CINTAKU PADA SUATU MASA (II)
CHAPTER 5
Akhirnya kutemukan juga kost Tiga Dara karena gemerlap lampu dimalam hari cukup membuatku agak kerepotan menghapal jalan untuk sampai di kost Tiga Dara ini. Kubelokkan mobilku masuk kehalaman kost yang cukup luas dengan beberapa pohon mangga disela-sela tumbuhan yang lain. Pintu ruang tamu nampak terbuka tapi tidak satupun orang terlihat disana, aku khawatir terlambat menghadiri acara yang dimaksud Sheila. Aku urung mengetuk pintu karena dari dalam sudah muncul sesosok wanita yang sangat aku kenal, Aisyah menghampiriku dengan kemeja bernuansa biru dipadu jilbab dengan warna senada sedikit lebih muda, cantik sekali dan terlihat sangat anggun.
“Bapak eh…ehm.....mas Yudha, masuk aja,
maaf teman-temanku pada jahat sudah duluan berangkat” ucap Aisyah menyambutku dengan
sedikit berkelakar
seakan semuanya baik-baik saja.
Gadis yang luar biasa, batinku…
sepedih apapun permasalahan yang sedang dihadapinya seakan tidak mau orang lain
ikut menanggungnya. Setelah mempersilakan aku duduk Aisyah menghilang lagi
masuk kedalam. Aku agak canggung memasuki ruang tamu yang tidak begitu luas
tapi tertata apik dengan paduan warna cat tembok dan gordyn yang serasi. Kursi
tamu yang dibalut cover warna marun hampir memenuhi ruangan. Ada lukisan pemandangan
desa tergantung di tembok dan tepat diatasnya jam dinding cukup besar model
klasik yang suara detakannya seakan berpacu dengan detak jantungku. Aisyah
menghampiriku dengan senyum mengembang di bibirnya, mengisyaratkan hatinya yang
penuh dengan kebahagiaan. Sekejap memandangku dan segera megalihkan
pandangannya keluar. Kurasakan hasrat untuk meluapkan kasih sayang memenuhi
jiwa ragaku, ingin kudekap erat tubuhnya dalam pelukanku, ingin ku curahkan
segala kerinduanku selama ini.
“Mas…. Berangkat yuk, kasihan
mereka menunggu kita” ajak Aisyah menyadarkanku dari lamunan.
Sempurna, decak kagum dalam hatiku
memandang Aisyah dari kedekatan seperti ini. Sambil melangkah keluar dari
rumah, kubiarkan mataku beradu dengan matanya, mata indah itu seakan punya magnet
yang sanggup menawan hatiku. Tak banyak yang kubicarakan dalam perjalanan ke restaurant
yang dimaksud, alunan lagu Perfect dari dalam mobilku mendayu-dayu seakan
mewakili perasaanku saat itu.
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass,
listening to our favorite song
When you said you looked a
mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling,
you look perfect tonight
Anganku melayang jauh,
membayangkan suatu saat nanti menjadi bagian dari hari-hari Aisyah, menjadi
kekasih hati Aisyah. Luapan perasaan cinta yang membara membuatku tak kuasa
untuk sesekali menatap wajahnya, senyum manis Aisyah selalu mengembang saat
mata kami saling beradu.
Restauran yang berada ditepian
laut ini pada malam hari penuh dengan warna-warni cahaya. Tempatnya sangat luas
dengan didominasi oleh kayu dan bambu. Didalamnya terdiri dari
bungalow-bungalow dengan berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil yang hanya
cukup untuk dua orang sampai dengan yang sangat luas untuk rombongan. Setelah
melewati jembatan kayu, biasanya pelayan yang berdiri berjajar akan segera
menghampiri kita untuk dipilihkan bungalow yang sesuai, atau kita juga diberi
kesempatan untuk memilih sendiri. Setelah kita duduk nyaman, pelayan akan
menghampiri kita dengan buku menu dan beberapa penjelasan mengenai tata tertib
yang harus ditaati. Sheila sudah menghadangku sebelum pelayan menyapaku dan
membimbing kami ke tempat yang sudah dipilihnya
bersama teman-temannya. Sheila menggandeng tangan Aisyah dan mereka berdua
terlibat perbincangan yang aku tidak bisa mendengarnya, sesekali Sheila melirikku sambil
tersenyum.
Setibanya di bungalow, ada empat teman Aisyah yang menyambut kami, ada yang
tepuk tangan kecil ada yang tertawa-tawa dan ada yang mengacungi jempol, hampir
semua mata memandangiku dengan penuh selidik. Agak grogi juga dengan tatapan
mereka yang seakan mengadiliku, tapi segera kutata hatiku untuk mendapatkan
kembali kepercayaan diriku. Nampak Aisyah sibuk menenangkan mereka dan beberapa
kali bahkan dengan nada mengancam. Aisyah meraih tanganku untuk mengajak duduk
persis didepan mereka, dan serempak mereka menyapaku dengan nakal. Sheila yang
sedang sibuk menulis menu yang akan dipesan juga sempat berseloroh sambil
tersenyum-senyum memandangku. Aku segera memperkenalkan diri setelah tak kuasa
dengan desakan mereka dan satu-persatu mereka juga memperkenalkan
diri, aku
baru menyadari kalau penghuni kost
Tiga Dara tidak sesuai dengan namanya, karena ternyata penghuninya enam orang. Sambil
menunggu pesanan datang, aku mengajak mereka bermain dengan beberapa permainan
yang biasa kuperagakan setiap mengisi seminar, mulai dari berburu babi, tebak dan tembak serta permainan Who am I. Tak pelak hiruk pikuk dan tak henti-hentinya mereka
tertawa mengikuti permainan demi permainan, bahkan beberapa pengunjung
disebelah juga ikut tertawa melihat kehebohan kami. Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang
juga, barisan pelayan dengan baki berisi berbagai
macam makanan dan minuman pesanan kami. Ada gurameh bakar, nila bumbu asam
manis, bandeng pepes dan beberapa cemilan, untuk sayuran ada brokoli saus
tiram, kangkung ca bawang putih dan tauge ca ikan asin serta beberapa minuman
sesuai selera masing-masing. Aku sendiri memilih Es degan kopyor, sedangkan Aisyah
memilih Jus avocado. Dan kamipun segera menikmati berbagai menu yang sudah
tersedia dengan diselingi senda gurau, paling banyak aku yang jadi sasaran
pertanyaan mereka, lebih tepatnya dibully termasuk mempertanyakan keseriusan
hubunganku dengan Aisyah, Aisyah hanya terdiam dan pura-pura tidak
menghiraukannya.
Setelah puas menikmati hidangan
dan juga mereka sudah berhasil mengerjaiku, Sheila minta diri untuk kekasir
menyeleseikan pembayaran disusul teman-teman yang lain setelah sempat
berfoto-foto dengan beberapa latar belakang. Aisyah menggamitku dari belakang dan
memberi isyarat untuk pulang, tapi segera kuraih tangannya, kugenggam erat dan
kuberanikan untuk mengajaknya singgah sebentar. Sejenak Aisyah nampak
ragu, tapi akhirnya menurutiku karena kuatnya tarikan
tanