieng.
“Ya udah sayang… Sabtu pagi ya, aku akan
sampai dirumahmu sepagi mungkin, sebelum ayam berhenti berkokok…” candaku
sambil menahan tawa.
“Aduh mas
Yudha, gak usah lebay ah…. Jam segitu mau jalan-jalan ntar malah ditangkap
hansip, hik hik hik…” sahut Aisyah sambil tertawa cekikikan.
“Oh ya
mas Yudha, aku juga mau ambil persyaratan wisuda senin besok, jadi nanti Aisyah
nunut saja ke Semarangnya ya” lanjut Aisyah.
“Oke, aku
bawa mobil aja kalau gitu”
“Loh
mengapa mas Yudha, aku kan sudah kangen sama motor sport kamu”
“Aduh sungguh
teganya teganya teganya hatimu,
ternyata kangenmu hanya
sama motorku “ balasku sambil pura-pura sedih sambil
mengusap-usap
air mataku, sehingga Aisyah tak bisa lagi menahan ketawanya.
“Aku
khawatir aja sayang,
kalau nanti hujan deras, kamu kan jadi basah kuyub sampai Semarang..” lanjutku
“Kebetulan,
hehehe........ Aisyah bisa
berhujan-hujanan sama mas Yudha…”
sahut Aisyah sambil memejamkan matanya, dan sekejap kemudian tertawa lagi
lepas.
“Hmmmm
kalau dekat dah aku cubit hidung kamu …. Terus kalau kamu sakit siapa yang akan
ngerawat kamu, kan
temen-temen kost
kamu sudah
pada pulang
semua, masak sih harus kurawat
di rumahku” candaku sambil kututup kedua mataku, tak sanggup menunggu dampratan
Aisyah.
“Nih, aku
jewer sampai putus telinga mas ya….. berani-beraninya mbawa aku kerumah kamu” jawab
Aisyah masih dengan wajah yang pura-pura cemberut.
Tak ayal
membuat kami berdua jadi tertawa terpingkal-pingkal.
“Udah
dulu ya sayang,
salam buat Papa dan Mama juga mbok Yah”, dengan berat hati aku harus akhiri
karena waktu
yang sudah menjelang tengah malam.
“Ihh
jahat, Aisyah kan belum puas kangennya sama mas Yudha….” rengek Aisyah tidak
rela kalau harus berakhir percakapan yang penuh tawa dan canda.
“Sabar ya
sayang, besok Sabtu kita kan bisa melepas rindu sepuasnya” bujukku sambil ku
elus pipinya di layar ponselu.
“Oke deh mas
Yudhaku sayang, I always love you, ever and after..” ucap Aisyah hampir
berbisik.
“I do
love you my sweet heart, semoga Allah selalu menjaga cinta kita, Aamiin…” bisikku
sambil kupejamkan mata dengan penuh pengharapan padaNya.
“Aamiin”
jawab Aisyah
Aku baru saja menghamparkan sajadah untuk sholat Duha ketika Umar menelephoneku,. Agak tergesa-gesa Umar memberitahuku kalau kedua preman tersebut dibebaskan karena
ada jaminan dari seorang pengusaha besar
di Semarang yang terkenal dekat dengan pejabat-pejabat tinggi di kota ini, dan Umar segera mengakhiri pembicaraan karena harus mengejar pesawat pagi dan tanpa mempedulikan aku yang masih terbengong-bengong. Aku
jadi heran, apa hubungannya pengusaha sukses di semarang denganku, mengapa tidak
terungkap kalau begundal-begundal itu suruhan Fadil anaknya seorang pengusaha
dari Solo. Lebih aneh lagi kala Umar memberitahuku kalau alasan dibebaskannya kedua
preman tersebut adalah tindak kejahatan yang dilakukan karena pengaruh alkohol
dan tidak ada motif apapun selain sedang mabuk. Aku mau menghubungi om Fahrudin
untuk mengadukan kejanggalan ini, tapi kuurungkan niatku karena untuk saat ini
aku belum mau omku terlibat dalam kasus yang menimpaku ini.
Berlanjut.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar