Kamis, 28 April 2022

 

CINTAKU PADA SUATU MASA (III)


CHAPTER 8

Selesai meeting, sore itu aku bergegas berkemas-kemas untuk pulang dan seperti biasa aku menuliskan beberapa memo singkat pada secarik kertas dan kutempelkan di meja, karena cara itu yang ampuh untuk menyelamatkanku dari sifat pelupaku. Ada sedikit rasa was-was sebenarnya untuk meninggalkan kantor selarut ini, apalagi beberapa hari ini aku sudah rutin selalu pulang terlambat. Pelan-pelan kujalankan mobilku meninggalkan area parkir yang sepi dan mulai beranjak gelap karena lampu penerangan yang kurang memadai. Seperti biasa aku mengambil jalan alternative untuk menghindari macetnya jalanan kota, rute yang biasa aku lewati setiap berangkat dan pulang kerja ini sedikit memutar dan jauh dari pemukiman sehingga aku bisa memacu mobilku sedikit lebih cepat. Dari kaca spionku aku melihat dua motor yang berjarak cukup dekat dengan mobilku, sepertinya sudah sejak keluar dari parkiran tadi mereka terlihat dibelakangku tapi mengapa mereka terus searah jalan denganku, apakah mereka membuntutiku. Aku berusaha tenang dan tidak ambil pusing dengan pengendara motor tersebut, aku berusaha meyakinkan pada diriku kalau mereka memang satu arah denganku. Tiba-tiba ada suara yang cukup keras, dan ternyata salah satu dari pengendara motor tersebut menghantamkan semacam tongkat kayu  kekaca samping dan berusaha menjajariku, dan kuperhatikan pengendara yang satunya lagi menghantamkan sesuatu dalam banku. Aku menjadi sadar kalau aku dalam bahaya, untungnya aku sudah paham betul dengan daerah yang selalu kulalui setiap hari, segera aku pacu lebih cepat mobilku dan segera kubelokkan mobilku setelah mencapai pom bensin. Mobilku mulai oleng dan menjadi susah dikendalikan, setelah masuk ke area pom bensin aku segera turun untuk melihat kondisi mobilku, sekilas dua pengendara motor mengawasiku dari jauh dan segera berlalu ketika aku perhatikan. Aku sedikit bersyukur, baru saja terhindar dari marabahaya, dan pikiranku langsung terlintas Fadil, akhirnya ancaman itu benar-benar ada dan sudah didepan mata. Aku berusaha menepiskan bayang-bayang Fadil dan segera memeriksa ban belakangku, ternyata dugaanku benar,asap mengepul dan bau hangus menyegat dari arah ban belakangku, sebuah papan berisi beberapa paku masih menancap disitu, untungnya didalam area pom bensin ada tukang tambal ban yang dengan cekatan segera mengganti ban dengan ban cadangan, dan menyarankan untuk segera membeli ban baru. Sejenak aku terpaku di depan kemudi, sesuatu yang aku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Mungkin ini merupakan peringatan awal agar aku menjauh dari Aisyah, tapi kamu salah besar Fadil aku tidak akan menyerah menghadapi apapun bentuk terormu.

Niat untuk mampir sekaligus membawakan gado-gado kesukaan Aisyah kuurungkan, aku takut Aisyah akan dapat membaca kekawatiran yang masih membekas dalam wajahku, aku terpaksa berbohong dengan menginformasikan kalau mobilku ada kerusakan dan aku harus membawanya kebengkel segera. Ada nada sedikit kecewa dalam desah suaranya dan aku berjanji akan mengunjunginya besok. Aku masih tidak habis pikir dengan Fadil, mengapa sampai sejauh itu dia berniat mau mencelakakan orang lain, bukankah apabila kita mencintai seseorang apapun dilakukan demi membahagiakannya atau setidak-tidaknya berbuat baik agar mendapat simpatinya. Apakah keluarganya tidak mendidiknya dengan baik atau bahkan dendam kesumat orangtuanya yang membuat Fadil semakin kalap. Aku segera terlelap malam itu dengan beribu pertanyaan dan kekawatiran terutama tentang kelanjutan cintaku dengan Aisyah, jujur aku juga sangat khawatir kalau kisah cintaku hanya sampai disini, seperti kisah cinta Rachel Carlson pada Angus Mc. Culloch di Film Half Light yang menggebu-gebu tapi hanya seumur jagung.

Sayup-sayup suara kokok ayam jago nun jauh disana bersahut-sahutan membangunkanku dari kelelapan, sebentar lagi adzan subuh pikirku. Aku bergegas kekamar mandi untuk mengambil air wudlu, Kubasuh mukaku dengan air yang begitu sejuk berulang-ulang seakan hendak meluruhkan segala kekawatiran dan ketakutan yang ada pada hatiku. Ku hadapkan diri ini kepadaNya dengan memuji atas keagunganNya serta memohon ampunan dan pertolongan atas semua perkara yang sedang aku hadapi. Aku baru mengakhiri doaku ketika dari Handphoneku beberapa kali terdengar pesan masuk. Ada perasaan was-was dan takut sebetulnya untuk membukanya dan ternyata dugaanku benar, pesan-pesan yang bernada ancaman tersebut pasti dari Fadil atau setidak-tidaknya orang suruhannya, aku segera menghapus semua pesan yang masuk darinya tanpa satupun aku balas.

Aku berjanji untuk menyembunyikan segala sesuatu yang berkaitan dengan kejadian kemarin sore kepada siapapun termasuk teman-teman kantorku karena aku tdak mau khabar itu akhirnya akan terdengar oleh Aisyah, biarkan kusimpan untuk diriku sendiri. Aku tetap berusaha keras tampil riang dan penuh canda seakan tidak pernah terjadi sesuatu kepadaku dan sejauh ini cukup berhasil. Untuk sementara aku sengaja tidak membawa mobil dulu dan memanfaatkan jasa tranportasi online atau sesekali naik motor yang sudah lama tidak pernah kumanfaatkan. Didalam tasku pun sekarang tidak lupa selalu aku bawa teleskop kecil untuk memastikan tidak ada yang mencurigakan dan satu lagi alat untuk melindungi diri yang aku beli secara resmi beberapa waktu yang lalu atas bantuan omku yang menjadi petinggi di kepolisian. Hal ini sangat membebani pikiranku dan harus kujalani hidup dalam kewaspadaan penuh selama lebih kurang dua minggu sampai akhirnya aku meyakini kalau ancaman itu sudah berlalu apalagi teror dari Fadil juga sudah tidak kuterima lagi. Walaupun begitu untuk keluar rumah apalagi makan keluar bersama Aisyah aku masih berhati-hati sekali, demi keamanan aku lebih memilih memakai motor dengan jaket yang menutup rapat dan untungnya Aisyah juga menikmati naik motor dan bahkan beberapakali memohon kepadaku untuk diijinkan ikut touring bersama kelompokku.

“Mas Yudha, mau gak suatu saat mengantar Aisyah pulang kerumah dengan motor ini, Aisyah dah jatuh cinta dengan motor ini.”Bisik Aisyah dari belakang sambil mendongakkan helmnya.

“Waduh dapat saingan baru nih” gurauku sembari kunaikkan kaca helmku yang ketat membungkus kepalaku.

“Hahaha…. Cemburuan amat sih sekarang” sahut Aisyah sambil menekan tangannya ke perutku,

“Serius nih mas, Aisyah pengen mengenalkan mas Yudha kepada  orangtua Aisyah” lanjut Aisyah

Sekalian nanti aku ngajak penghulu ya” jawabku sambil cekikan

“Ih… gemes deh” kali ini tekanan tangan Aisyah keperutku semakin kencang membuat aku kesulitan bernafas karena menahannya.

“Okay…..”teriakku kencang berharap Aisyah mau melonggarkan tangannya.

“Goodjob mister, Sabtu pagi ya” balas Aisyah penuh kemenangan sambil mengendorkan tekanan pada perutku.

Senang juga sih Aisyah tidak malu atau canggung kalau harus naik motor. Tapi aku sangat khawatir kalau suatu saat Aisyah juga diteror sama Fadil, dan aku takut hari-hariku yang penuh dengan suka cita seperti ini akan segera berlalu. Aku berharap semoga Aisyah tidak tahu hal yang sebenarnya mengapa aku tiba-tiba suka naik motor. Bukannya aku pengecut dan tidak berani menghadapi kejahatan Fadil, tapi otakku masih waras untuk mengambil langkah menghindar dahulu sambil memikirkan strategi yang tepat dalam menghadapi Fadil. Aku juga tidak akan melibatkan omku yang seorang perwira tinggi di kepolisian, walau aku tahu kalau omku pasti akan menolongku tanpa aku minta. Aku masih ingat saat perusahaanku kedatangan para pendemo yang sebagian besar karyawan sendiri, tanpa aku minta sepuluh perwira intel dibawah komandonya membayangiku kemanapun aku melangkah.

 

CHAPTER 9

Pagi itu begitu dingin mengigit dan mataharipun belum mau menampakkan sinarnya, hawa dingin masih terasa menusuk tulang walau aku sudah memakai jaket tebal. Aku sudah bersiap membawa Aisyah melaju dengan motorku, dengan jaket ditambah slayer Aisyah terlihat begitu innocent. Sheila dan Febri yang masih berbalut selimut ikut mengantar sampai ujung pintu pagar. Sheila terlihat mengkhawatirkan kami mengingat perjalanan yang akan kami tempuh cukup jauh dan belum pernah sekalipun Aisyah naik motor untuk perjalanan yang begitu panjang. Aku yakinkan pada Sheila bahwa semua akan baik-baik saja. Kujalankan motor sportku perlahan membelah jalan yang masih sepi dan Aisyah tidak bosan-bosannya mengingatkanku agar terus berhati-hati. Perjalanan cukup lancar karena belum banyak kendaraan yang melaju apalagi di jalur pintas yang jarang dilewati mobil disebabkan banyaknya tikungan serta turunan yang curam. Tidak banyak yang kuperbincangkan selama perjalanan, aku memang harus berkonsentrasi dengan motorku untuk melewati beberapa tekukan yang cukup tajam dan sesekali harus mendahului beberapa truk pembawa pasir yang nekat melewati jalur yang sangat berbahaya ini. Aisyah erat memelukku dibelakang dan sesekali berteriak memperingatkanku bahkan terkadang memukul perutku saat aku terlalu kencang mengendarai. Aku jadi ingat dengan perkataan Aisyah beberapa bulan yang lalu bahwa keluarganya belum tentu bisa menerima apabila calon menantunya bukan dari keturunan Arab. Tapi aku yakin bahwa itu hanya kekawatiran Aisyah saja, akan kubuktikan bahwa aku pantas untuk bisa mendapatkan restu dari oragtuanya. Kota Temanggung sudah lewat dan kami memutuskan untuk tidak jadi mampir di alun-alun menikmati sedapnya soto temanggung, karena rumah Aisyah tinggal beberapa belokan lagi. Tepat dipertigaan yang menuju kekawasan wisata Dieng, Aisyah memberikan aba-aba untuk mengurangi kecepatan karena sudah hampir sampai di rumahnya, dan  beberapa saat kemudian Aisyah menunjuk rumah putih dengan lantai dua yang berdiri cukup gagah dan agak terpisah dari rumah-rumah penduduk yang lain. Rumah Aisyah walau tidak mewah tapi cukup terawat dengan pekarangan depan yang luas penuh dengan berbagai pepohonan yang rindang. Rasa penat dan letih yang sempat menyergapku diperjalanan tadi tiba-tiba hilang seketika berada di rumah Aisyah ini, apalagi Aisyah belum juga mau turun dari motor dan masih erat memelukku,

“Welcome to my country, Welcome to my home” ucap Aisyah  

“Home sweet home” desisku sambil masih mengamati bangunan rumah didepanku.

Aku segera turun dari motor dan melepas jaket serta helmku, diikuti oleh Aisyah yang tiada hentinya menebarkan senyum manisnya. Dari arah dalam nampak Papa dan Mamanya Aisyah tergopoh-gopoh menyambut anak kesayangannya, Aisyah langsung memeluk kedua orangtuanya dengan hangat. Aku masih menunggu dibelakang sekaligus menjadi saksi bisu begitu hangatnya hubungan keluarga Aisyah. Aisyah menolehku dan memperkenalkanku kepada kedua orangtuanya, Aku segera mencium tangan orangtua Aisyah dengan takzim sambil memperkenalkan diri

“Saya Yudha om & tante….” Sedikit gugup aku menata kata-kataku

Papanya Aisyah langsung merangkulku dengan hangat,

Selamat datang nak... nak Yudha” ucap Papanya Aisyah sambil masih terus memegang tanganku.

“Yuk, masuk ke dalam dulu nak” lanjutnya sambil masih menggandeng tanganku untuk dibimbing masuk kedalam rumah.

Aku cukup kagum dengan penataan ruang tamu yang bersih dan terkesan elegan, Sofa berwarna putih tulang tertata apik di tegah-tengah ruangan, lemari hias dan buffet tepat dipojok ruangan dengan warna senada berisi beberapa beberapa foto keluarga. Kehangatan dari cara penyambutan mereka telah menghilangkan kekawatiranku akan penolakan orangtua Aisyah kepadaku, sungguh tidak terbukti ketakutan Aisyah, paling tidak sampai detik ini. Mamanya Aisyah segera duduk menjajariku dan memelukku seakan tidak mau ketinggalan dengan Papanya Aisyah, aku bisa merasakan pancaran rasa bahagia dan bangga dari raut wajahnya.

“Ihhhh…. Koq semua pada memeluk mas Yudha tanpa ijin dulu” celetuk Aisyah dari belakang yang membuat semua jadi tertawa geli.

“Aduh anak Mama cemburu ya” goda Mama sambil beringsut berdiri dari duduknya gentian memeluk anak semata wayangnya tersebut dengan erat.

Aku jadi tersenyum sendiri menyaksikan hangatnya suasana keluarga Aisyah jauh dari dugaanku semula dimana aku kira keluarga Aisyah akan dipenuhi dengan suasana kesedihan. Papanya Aisyah terlihat jelas berparas arab mengingatkanku akan bintang film Hollywood legendaris Omar Syarif, sementara Mamanya Aisyah tidak terlihat wajah arabnya kecuali hidung yang mancung dan bulu mata yang lentik persis seperti Aisyah. Bahkan sejujurnya mereka berdua lebih cocok seperti kakak beradik, sama-sama mempunyai kecantikan ala gadis Turki.

“Yuk diminum mas Yudha, jangan terpana dengan kecantikan Mama, nanti Aisyah cemburu lho” sergap Aisyah yang menyodorkan segelas minuman hangat sambil melirik Mamanya dengan nakal.

Aku jadi salah tingkah dan hampir saja menumpahkan isi gelas yang dibawa Aisyah, Papa dan Mamanya Aisyah tertawa kecil demi melihat kenakalan anaknya.

“Hm… nak Yudha” sela Papanya Aisyah yang sudah berdiri dari duduknya

Saya tinggal dulu ya, mau meninjau tanaman kenthang yang akan segera dipanen, kalau tidak buru-buru nanti sore saya mau bicara sebentar” lanjutnya sambil membuka handphone ditangannya.

“Insyaallah om, Yudha akan tunggu sampai om pulang dari kebun” jawabku dengan sopan.

“Aisyah kamu ajak dulu makan, mbok Yah sudah menyiapkan dilantai atas” lanjutnya lagi sambil menepuk-nepuk pundak Aisyah.

Sambil tersenyum kepadaku Papanya Aisyah bergegas meninggalkan kami.

“Yuk nak Yudha langsung saja keatas” ajak Mamanya Aisyah setelah menutup pintu depan.

Aku segera bangkit dan bergegas mengikuti Aisyah dan Mamanya dari belakang, Aisyah Nampak manja dalam pelukan erat tangan Mamanya. Aku bersyukur dalam hati dan berharap suatu saat nanti menjadi bagian dalam keluarga ini.

“Wow sempurna” teriakku ketika sudah sampai dilantai atas, sebuah ruangan terbuka yang berfungsi sebagai teras tersebut menghadap ke pemandangan yang luar biasa nun jauh disana. Nampak sejauh mata memandang pepohonan yang menghijau diselimuti kabut tipis bak selendang sutera yang menari-nari diatas permadani. Terik matahari tidak begitu terasa bahkan hembusan angin yang sesekali menyapu teras tersebut membawa hawa yang cukup membuatku kedinginan.

Meja makan persis di sebelah teras hingga hawa dingin tersebut sesekali menyapa seluruh tubuhku dan membuatku jadi jatuh hati dengan rumah Aisyah ini. Setelah selesai makan, aku duduk-duduk santai di sofa yang berdekatan dengan meja makan dan menghadap ke teras. Sejenak aku ingin menikmati alam pegunungan yang terhampar diluar sana, diiringi lagu-lagu lama yang sayup-sayup terdengar dari lantai bawah, beberapa aku bisa mengenali seperti Nothing Gona Chane My Love For You, How I Remember You, One Day In Your Life, Earth Angel dan masih ada beberapa lagi, sambil batinku berharap alam ikut mentasbihkan kehadiranku ditengah-tengah keluarga ini. Beberapa gerombolan awan nampak berarak diatas pepohonan dan terus bergerak menjauh, dibawahnya nampak bayangan hitam dengan setia mengikuti kemanapun awan bergerak. Angin semakin kencang menerpa wajahku dan setiap wajahku tersapu angin, kurasakan kesegaran alam pegunungan membelai wajahku. Sungguh kediaman yang sempurna dan aku berjanji dalam hati untuk menghabiskan sisa hidupku bersama Aisyah membangun rumah tangga dilereng perbukitan dengan keindahan panorama yang bisa kami nikmati setiap hari.

“Asyik banget ngelamunnya mas” bisik Aisyah yang tiba-tiba sudah ada disampingku.

Aku menatap Aisyah sekejap dan kuraih tangan Aisyah dan kupegang erat tapi segera kulepaskan lagi pegangan tanganku karena kulihat Mamanya Aisyah berjalan mendekat.

“Aisyah, nak Yudha ditawarin istirahat dong, Mama dah siapkan kamar di sebelah” sela Mamanya Aisyah yang sudah berdiri disamping Aisyah.

“Gak usah repot-repot tante, saya masih ingin duduk-duduk disini Bersama Aisyah, anginnya sungguh segar membuat enggan beranjak dari sini” jawabku sambil kulirik Aisyah.

“Tenang aja Mama, sebagai tuan rumah Aisyah akan menjaga mas Yudha dengan baik meskipun harus menahan kantuk sampai sore” timpa Aisyah sambil nyengir memperlihatkan barisan giginya yang rapi.

“Ya … aku pasti betah disini karena ditunggui oleh sang putri” bisikku pada Aisyah.

 “Siap sang pangeran hatiku” bisik Aisyah tepat di telingaku sambil memukul pelan punggungku.

Sore yang dingin disertai hembusan angin yang membuatku terasa menggigil walau sudah mengenakan jaket tebalku. Aku sudah bersiap-siap mau pulang, setelah Papanya Aisyah memberitahukan beberapa hal penting yang harus kusimpan rapat-rapat sampai suatu saat nanti tiba, bahkan Aisyahpun tidak pernah tahu masalah ini. Kucium dan kupeluk kedua orangtua Aisyah dan kuanggukkan kepalaku saat mereka  berpesan untuk hati-hati dan jaga diri dengan baik. Aisyah masih berdiri dibelakang sambil memeluk helmku, seakan tak mau melepaskannya dari dekapannya. Aku berusaha meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja, dan selama Aisyah menghabiskan liburan di rumah, aku berjanji akan rutin mengunjunginya setiap akhir pekan.

“Kan ada helmku yang kemarin kamu pakai sebagai jaminan kalau aku pasti akan kembali kesini” candaku agar Aisyah terhibur.

“Mas Yudha janji ya akan selalu mengabari Aisyah apapun yang terjadi dan dimanapun mas Yudha berada” pinta Aisyah dengan mata yang sembab.

“Insyaallah sayang, aku kan tidak akan maju perang cantikku” godaku lagi

Kali ini Aisyah sedikit tersenyum dan itu cukup membuatku lega.

Pelan-pelan kutinggalkan Aisyah dan kedua orangtuanya untuk kembali ke Semarang dengan motor sportku. Pengalaman yang sangat menakjubkan, gumamku sambil mempercepat laju motorku membelah jalan raya yang masih sepi.

 

CHAPTER 10

Setelah beberapa pertimbangan akhirnya aku putuskan untuk mengiyakan tawaran Umar, teman baikku sejak kecil untuk makan malam bersama sekaligus merayakan kepindahannya dari Mabes ke Polda Semarang. Hujan masih cukup deras saat aku mulai menjalankan mobilku menyusuri kota menuju ke suatu rumah makan sesuai dengan permintaan Umar. Hawa dingin menyergapku ketika aku keluar dari mobil untuk memastikan suara yang berdebum yang barusan terdengar dari belakang mobil. Aku baru saja mau menunduk meneliti setiap jengkal mobilku ketika sebuah tendangan keras dari arah samping tepat mengenai pinggangku sehingga membuatku terjungkal. Aku berusaha untuk bangun tetapi sebuah tendangan dari belakang membuat tubuhku terpental menghempas bodi mobilku. Secepat kilat aku langsung menelusup ke kolong bawah mobilku untuk bersembunyi dan berusaha memahami sebenarnya apa yang sedang terjadi. Darah mengucur segar dari mulut dan hidungku, perih sekali. Aku menggeser badanku ke samping ketika sebuah tongkat di sodok-sodokkan ke arahku, aku berusaha menggeser tubuhku ke belakang mobil secepatnya dan tanpa kesulitan aku segera keluar dari kolong mobilku. Aku segera berkelit dari pukulan tongkat yang diarahkan ke kepalaku dan sambil menghempaskan tubuh ketanah aku berhasil menendang kakinya dan merebut tongkatnya yang terlepas dari tangannya. Tanpa ampun lagi segera aku gebuk kepalanya yang sedang berusaha berdiri serta ku hantamkan sekeras-kerasnya ke arah temannya yang berusaha meninjuku dari belakang, sehingga membuat keduanya terpental dan darah mengucur deras dari pelipis dan hidungnya. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya dan segera merangsekku untuk bisa menghunuskan pisaunya ke tubuhku, aku berusaha menghindar sambil ku ayunkan tongkat kesana-kemari. Walau pada awalnya mereka berdua terlihat sudah mulai kepayahan tapi dengan memegang pisau ditangannya mereka kembali terlihat beringas. Bahkan beberapa kali tangan dan punggungku terkena sayatan pisau sehingga membuat darah mulai merembes dari pergelangan tanganku dan aku mulai terdesak karena tangan kananku terasa kaku dan semakin sulit untuk memegang tongkat. Aku hanya bisa bertahan dengan berusaha menangkis setiap serangan dari mereka berdua dengan menempelkan punggungku pada mobilku. Tiba-tiba Umar datang dan segera merangsek meghajar tanpa ampun kedua preman tersebut, aku yang sudah lunglai tiba-tiba seperti mendapat energi baru dan berkali-kali kupukulkan tongkat yang ada ditanganku tepat dipunggung dan kepala salah satu preman tersebut. Setelah beberapa saat mereka menjadi bulan-bulanan aku dan Umar akhirnya mereka terjatuh lemas bersimbah darah. Aku berusaha menghajar salah satu dari mereka yang sudah kukunci dengan kakiku, beberapa kali bogem mentahku menghajar hidung dan pipinya, membuat darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya.

Hentikan Yudha, demi Allah jangan membuat mereka kehilangan nyawa, nanti akan panjang urusannya” cegah Umar sambil menarikku sekuat tenaga menjauh dari preman tersebut.

“Huh… biar mampus sekalian” ucapku sambil meronta berusaha lepas dari cengkeraman tangan Umar.

“Stop Yudha, cukup...! teriak Umar sambil mengunci tangan dan kakiku. Umar memang sangat kuat dan tubuhnya sangat kekar, membuat aku kalah tenaga bergelut dengannya.

“Kamu tidak tahu kejahatan yang telah mereka lakukan padaku” teriakku pada Umar yang terus menahan tangan dan kakiku agar tidak terlepas.

“Lepaskan tanganku Umar, sakit sekali” teriakku mengiba dan Umar segera melepaskannya.

Tubuhku masih bergetar menahan amarah dalam dadaku, nafasku pun masih memburu ketika Umar merangkulku untuk masuk kemobil.

Umar menelphone kesatuannya untuk datang mengurus kedua preman tersebut dan setelah terdengar raungan ambulance diiringi mobil pratoli dari kejauhan Umar segera menjalankan mobilnya membawaku ke klinik terdekat, tentang mobilku Umar meyakinkanku akan diurus dengan baik oleh anak buahnya.

Aku baru menyadari kalau tidak hanya luka-luka lecet di tangan dan pipiku, tapi di lengan dan punggung tangan kananku harus dijahit  karena ada luka yang cukup dalam. Tapi aku masih beruntung karena dokter mengijinkanku langsung bisa pulang malam itu juga tidak perlu menginap.

“Yud, kenapa dengan orang-orang itu, sepertinya ada niat untuk mencelakaimu” Tanya Umar setelah menjalankan mobilnya mengantakanku pulang.

“Kamu punya musuh?” selidik Umar

Aku masih diam saja, pura-pura meringis biar dikira tidak mendengar pertanyaan Umar.

“Setahuku hidupmu lempeng-lempeng aja, minum kagak, ngobat kagak main perempuan juga gak pernah” cerca Umar sambil duduk tepat disampingku seakan takut gak terdengar lagi.

“Kamu harus jujur sama aku Yud, aku kan sahabatmu sejak kecil dan sekarang kita sama-sama di kota ini, masak kamu juga gak mempercayaiku sih” lanjut Umar sedikit memberi tekanan pada suaranya dan terus memperhatikan aku yang sedang merintih kesakitan.

“thanks kawan, kamu datang tepat pada waktunya, besok kamu pasti tahu saat kamu menginterogasi para preman tersebut” jawabku singkat dan bergegas menuju mobilku untuk istirahat di rumah.

“Maaf kalau malam ini aku tidak bisa memenuhi undanganmu” lanjutku.

“Hehehe masih juga bisa berkelakar kau kawan, hubungi aku kalau kamu butuh pertolongan” ucap Umar sambil menepuk-nepuk pundakku.

Aku rangkul sahabat sejak kecilku tersebut yang sekarang sudah menjadi perwira menengah di Reskrim. Karirnya melesat setelah sempat menjadi ajudan pejabat tinggi di Mabes. Aku ikut bersyukur dengan kesuksesan yang dia capai, semoga tetap menjaga amanah.

Ketakutanku bukan karena aku harus menghadapi teror ini terus-menerus entah sampai kapan, tapi kekawatiranku adalah apabila Aisyah mengetahui tentang hal ini pasti jiwanya akan terguncang. Aku berjanji akan mengabarinya besok pagi tentang kecelakaan yang aku alami sesuai janjiku saat aku meninggalkan rumahnya tempo hari. Tetapi untuk hal ini aku harus berbohong dengan membuat cerita lain karena aku belum siap semua ini diketahui oleh Aisyah dan keluarganya, tapi sampai kapan hal ini akan terus aku tutupi.

“Halo mas Yudha” suara Aisyah terdengar ceria sambal tersenyum cengar-cengir dilayar ponselku..

“Halo Aisyah” jawabku sambil berusaha kucubit kedua pipinya yang memenuhi layar ponselku.

“Ya Allah mas Yudha…… ada apa dengan kening dan pelipismu?’ tanya Aisyah yang ternyata cukup jeli juga menangkap ada bekas luka-luka diwajahku akibat kejadian kemarin malam, walau aku sudah berusaha menyembunyikan dari kamera ponselku dengan menghidupkan aplikasi filter camera.

“Gak apa-apa koq sayang, hanya sedikit memar karena terjatuh saat Latihan futsal tadi malam” jawabku sekenanya. Maafkan aku ya Aisyah, batinku karena aku tidak bisa membayangkan kalau aku berkata jujur. Suatu saat aku akan mengatakan hal yang sebenarnya tapi entah kapan.

“Eh mas Yudha koq jadi ngelamun, mikirin apa sih… Aisyah jadi gak tenang nih, hati-hati ya mas jangan biarkan Aisyah jadi khawatir kalau terjadi apa-apa dengan mas Yudha ?” sergap Aisyah yang membuatku jadi tambah celingusan.

“Aku lagi mikirin…. bagaimana kalau besok Sabtu kita menjelajahi Kawasan wisata Dieng, Nepal from Java…. hehehe…” jawabku sekenanya untuk mengalihkan fokus Aisyah dari luka di wajahku.

“Mas…. koq bisa sama persis ya, hehehe…. Aisyah tuh juga pengen ngajak mas Yudha keliling tempat-tempat wisata di Dieng.

“Ya udah sayangSabtu pagi ya, aku akan sampai dirumahmu sepagi mungkin, sebelum ayam berhenti berkokok…” candaku sambil menahan tawa.

“Aduh mas Yudha, gak usah lebay ah…. Jam segitu mau jalan-jalan ntar malah ditangkap hansip, hik hik hik…” sahut Aisyah sambil tertawa cekikikan.

“Oh ya mas Yudha, aku juga mau ambil persyaratan wisuda senin besok, jadi nanti Aisyah nunut saja ke Semarangnya ya” lanjut Aisyah.

“Oke, aku bawa mobil aja kalau gitu”

“Loh mengapa mas Yudha, aku kan sudah kangen sama motor sport kamu”

“Aduh sungguh teganya teganya teganya hatimu, ternyata kangenmu hanya sama motorku “ balasku sambil pura-pura sedih sambil mengusap-usap air mataku, sehingga Aisyah tak bisa lagi menahan ketawanya.

“Aku khawatir aja sayang, kalau nanti hujan deras, kamu kan jadi basah kuyub sampai Semarang..” lanjutku

Kebetulan, hehehe........ Aisyah bisa berhujan-hujanan sama mas Yudha…” sahut Aisyah sambil memejamkan matanya, dan sekejap kemudian tertawa lagi lepas.

“Hmmmm kalau dekat dah aku cubit hidung kamu …. Terus kalau kamu sakit siapa yang akan ngerawat kamu, kan temen-temen kost kamu sudah pada pulang semua, masak sih harus kurawat di rumahku” candaku sambil kututup kedua mataku, tak sanggup menunggu dampratan Aisyah.

“Nih, aku jewer sampai putus telinga mas ya…..  berani-beraninya mbawa aku kerumah kamu” jawab Aisyah masih dengan wajah yang pura-pura cemberut.

Tak ayal membuat kami berdua jadi tertawa terpingkal-pingkal.

“Udah dulu ya sayang, salam buat Papa dan Mama juga mbok Yah”, dengan berat hati aku harus akhiri karena waktu yang sudah menjelang tengah malam.

“Ihh jahat, Aisyah kan belum puas kangennya sama mas Yudha….” rengek Aisyah tidak rela kalau harus berakhir percakapan yang penuh tawa dan canda.

“Sabar ya sayang, besok Sabtu kita kan bisa melepas rindu sepuasnya” bujukku sambil ku elus pipinya di layar ponselu.

“Oke deh mas Yudhaku sayang, I always love you, ever and after..” ucap Aisyah hampir berbisik.

“I do love you my sweet heart, semoga Allah selalu menjaga cinta kita, Aamiin…” bisikku sambil kupejamkan mata dengan penuh pengharapan padaNya.

“Aamiin” jawab Aisyah

Aku baru saja menghamparkan sajadah untuk sholat Duha ketika Umar menelephoneku,. Agak tergesa-gesa Umar memberitahuku kalau kedua preman tersebut dibebaskan karena ada jaminan dari seorang pengusaha besar di Semarang yang terkenal dekat dengan pejabat-pejabat tinggi di kota ini, dan Umar segera mengakhiri pembicaraan karena harus mengejar pesawat pagi dan tanpa mempedulikan aku yang masih terbengong-bengong. Aku jadi heran, apa hubungannya pengusaha sukses di semarang denganku, mengapa tidak terungkap kalau begundal-begundal itu suruhan Fadil anaknya seorang pengusaha dari Solo. Lebih aneh lagi kala Umar memberitahuku kalau alasan dibebaskannya kedua preman tersebut adalah tindak kejahatan yang dilakukan karena pengaruh alkohol dan tidak ada motif apapun selain sedang mabuk. Aku mau menghubungi om Fahrudin untuk mengadukan kejanggalan ini, tapi kuurungkan niatku karena untuk saat ini aku belum mau omku terlibat dalam kasus yang menimpaku ini.

Berlanjut.....

Rabu, 27 April 2022

 

CINTAKU PADA SUATU MASA (II)



CHAPTER 5

Akhirnya kutemukan juga kost Tiga Dara karena gemerlap lampu dimalam hari cukup membuatku agak kerepotan menghapal jalan untuk sampai di kost Tiga Dara ini. Kubelokkan mobilku masuk kehalaman kost yang cukup luas dengan beberapa pohon mangga disela-sela tumbuhan yang lain. Pintu ruang tamu nampak terbuka tapi tidak satupun orang terlihat disana, aku khawatir terlambat menghadiri acara yang dimaksud Sheila. Aku urung mengetuk pintu karena dari dalam sudah muncul sesosok wanita yang sangat aku kenal, Aisyah menghampiriku dengan kemeja bernuansa biru dipadu jilbab dengan warna senada sedikit lebih muda, cantik sekali dan terlihat sangat anggun.

“Bapak eh…ehm.....mas Yudha, masuk aja, maaf teman-temanku pada jahat sudah duluan berangkat” ucap Aisyah menyambutku dengan sedikit berkelakar seakan semuanya baik-baik saja.

Gadis yang luar biasa, batinku… sepedih apapun permasalahan yang sedang dihadapinya seakan tidak mau orang lain ikut menanggungnya. Setelah mempersilakan aku duduk Aisyah menghilang lagi masuk kedalam. Aku agak canggung memasuki ruang tamu yang tidak begitu luas tapi tertata apik dengan paduan warna cat tembok dan gordyn yang serasi. Kursi tamu yang dibalut cover warna marun hampir memenuhi ruangan. Ada lukisan pemandangan desa tergantung di tembok dan tepat diatasnya jam dinding cukup besar model klasik yang suara detakannya seakan berpacu dengan detak jantungku. Aisyah menghampiriku dengan senyum mengembang di bibirnya, mengisyaratkan hatinya yang penuh dengan kebahagiaan. Sekejap memandangku dan segera megalihkan pandangannya keluar. Kurasakan hasrat untuk meluapkan kasih sayang memenuhi jiwa ragaku, ingin kudekap erat tubuhnya dalam pelukanku, ingin ku curahkan segala kerinduanku selama ini.

“Mas…. Berangkat yuk, kasihan mereka menunggu kita” ajak Aisyah menyadarkanku dari lamunan.

Sempurna, decak kagum dalam hatiku memandang Aisyah dari kedekatan seperti ini. Sambil melangkah keluar dari rumah, kubiarkan mataku beradu dengan matanya, mata indah itu seakan punya magnet yang sanggup menawan hatiku. Tak banyak yang kubicarakan dalam perjalanan ke restaurant yang dimaksud, alunan lagu Perfect dari dalam mobilku mendayu-dayu seakan mewakili perasaanku saat itu.

Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight

Anganku melayang jauh, membayangkan suatu saat nanti menjadi bagian dari hari-hari Aisyah, menjadi kekasih hati Aisyah. Luapan perasaan cinta yang membara membuatku tak kuasa untuk sesekali menatap wajahnya, senyum manis Aisyah selalu mengembang saat mata kami saling beradu.

Restauran yang berada ditepian laut ini pada malam hari penuh dengan warna-warni cahaya. Tempatnya sangat luas dengan didominasi oleh kayu dan bambu. Didalamnya terdiri dari bungalow-bungalow dengan berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil yang hanya cukup untuk dua orang sampai dengan yang sangat luas untuk rombongan. Setelah melewati jembatan kayu, biasanya pelayan yang berdiri berjajar akan segera menghampiri kita untuk dipilihkan bungalow yang sesuai, atau kita juga diberi kesempatan untuk memilih sendiri. Setelah kita duduk nyaman, pelayan akan menghampiri kita dengan buku menu dan beberapa penjelasan mengenai tata tertib yang harus ditaati. Sheila sudah menghadangku sebelum pelayan menyapaku dan membimbing kami ke tempat yang sudah dipilihnya bersama teman-temannya. Sheila menggandeng tangan Aisyah dan mereka berdua terlibat perbincangan yang aku tidak bisa mendengarnya, sesekali Sheila melirikku sambil tersenyum. Setibanya di bungalow, ada empat teman Aisyah yang menyambut kami, ada yang tepuk tangan kecil ada yang tertawa-tawa dan ada yang mengacungi jempol, hampir semua mata memandangiku dengan penuh selidik. Agak grogi juga dengan tatapan mereka yang seakan mengadiliku, tapi segera kutata hatiku untuk mendapatkan kembali kepercayaan diriku. Nampak Aisyah sibuk menenangkan mereka dan beberapa kali bahkan dengan nada mengancam. Aisyah meraih tanganku untuk mengajak duduk persis didepan mereka, dan serempak mereka menyapaku dengan nakal. Sheila yang sedang sibuk menulis menu yang akan dipesan juga sempat berseloroh sambil tersenyum-senyum memandangku. Aku segera memperkenalkan diri setelah tak kuasa dengan desakan mereka dan satu-persatu mereka juga memperkenalkan diri, aku baru menyadari kalau penghuni kost Tiga Dara tidak sesuai dengan namanya, karena ternyata penghuninya enam orang. Sambil menunggu pesanan datang, aku mengajak mereka bermain dengan beberapa permainan yang biasa kuperagakan setiap mengisi seminar, mulai dari berburu babi, tebak dan tembak serta permainan Who am I. Tak pelak hiruk pikuk dan tak henti-hentinya mereka tertawa mengikuti permainan demi permainan, bahkan beberapa pengunjung disebelah juga ikut tertawa melihat kehebohan kami. Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga, barisan pelayan dengan baki berisi berbagai macam makanan dan minuman pesanan kami. Ada gurameh bakar, nila bumbu asam manis, bandeng pepes dan beberapa cemilan, untuk sayuran ada brokoli saus tiram, kangkung ca bawang putih dan tauge ca ikan asin serta beberapa minuman sesuai selera masing-masing. Aku sendiri memilih Es degan kopyor, sedangkan Aisyah memilih Jus avocado. Dan kamipun segera menikmati berbagai menu yang sudah tersedia dengan diselingi senda gurau, paling banyak aku yang jadi sasaran pertanyaan mereka, lebih tepatnya dibully termasuk mempertanyakan keseriusan hubunganku dengan Aisyah, Aisyah hanya terdiam dan pura-pura tidak menghiraukannya.

Setelah puas menikmati hidangan dan juga mereka sudah berhasil mengerjaiku, Sheila minta diri untuk kekasir menyeleseikan pembayaran disusul teman-teman yang lain setelah sempat berfoto-foto dengan beberapa latar belakang. Aisyah menggamitku dari belakang dan memberi isyarat untuk pulang, tapi segera kuraih tangannya, kugenggam erat dan kuberanikan untuk mengajaknya singgah sebentar. Sejenak Aisyah nampak ragu, tapi akhirnya menurutiku karena kuatnya tarikan tanganku yang tidak kuasa ditolaknya. Aku membimbingnya berjalan menuju ujung dari deretan bungalow ini. Tempat yang disiang hari diperuntukkan bagi yang suka memancing dilengkapi area bermain anak-anak, tapi pada malam hari berubah menjadi tempat yang sangat cocok buat yang pengen berdua-duaan dengan pasangannya. Temaram lampu yang berwarna-warni serta pemandangan lampu dikejauhan membuat tempat itu menjadi pilihan yang tepat bagi yang sedang dimabuk asmara, seperti aku saat ini. Aku memilih meja dekat kolam ikan yang dikelilingi oleh taman-taman yang indah. Aisyah nampak bersemangat kala melihat ikan-ikan hias yang beraneka warna saling berkeliaran mengelilingi kolam. Sejenak Aisyah memandangku dan aku paham bahwa Aisyah lebih tertarik duduk lesehan ditaman tepat ditepi kolam. Ku duduk disebelah Aisyah dan kucoba menikmati kelucuan ikan-ikan didepanku, tapi gemuruh jantungku membuat aku sulit untuk terhibur. Agak lama kami saling terdiam, akhirnya kuberanikan diri untuk meraih tangan Aisyah, kugengggam erat jari-jemarinya dan kupandangi wajahnya.

 “Aisyah…..”ucapku parau hampir tak terdengar.

Kelu rasanya mulutku untuk segera melanjutkan ucapanku, gemuruh jantungku terasa menghentak kencang dan rasa percaya diriku seakan sirna tak berbekas. Aisyah menatapku sekilas dan menundukkan pandangannya menanti kelanjutan ucapanku.

“Maafkan aku….. kalau aku….selama ini……. Aku….” Sekuat tenaga aku berusaha menuntaskan kalimatku, tapi suaraku seperti tercekat di tenggorokan.

Aisyah…. Aku… aku sungguh ...........mencintaimu…. “

Akhirnya aku bisa menyeleseikan kata demi kata yang terasa susah meluncur dari bibirku, kata demi kata yang merupakan ungkapan perasaan hatiku selama ini. Aisyah menunduk dan terdiam. Aku menunggu dan menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Aisyah, akhirnya dengan sisa-sisa keberanianku, aku coba untuk memecahkan kebekuan,

“Aisyah, maukah kamu menerimaku,” ucapku lirih kemudian.

Tapi belum juga Aisyah mengucapkan sepatah katapun dan aku menjadi semakin kawatir kalau-kalau Aisyah tidak dapat menerimaku. Aisyah masih terdiam tertunduk dan aku baru menyadari ternyata air mata Aisyah mulai menetes membasahi pipinya. Aku mencoba memahami derita apa sebenarnya yang ada dihati Aisyah. Kugenggam erat tangannya, kupandangi wajah Aisyah yang mulai sesenggukan menahan tangis, airmata mulai mengalir dipipinya dan semakin deras. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan. Aku jadi teringat dengan penjelasan Sheila waktu itu….. ya Aisyah menyimpan rahasia yang disimpannya sendiri diam-diam dengan penuh kepedihan. Ya Allah aku berjanji dalam hatiku untuk membantu Aisyah keluar dari permasalahannya karena aku begitu menyayanginya. Kesedihan mulai menguasaiku, aku harus bisa menahan air mata ini, please….. tapi sia-sia saja aku berusaha menahan air mataku, satu demi satu menetes juga dipipiku, aku berusaha mengusapnya sebelum ketahuan Aisyah. Tapi terlambat, Aisyah terlanjur melihatnya, bibirnya sudah mau mengucap sesuatu tapi segera diurungkannya demi melihat air mata yang menetes dipipiku dan dengan jarinya diusapnya air mataku dengan lembut, seakan ingin menghapus kesedihan yang menderaku. Keharuan menyeruak dalam hatiku, lirih Aisyah membisikkan kata-kata yang hampir tidak dapat kutangkap maksudnya,

“Mas Yudha….. sebenarnya aku sudah lama menanti saat-saat seperti ini…..aku sudah lama menunggu mas Yudha…..hampir setiap hari aku selalu mengharapkan mas Yudha…..tapi aku …..”

Aisyah tidak melanjutkan ucapannya, aku masih menatap kedua matanya untuk mencari-cari maksud dari ucapannya. Aisyah menatapku sekali lagi dan masih dengan suara lirih melanjutkan ucapannya,

“Tapi….aku takut nantinya akan membuat mas Yudha kecewa, Aku belum pernah menceritakan…..siapa diriku sebenarnya…”.

Aisyah tak mampu melanjutkan kalimatnya, lama suasana kembali hening, kuusap sisa-sisa airmata yang membasahi pipi Aisyah, kubelai lembut pipi Aisyah dengan penuh perasaan, ku raih dagu Aisyah dan kudongakkan keatas.

“Aisyah…..” bisikku lembut.“Aku tidak peduli siapa kamu…..yang aku tahu aku sungguh menyayangimu dan aku akan menerima kamu apa adanya”.

 Kuraih tubuh Aisyah, kudekap erat dalam pelukanku dan kubiarkan Aisyah menumpahkan isak tangisnya dalam pundakku.

Dalam perjalanan pulang, kami berdua hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Alunan lagu A Thousand Years - Christina Perry dari stereo mobilku mengalun lembut, membawa anganku ke film Twilight Saga, dimana kekuatan cinta membuat Edward dan Bella sanggup menghadapi berbagai rintangan dengan segala usaha agar takdir bisa menyatukan mereka berdua.

Heart beats fast, Colors and promises
How to be brave, How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow

One step closer

I have died everyday, waiting for you
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more………….

 

CHAPTER 6

Malam minggu yang cerah dan lalulintas terasa begitu padat, baru kali ini selama hidupku aku merasakan indahnya malam minggu. Disepanjang perjalanan dipenuhi warna warni lampu hias yang semakin mempercantik indahnya jalanan kota. Memasuki jalan menuju kost Aisyah kepadatan kendaraan semakin menjadi, maklum jalan tersebut satu-satunya akses menuju kampus dimana dikanan-kiri penuh dengan kost-kost an. Aku sejenak menghentikan mobilku tepat didepan pintu pagar kost Tiga Dara ketika seorang pria gagah segera membukakanya dan tersenyum padaku. Segera kumasukkan mobilku dan di halaman sudah terparkir tiga mobil, juga ada dua pria yang lebih muda dariku nampak asyik ngobrol diteras depan. Sedikit kegembiraanku surut, anganku untuk berduaan dengan Aisyah dimalam minggu mendadak sirna demi melihat ramainya kost Aisyah, tapi aku segera menghibur diriku bahwa aku bersama Aisyah tidak akan berlama-lama di kost dan akan menghabiskan malam minggu disuatu tempat yang romantis diluar. Baru saja keluar dari mobil beberapa pria tersebut menyambutku dengan antusias.

“Halo mas bro” sapa pria gagah yang tadi membukakan pintunya dan segera menjabat tanganku,

“Saya Ito pacarnya Sheila” lanjutnya sambil masih mengguncang-ngguncang tanganku.

Aku sudah menduga dengan segala keistimewaan yang ada pada Sheila pasti tidak sulit untuk mendapatkan kekasih yang seperti Ito ini. Dibelakang Ito ada kedua pria muda yang gagah-gagah juga memperkenalkan diri dan aku baru menyadari bahwa pasti mereka sudah merencanakan sesuatu malam minggu ini, apakah ini juga ide dari Sheila? apa lagi yang akan direncanakan? Tapi aku yakin semua ini pasti demi kebaikan hubunganku dengan Aisyah.

“Halo mas Yudha” teriak Sheila dari dalam demi melihat kedatanganku.

“Tunggu sebentar ya, Aisyah baru berdandan cantik” lanjut Sheila sambil melangkah mendekatiku.

”Mas Yudha, kita sudah sepakat dalam rangka menyambut mas Yudha sebagai anggota kost Tiga Dara, kita akan berkaraoke bersama” lanjut Sheila sambil meminta persetujuan Ito yang sudah menjajarinya.

 “Betul mas bro, kita rayakan persahabatan ini dengan bernyanyi dan bergembira bersama”, timpal Ito sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Habis deh gue” selorohku sambil tersenyum kecut demi menyadari suaraku yang pas-pasan.

Seumur-umur aku baru kali pertama aku menjejakkan kaki di tempat karaoke ini walau hampir setiap hari aku melewatinya. Sepertinya Sheila sudah booking tempat karena setelah bercakap-cakap sebentar dengan resepsionis, seorang petugas datang menghampiri kami dan segera membimbing kami menuju ruangan yang sudah dipersiapkan di lantai dua. Kami diantar ke ruangan karaoke yang cukup luas dengan deretan sofa dan beberapa kursi tambahan, lampu warna-warni berpendar memenuhi ruangan serta TV layar lebar terpampang megah didepan. Petugas mempersilakan kami masuk dengan sopan dan menerangkan tata cara pengoperasian serta tata tertib yang harus dipatuhi serta mencatat pesanan makanan dan minuman kami. Tiba-tiba Sheila menoleh kepadaku dan menyebut namaku dengan cukup kencang,

“Please welcome our beloved new member, mas Yudha” pekik Sheila diikuti tepuk tangan dan cekikikan hampir semuanya tak terkecuali Aisyah.

Aku meyambut mike dari Sheila dengan masih memutar otak mencari-cari lagu yang sekiranya cukup aman ku nyanyikan. Ku ketik huruf-demi huruf melalui remote control untuk mencari lagu dan setelah mereka tahu bahwa aku akan menyanyikan lagu Menemukanmu dari Seventeen suasana jadi riuh,

“Hebat mas bro, pas banget nih lagunya” seloroh Ito sambil tak henti-hentinya menepuk pundakku.

“Tapi bantu nyanyi bareng-bareng ya” teriakku diantara gemuruh tawa dan celotehan mereka yang belum reda.

“Romantis banget” celetuk Febri sambil memeluk erat Aisyah yang duduk disampingnya.

Sekilas Aisyah melirikku sambil tersenyum demi melihat kehebohan teman-temannya, Aisyah terlihat cantik sekali dengan kemeja putih dipadu dengan celana jean warna biru. Musik segera mengalun dan kehebohan mulai mereda, tak kuduga seperti paduan suara mereka semua ikut menyanyi tanpa terkecuali, hanya pada bagian-bagian tertentu mereka membiarkan suaraku terlihat menonjol dan memasuki refrain kembali suaraku tenggelam diantara teriakan mereka, selamat aku, batinku. Lagu kedua aku memilih Beautiful in White dari Shane Filan, lagi-lagi disambut dengan kehebohan dan tepuk tangan dari teman-teman baruku, dan lagupun mengalir dengan lancar karena semua ikut bernyanyi bahkan kali ini mereka tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bernyanyi sendiri. Selesai lagu kedua Sheila segera mengambil mike yang ada di tanganku dan mereka langsung berteriak-teriak menyebut nama Aisyah, rupanya mereka minta giliran Aisyah untuk bernyanyi. Aisyah segera mengambil mike yang ada didepannya, dan Sheila terlihat sibuk membantu mencarikan lagu yang diminta Aisyah. Tak kuduga Aisyah memilih lagunya Christina Perry, A Thousand Years, hatiku bergetar dan merasakan pesan cinta yang dalam pada lagu yang dipilihnya. Suasana semakin hiruk pikuk dan semua bertepuk tangan seakan-akan mengakui kekuatan cinta kami berdua.

Ito meraih pundakku sambil berbisik “kamu beruntung bro, saya yakin lagu ini ditujukan khusus untukmu”.

Semua terdiam saat Aisyah mulai melantunkan bait demi bait, sepertinya mereka tidak mau melewatkan suara Aisyah yang bening dan sangat merdu. Tanpa sadar aku bertepuk tangan dan segera diikuti yang lain, saat memasuki refrain tanpa diaba-aba aku ikut menyanyi dan kembali ruangan bergemuruh oleh suara kami semua. Semakin malam semakin meriah karena satu demi satu semua kebagian bernyanyi dan tidak ada yang menolak saat ditodong oleh Sheila. Waktu sudah hampir habis sesuai waktu yang dibooking Sheila dan rasanya kita semua juga sudah lelah. Aisyah mendekatiku saat kami berbenah-benah mau meninggalkan ruangan, senyum manisnya mengembang dan saat menuruni tangga, tangannya menggenggam erat tanganku dan beberapa kali Aisyah menyatakan kegembiraanya malam ini. Sesampai di lobi bawah Aisyah melepaskan tangannya dari genggaman tanganku dan menatapku lembut,

“Mas, aku mau ngomong sesuatu kepadamu” bisiknya lirih.

Aku membimbing Aisyah duduk di sofa lobi bawah dan mempersilakan Aisyah untuk mengutarakan maksudnya. Kulihat Aisyah malah menundukkan kepalanya dan aku segera menyadari kalau Aisyah mau mengungkapkan sesuatu hal yang serius, mungkin rahasia yang selama ini dipendamnya sendiri. Aku segera membimbingnya berdiri.

“Aisyah, bagaimana kalau kita ke Serambi Resto yang tidak jauh dari sini, tempatnya cukup nyaman” ajakku dan segera diiyakan oleh Aisyah.

Sheila dan teman-teman yang sedang menunggu diluar, segera aku memberitahukan ke mereka untuk pulang duluan karena kami akan mampir di Serambi sebentar. Sheila nampak tersenyum nakal kepadaku dan kali ini aku baru paham maksud senyum Sheila selama ini.

Serambi resto nampak penuh bahkan meluap sampai ke bagian luar, aku khawatir kalau tidak dapat tempat dan gairah Aisyah untuk menceritakan masalahnya jadi pupus. Resepsionis menyambutku dengan ramah dan menjawab kekawatiranku bahwa masih ada satu meja kosong di dalam. Selang beberapa menit seorang pelayan memanduku menuju meja yang dimaksud dan setelah mencatat menu yang kami pesan, pelayan  segera meninggalkan kami dengan sopan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kualihkan pandanganku ke Aisyah yang sedari tadi menunduk dan segera tersipu malu kala menyadari kalau aku memandangnya.

“Aisyah” bisikku pelan sambil ku anggukkan kepala tanda siap mendengarkan.

Aisyah memandangku dengan tajam dan terdiam lama dan tak segera mengucapkan sepatah katapun. Aku genggam erat jemarinya dan sedikit kuremas demi merasakan gelora hatiku yang tak tertahan.

“Aisyah, aku siap mendengarkan apapun yang akan kamu ucapkan” bisikku lirih.

Aisyah kembali memandangku dan senyum mulai mengembang di bibirnya walau hanya sebentar,

“Mas…. Mengapa mas Yudha mencintai Aisyah, padahal mas Yudha belum tahu siapa sebenarnya Aisyah” bisik Aisyah sambil berusaha melepas jemarinya dari genggamanku.

Aku merasakan getaran dalam hatiku lagi, kali ini bahkan lebih kencang dan membuat tubuhku ikut bergetar. Aku tahu jawabannya dengan pasti mengapa aku memilih Aisyah, dan semuanya pasti juga tahu bahwa Aisyah sangat cantik dan mempesona….. tapi apakah itu jawabanku ke Aisyah untuk membuat Aisyah yakin padaku. Aisyah sungguh menarik, hidungnya yang mancung, matanya yang bulat berbinar-binar dibingkai oleh bulu mata yang lentik, wajah yang putih bersih dihias dengan bibir yang selalu merona, apakah ini yang akan kuungkapkan. Apakah Aisyah keturunan Arab, apakah ini ada sangkut-pautnya dengan permasalahan yang dipendam Aisyah selama ini. Kupandangi Aisyah yang sejak tadi masih menanti jawabanku, kembali kugenggam erat tangan Aisyah,

“Aisyah, sekian lama aku mencari dan menunggu seseorang yang sanggup menggetarkan hatiku dan yang bisa menjadi pelabuhan rinduku, dan baru denganmu aku merasakan getaran itu bahkan kurasakan getaran itu semakin hari semakin kuat dan aku yakin bahwa kamulah wanita yang selama ini aku tunggu” jawabku sambil kutatap kedua matanya.

Mata kami beradu dan dari sorot matanya aku bisa merasakan cinta Aisyah yang begitu kuat. Aku baru mau melanjutkan penjelasanku ketika pelayan datang membawa pesanan-pesanan kami, meletakkan dimeja dengan hati-hati dan segera meninggalkan kami setelah memastikan pesanan kami sudah sesuai. Aku segera meneguk jus avocado pesananku dan Aisyah juga segera menikmati Lemon tea kesukaannya.

“Apakah mas Yudha sudah tahu kalau Aisyah keturunan Arab tepatnya dari Yaman?” selanya setelah beberapa kali menyeruput lemon tea.

“Aku sudah menduganya, memangnya kenapa?” jawabku sambil kuraih kembali jemari Aisyah.

“Syukurlah, walau aku masih belum yakin kalau kedua orangtuaku akan setuju saat mengetahui pilihanku jatuh pada mas Yudha, tapi sebetulnya bukan itu yang akan Aisyah ungkapkan ke mas Yudha”. Sejenak Aisyah menghentikan ucapannya dan meneguk sekali lagi Lemon tea nya.

“Sebenarnya selepas SMA dulu papaku sudah menjodohkanku dengan anak dari teman bisnisnya, awalnya aku menurut saja walau aku belum pernah bertemu, belum pernah tahu siapa dia dan dari mana dia, tapi saat aku mau melanjutkan kuliah di kota ini, papaku memutuskan untuk mengikatku dengan tali pertunangan agar semua bisa menjaga diri masing-masing” Aisyah menghela nafas dan kulihat ada sedikit kepiluan diwajahnya.

Kugenggam erat kedua tangannya dan kubiarkan Aisyah melanjutkan ceritanya. Aisyah menatapku sebentar dan mengalihkan pandanganya ke langit-langit seakan mau melepas segala kesedihannya.

“Dan terjadilah pertunangan itu, saat itu aku baru menyadari kalau Fadil ternyata anak orang paling berpengaruh dan paling kaya dikotaku”,

Aisyah menatapku dengan pandangan sedih, aku merasakan sesuatu yang tiba-tiba membuat hatiku jadi jengah.

“Aisyah, aku yakin pasti setelah itu terjadi sesuatu yang membuatmu berubah pikiran” tanyaku tak sabar dengan jalan cerita Aisyah.

“Kamu benar mas, beberapa bulan setelah aku kost di kota ini, aku baru mendengar tentang siapa sebenarnya Fadil itu” Aisyah menghela nafas lagi dan menatapku untuk meyakinkan kata-katanya barusan.

“Tanpa sengaja aku berkenalan dengan mantan pacar Fadil yang pernah aborsi hasil hubungan gelapnya, tidak itu saja dia juga bercerita kalau sering melihat Fadil mengkonsumsi narkoba serta sering bertindak kasar”.

Aisyah mengelap dahi dan ujung hidungnya dengan tisu walau aku tidak melihat ada keringat disana. Aku menunduk dan dalam hatiku mengutuk Fadil, aku berusaha menahan diri jangan sampai perasaan benciku terhadap Fadil mengacaukan suasana saat ini.

“Aisyah, tapi kamu belum diapa-apakan kan sama si Fadil, maksudku berapa kali kamu pernah bertemu dengan Fadil semenjak bertunangan?”.

Aisyah meraih tanganku dan mengelus-elus perlahan, seakan mau meredakan amarahku.

“Sebetulnya semenjak bertunangan, beberapa kali Fadil berusaha menemuiku tapi Alhamdulillah Allah selalu menjagaku, saat berkunjung kerumahku aku sedang di Semarang dan saat dia berkunjung ke kost aku sedang keluar kota atau ada kegiatan kampus yang cukup lama sehingga tidak pernah bertemu”.

Aku menjadi lega dengan penjelasan Aisyah, tapi aku melihat kesedihan mulai menyelimuti raut wajah Aisyah,

“Aisyah kamu baik-baik saja kan?” tanyaku.

Aisyah tidak menjawab pertanyaanku, tapi malah melanjutkan ceritanya,

”Genap satu tahun aku di Semarang dan Fadil mulai sadar kalau aku berusaha menghindar darinya, Fadil dan keluarganya menemui keluargaku dan menuntut untuk segera melangsungkan perkawinan, Papa dan Mama yang sudah sadar siapa Fadil sebenarnya segera menyusulku ke Semarang dan kami bertiga bertangis-tangisan demi mengetahui kami semua telah terjebak”

Aisyah tidak dapat menahan airmatanya, dan tangispun pecah tak dapat ditahan lagi. Aku meraih tangan Aisyah dan kugenggam erat, akupun larut dalam kesedihan. Aisyah masih sesenggukan dan tubuhnya ikut terguncang karena kesedihan yang dirasakannya.

“Mas Yudha… ucap Aisyah diantara derai airmatanya,

“Akibat penolakan keluargaku terhadap tuntutannya, bisnis papaku hancur dan kami jatuh miskin, tidak itu saja Fadil tetap berusaha mengejarku serta mengancam tidak boleh ada lelaki lain yang mendekatiku, siapapun yang mendekatiku akan……”

Aisyah tidak bisa melanjutkan ucapannya karena isak tangisnya yang semakin menjadi. Demi melihat kondisi Aisyah yang sangat terguncang aku menawarkan untuk pulang saja, dan untungnya Aisyah menuruti ajakanku. Sepanjang perjalanan kesedihan masih membelenggunya dan kami hanya berdiam diri larut dalam bayangan masing-masing. Aisyah memandangku sebentar dan merebahkan kepalanya di pundakku.

“Terimakasih mas Yudha, akhirnya tuhan mempertemukan kita walau aku belum yakin apakah kita akan benar-benar dipersatukan” bisik lirih Aisyah.

Aku tidak berusaha menjawabnya, biarkan Aisyah menumpahkan segala perasaan hatinya, biar sedikit longgar himpitan hatinya selama ini.

“Mas Yudha…..akankah kita sanggup menghadapi segala rintangan yang akan menghadang cinta kita ?”, Kali ini suara Aisyah sedikit tertekan mengungkapkan kekhawatirannya.

“Aisyah, serahkan semua padaNya, hanya Dialah maha pengatur yang baik” bisikku sambil kupegang erat bahunya untuk menenangkan suasana hati Aisyah yang masih terguncang.

Semuanya kembali senyap, hanya alunan musik dalam mobilku yang mengalun lembut lagu “Just For You”. Sesampai di kost suasana sudah sepi dan kubimbing Aisyah sampai pintu, tangan Aisyah masih erat memegang tanganku walau aku berusaha melepaskannya.

“Mas, aku sudah terlanjur mencintaimu, aku tidak bisa membayangkan kalau mas Yudha akhirnya meninggalkanku” bisik Aisyah.

Ku tempelkan jari telunjukku kebibirnya “Sebaiknya Aisyah segera istirahat dulu, besok pagi aku akan kesini lagi”,

Aisyah nampak tersenyum mendengar janji yang baru kuucapkan dan tangannya mulai melepaskan genggamannya.

“Terimakasih mas Yudha,” ucap Aisyah yang terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya.

Akupun segera berpamitan dan menjalankan mobilku pelan-pelan takut penghuni kost yang lain akan terganggu.


CHAPTER 7

Sebenarnya hari minggu ini ada janji dengan teman-teman untuk diskusi membahas proyek bantuan air bersih di desa-desa yang mengalami kekeringan, untungnya mereka mau mengerti kalau aku kali ini belum bisa ikut, Juga rencana mau service mobil akhirnya menjadi tidak penting. Aku harus bisa menenangkan suasana hati Aisyah dan meyakinkannya kalau dia pantas untuk diperjuangkan.

Kost Tiga Dara masih nampak sepi saat aku memasukkan mobilku ke halaman, bau harum dari bunga mangga yang mulai mekar menyergapku tatkala aku keluar dari mobil. Aisyah nampak sudah menungguku di teras, dengan senyumnya yang mengembang menambah cantik penampilannya. Aku segera menghampirinya dan belum sempat aku mengucap salam segera tanganku diraihnya untuk dicium, aku benar-benar surprise dan bersyukur dalam hati menemukan seorang wanita yang tidak hanya cantik wajahnya tapi juga baik budi pekertinya. Setelah kami duduk berdua di teras, baru aku menyadari kalau kesedihan masih menyelimuti Aisyah sehingga timbul keinginan dalam hatiku untuk membahagiakan hati Aisyah, tapi bagaimana caranya.

“Ehm Aisyah, aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke suatu tempat dimanapun yang kamu suka”

Nampak senyum Aisyah mengembang dan matanya mulai berbinar demi mendengar tawaran yang baru ku ucapkan.

“Ehm, kemana ya…. Mungkin mas Yudha punya ide?

“Bagaimana kalau ke daerah Tawangmangu, sepertinya banyak tempat-tempat wisata yang bagus disana” jawabku spontan karena terlintas begitu saja dalam pikiranku dan memang daerah lereng gunung Lawu itu terkenal indah.

“Yess… setuju mas, aku mau banget kalau kesana” sahut Aisyah dengan senyum lebar menampakkan kegirangannya.

“Aku sudah hampir tiga tahun tidak pernah kesana semenjak vila keluargaku dijual untuk menutupi kerugian bisnis papa”

“Oh, maaf kalau mengingatkanmu akan kenangan pahit ”

“Don’t worry mas, dunia gak akan kiamat koq, hehehe…” candanya masih dengan senyum lebarnya.

“Dulu aku pernah punya obsesiku bahwa suatu saat aku akan membawa orang yang aku cintai berkeliling menikmati indahnya tempat-tempat wisata di lereng gunung Lawu” lanjutnya

“Terbang dengan karpet ajaib dong” godaku

“Ya, aku akan membawa mas Yudha terbang, tapi bukan dengan karpet melainkan dengan kedua sayapku” jawab Aisyah membuat kami berdua tertawa bahagia.

“Sebaiknya kita segera berangkat yuk, mumpung masih pagi”

“Ayuk, aku akan ambil sweater dulu ya”

Aisyah segera beranjak mengambil sweaternya dan aku baru menyadari kalau tidak membawa perlengkapan apapun termasuk baju hangat mengingat hawa di lereng gunung Lawu pasti sangat dingin, aku hanya berniat membahagiakan hati Aisyah, membantunya keluar dari himpitan permasalahan yang dihadapinya. Tentang Fadil, aku juga belum mau memikirkan tentang hal yang berhubungan dengannya. Andaikan benar ancamannya, aku akan siap menghadapinya walaupun aku belum tahu dengan cara apa aku nanti menghadapinya, karena pasti Fadil tidak akan turun tangan sendiri tapi dengan kekayaannya akan begitu mudah baginya menyuruh preman bayaran untuk mencelakaiku.

“Koq malah melamun?” sapa Aisyah mengagetkanku

Aisyah sudah didepan mataku dengan jean warna coklat dan tshirt putih dibalut sweater warna abu-abu muda, sangat kasual dan terkesan relaks.

“Kamu terlihat cantik sayangku”

“Terimakasih, tapi sayangnya aku gak bawa uang receh”

“Hehehe… awas ya kamu” sahutku sambil ku cubit pipi Aisyah dan baru kulepaskan setelah Aisyah mengaduh kesakitan.

“By the way koq sepi …. Pada kemana emangnya?”

“Ada koq,baru pada ngrumpi dibelakang…..emang mas Yudha mau ngajak serta semua?” canda Aisyah lagi sambil cekikikan

“Awas ya kucubit pipimu sekali lagi dan tak akan kulepaskan” ancamku disambut dengan tawa Aisyah setelah mobil mulai kujalankan.

Aku bersyukur demi melihat Aisyah yang terlihat gembira, sepertinya untuk sementara sudah bisa melupakan kesedihan yang membelenggunya. Sepanjang perjalanan Aisyah bersenandung mengikuti setiap lagu yang mengalun dari stereo mobilku, aku tidak menyangka kalau selera musik Aisyah tidak beda jauh denganku, dari lagu-lagu evergreen, jazz, rock, R & B sampai lagu-lagu koplo. Memasuki kota Solo Aisyah sangat antusias bercerita tentang kota asalnya itu, kota tempat tinggal keluarganya sebelum harus pindah ke kota kecil di dataran tinggi Dieng akibat bisnis orangtuanya yang ambruk dijegal keluarga Fadil.  Aku lebih banyak mendengarkan dan sekali-kali memberikan pujian.

“Kita ke Kebun Teh Kemuning dulu ya, dilanjut ke Air Terjun Jumog dan terakhir ke Lawu Park” tawarku

“Mas, boleh gak kalau nanti kita mampir ke bekas vila orangtuaku, aku kangen sama pak Parmin dan istrinya?”

“Apakah kita akan bermalam disana?” godaku

Tak kuduga kali ini giliran aku yang dicubit, aku pura-pura mengaduh walau sebetulnya aku kesenangan.

“Mulai nakal ya, awas nanti kalau nakal lagi tak jewer beneran” canda Aisyah dan kamipun terpingkal-pingkal.

“Terakhir kali aku kesana tepat sehari sebelum aku mulai kuliah di Semarang, saat itu aku mengajak beberapa teman dan saudara untuk menginap disana”

“Pak Parmin dan istrinya dengan setia merawat vila kami seakan rumah miliknya sendiri serta melayani kami sangat baik saat kami sekeluarga berlibur disana”.

“Apakah kamu yakin kalau pak Parmin masih merawat rumah itu setelah berganti pemiliknya” tanyaku

“Entahlah, semoga saja nanti masih bisa bertemu” jawab Aisyah dengan sedih.

Kebun teh Kemuning nampak sudah didepan mata, pemandangannya begitu mempesona, hamparan kebun teh yang menghijau diselingi dengan jalan yang berliku-liku dan deretan pepohonan disepanjang pinggir kebun teh membuat decak kagum. Hawa dingin yang menusuk tak begitu kuhiraukan, segera kususuri lebatnya pepohonan teh yang menghijau, mengikuti langkah Aisyah yang sudah jauh meninggalkanku. Aisyah begitu antusias berlari-lari kecil diantara rimbunnya kebun teh dan baru berhenti di ujung bukit, menatapku dengan senyum riangnya dan meraih tanganku untuk didekapkan dipinggangnya. Aisyah terus menatapku dengan senyum dibibirnya seakan mengungkapkan kegembiraan hatinya.

Setelah puas menghirup segarnya hawa pegunungan kami mampir ke restauran Teh Ndoro Donker yang tidak jauh dari area wisata kebun teh Kemuning. Kesan pertama saat memasuki restauran terasa megah dan luas,  dulunya retauran ini kepunyaan kepala kebun teh seorang berkebangsan Belanda yang pasti kaya-raya  pada jamannya, hampir disemua bagian memperlihatkan nuansa klasik mengadopsi  gaya eropa abad pertengahan. Beberapa foto Tuan dan Nyonya Belanda menempel di dinding-dinding ruangan. Sejenak aku edarkan pandangan keseluruh ruangan yang tidak begitu ramai dengan pengunjung,  akhirnya kuputuskan memilih gazebo diluar karena pemandangannya lebih leluasa dan sungguh bagus. Walau hari sudah menjelang siang, udara masih begitu dingin serasa seperti masih pagi hari, apalagi matahari nampak enggan menampakkan sinarnya karena tertutup mendung. Aku memesan Original Black Tea dan Aisyah memesan Forest Tea, sedangkan untuk sarapan aku pesan nasi liwet andalan restauran ini sedangkan Aisyah memesan Soup Iga dan tak lupa memesan timus keju, kentang onglok, ketela dan jadah goreng, makanan tradisional yang menjadi andalan restaurant ini dan terkenal enak.

“Mas, tadi aku menelephone mama” ucap Aisyah sambil menekan tanganku meminta perhatian. Aku sengaja menggodanya dengan pura-pura tidak mendengarnya, pandanganku tetap lurus mengarah ke perkebunan teh yang mulai diselimuti kabut, akibatnya Aisyah jadi terdiam tidak melanjutkan ucapannya. Jangan-jangan Aisyah menjadi marah demi melihat aku cuek, aku jadi menyesal mengapa harus menggodanya, baru saja aku palingkan wajahku untuk menatap Aisyah, tiba-tiba tangan Aisyah langsung mencubit pipiku.

“Nih balasannya kalau jadi anak nakal” dan tawa kamipun pecah kembali

“Yup, eh tadi ngomomg apa ya?” tanyaku pura-pura lupa biar dapat cubitan lagi

Dan benar tanpa ampun lagi kedua tangan Aisyah mencubit pipiku sampai aku mengaduh-aduh minta dilepaskan, kutangkap tangan Aisyah yang masih mencubit pipiku dan kutempelkan dikedua pipiku, kurasakan hangatnya elusan tangan Aisyah yang lembut menggetarkan hati dan sekujur tubuhku. Aisyah menatapku dengan senyum riang dan berulangkali mencubit hidungku.

“Aku mengabari Mama kalau saat ini aku sedang jalan-jalan dengan sang pangeran”

“Waduh, ceritanya buat jaga-jaga nih kalau sampai dilarikan” jawabku sambil bercanda

“Iya, kamu emang sudah melarikan hatiku sejak pertama bertemu”

“Aku bukan melarikan hatimu cantikku, tapi aku borong semua pesonamu dan aku simpan rapat-rapat dalam hatiku biar tidak ada orang lain yang bisa mengambilnya”. Dan tawa kamipun pecah kembali diantara gerimis kecil yang mulai membasahi kawasan ini.

Beberapa pengunjung restauran berlarian menuju tempat yang lebih aman dari jangkauan percikan air hujan, beruntungnya gazebo yang aku pilih cukup aman untuk melindungi kami dari tempias air hujan. Pelayan menghampiriku untuk menawari pindah di rumah utama, tapi aku dan Aisyah sama-sama enggan pindah, karena dari sinilah tempat yang paling tepat untuk melihat pemandangan yang menakjubkan. Gerimis hujan justru menghalau kabut yang tadi sempat meyelimuti dan perlahan mulai menghilang sehingga hamparan teh menjadi terlihat sangat jelas, kami berdua lama menikmati indahnya alam kebun teh ini, tanpa menghiraukan hembusan hawa dingin yang semakin menjadi bahkan sesekali air hujan menerpa tubuh kami. Setelah sholat  Luhur kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Jumog seperti rencana semula.

Air terjun Jumog atau grojogan jumog terdiri dari 2 grojogan dan oleh penduduk sekitar dinamakan grojogan pengantin karena letaknya yang berdampingan, banyak mitos yang beredar di masayarakat bahwa pengunjung tempat ini apabila bersama kekasihnya akan kekal abadi dan kelak akan menjadi suami istri.  Halah, ada-ada saja tapi diam-diam dalam hati aku juga berharap seperti mitos disini.

Aisyah nampak sudah mencelupkan kakinya di aliran sungai bergabung dengan puluhan pengunjung yang melakukan hal yang sama, aku sendiri masih berdiri menikmati indahnya air terjun dari kejauhan dengan merapatkan dekapan tanganku demi merasakan hembusan angin yang sangat dingin. Aisyah nampak ceria sekali dan sesekali memanggil-mangilku untuk ikut melakukan hal yang sama, tetapi aku masih ragu dengan hawa dingin yang begitu menusuk. Kuhampiri Aisyah dan kubisikkan sesuatu padanya, Aisyahpun tertawa tergelak.

“Aduh mulai nakal lagi ya” teriak Aisyah

“Kamu ikhlas kalau sampai beku semuanya” jawabku sambil tergelak

“Gak apa-apa mas, sosis beku aja enak dan tahan lama koq”

“Waduh disamakan dengan sosis” jawabku dan tawa kami berduapun pecah

Seharusnya masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi, tapi hari yang sudah menjelang sore dan langit yang sangat gelap karena membawa beban mendung, membuat kami mengurungkan niat untuk melanjutkan ke Lawu Park dan kami sepakat untuk langsung menuju ke Vila Aisyah. Sebetulnya perjalanan menuju Vila yang dimaksud Aisyah dari Air Terjun Jumog tidak terlalu jauh, tapi hujan yang sudah deras membuat perjalanan menjadi sangat lambat. Jalan terus menanjak dan berkelok-kelok dibawah guyuran hujan membuatku harus lebih berhati-hati, apalagi kalau harus berpapasan dengan pengendara dari arah berlawanan. Aisyah juga menjadi khawatir karena dalam derasnya air hujan dan jarak pandang yang terbatas membuat semakin sulit mengenali vila yang pernah menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

“Stop” teriak Aisyah tiba-tiba sambil mencengkeram pundakku.

Seketika itu juga kuhentikan mobil dan nampak samar-samar disamping kiriku terlihat rumah yang cukup megah bergaya eropa dengan halaman yang sangat luas. Aisyah langsung melompat keluar dari mobil dan tidak menghiraukan derasnya air hujan, berlari-lari sambil berteriak-teriak memanggil pak Parmin, melewati pintu pagar yang tidak terkunci dan terus berlari menuju teras rumah sampil menutupi kepalanya dengan sweaternya. Nampak seorang bapak-bapak paruh baya keluar dari rumah dan segera memeluk Aisyah. Alhamdulilah tak salah lagi pasti itu pak Parmin, batinku. Aku segera memasukkan mobilku ke pekarangan rumah dan setengah berlari menuju teras untuk menghindari derasnya air hujan, nampak Aisyah masih menangis dalam pelukan pak Parmin. Aku berdiri dihadapan mereka dan membiarkan Aisyah melepas kerinduannya. Sejenak pak Parmin menoleh padaku dan aku segera mengangguk sambil menyodorkan tanganku. Aisyah memperkenalkanku sambil sesekali mengusap air matanya.

“Perkenalkan pak, ini mas Yudha”

“Saya pak Parmin, yang merawat rumah ini sejak gendhuk Aisyah masih kecil” jawab pak Parmin sambil menjabat tanganku dengan erat.

Pak Parmin membimbing kami masuk ke dalam rumah, karena memang diteras ini hawa dingin begitu menusuk. Lumayan hangat kurasakan ketika memasuki ruang tamu yang menyatu dengan ruang utama, terlihat begitu luas dan indahnya ruangan ini membuatku berdecak kagum. Ada beberapa lukisan dan patung-patung yang tersusun rapi di sekeliling ruangan. Aku duduk di sofa berhadapan dengan Aisyah yang masih terus-menerus mengeluarkan airmata. Kerinduan dan kenangan masa lalu akan rumah ini pasti sangat membekas sekali. Aku biarkan Aisyah dengan nostalgianya sementara aku masih mengagumi ruangan dan terutama koleksi lukisan dan patung-patung yang pasti bernilai tinggi. Pak Parmin muncul dengan membawa dua gelas teh hangat dan menawari kami dengan ramah.

“Monggo nak Aisyah, nak Yudha diminum dulu tehnya biar badannya hangat”

“Waduh terimakasih sekali pak, jadi merepotkan” jawabku sambil membantu pak Parmin meletakkan gelas ke meja.

Pak Parmin beringsut mau kembali kedapur tapi Aisyah mencegahnya dengan memegang tangan pak Parmin,

“pak Min, duduk dulu disini menemani Aisyah

”simbok kemana pak kok gak kelihatan” Tanya Aisyah 

“Sekarang simbok berjualan dipasar nak, lumayan buat tambah-tambah penghasilan”

“Loh memangnya simbok gak bekerja lagi disini?”

“Sudah enggak nak, sejak Vila ini dijual sama bapaknya nak Aisyah, pemilik baru hanya mempekerjakan saya, karena pemilik Vila ini juga sangat jarang kesini, saya saja baru sekali ketemu dan setiap bulan gaji saya ditransfer ke rekening anak saya”

“Oh, kalau anak-anak pak Min sekarang gak disini juga?”

“Anak-anak saya juga ikut membantu jualan dipasar, hanya terkadang yang kecil suka menjemput saya”

“Loh, pak Min gak tidur disini?”

“Sekarang tidak lagi nak, tidak ada temannya, kalau malam suka takut tidur sendirian di rumah yang besar kayak gini” jawab pak Parmin sambil tertawa kecil.

“Terus jemputnya jam berapa pak, ini sudah hampir maghrib lho?”

“Biasanya setelah Ashar sudah dijemput nak, mungkin karena tadi hujan deras anak saya gak berani jemput, mungkin kalau sudah reda hujannya baru dijemput”

“Wah untung ya pak Parmin masih disini, coba kalau gak hujan, pasti pak Parmin sudah pulang” selaku

“Iya betul nak Yudha, kalau tadi tidak hujan, pasti saya sangat menyesal tidak bisa ketemu nak Aisyah”

Aisyah tak henti-hentinya bertanya tentang segala hal menyangkut vila dan kenangan-kenangannya dulu, sampai sayup-sayup terdengar adzan Maghrib.

“Sudah waktunya Maghrib nak, bapak tinggal dulu ya,”

“Sebaiknya nak Aisyah mandi dulu, biar badannya segar” lanjut pak Parmin demi melihat Aisyah basah kuyup karena tadi menerobos derasnya hujan.

Aisyah mengangguk dan sejenak memandangku,

“Mas Yudha mandi juga ya, kebetulan aku tadi membawa peralatan mandi”

“He em, Aisyah dulu geh, nanti saya belakangan” jawabku sambil rebahan disofa

Aisyah segera bergegas ke kamar mandi dengan menenteng peralatan mandi dan baju ganti, aku baru ingat kalau tidak bawa pakaian ganti, tapi itu gak jadi masalah. Aku kembali menyandarkan kepalaku di kursi dan membayangkan seperti apa kehidupan Aisyah saat itu, aku tambah kagum dengan ketegaran Aisyah dengan segala permasalahan yang dihadapinya, semakin membuatku bertekad untuk melindungi Aisyah bersama menghadapi segala rintangan yang menghadang didepan.

Aku terkaget ketika Aisyah mengelus pipiku perlahan membangunkanku dan memintaku mandi, aku segera bergegas kekamar mandi dan setengah meringis menahan dinginnya air yang serasa mandi air kulkas. Selesai mandi aku buru-buru menyeruput teh yang tadi dihidangkan pak Parmin untuk mengusir hawa dingin yang seakan membuatku jadi beku, sayang teh yang tadi masih panas mengepul kini juga sudah jadi sedingin es dan Aisyah jadi terkekeh-kekeh melihat kejadian malang yang menimpaku ini.

“Yuk kita sholat?” ajak Aisyah sambil masih tersenyum dan bergegas menuju ruangan yang letaknya disudut depan.

Aku mengikuti Aisyah menuju ruangan persis disamping ruang tamu yang ternyata sebuah kamar yang didesain sebagai mushola, sangat luas dan terasa hangat, seluruh lantai ruangan terhampar karpet tebal dan empuk yang pasti berharga mahal. Suasana sangat sepi sehingga bacaanku yang lirih sudah cukup menggema dalam ruangan itu. Selesai sholat dengan takzim Aisyah mencium tanganku dan kamipun berdoa dengan khusyuk bersama-sama.

Berlanjut....

  CINTAKU PADA SUATU MASA (III) CHAPTER 8 Selesai meeting, sore itu aku bergegas berkemas-kemas untuk pulang dan seperti biasa aku menulis...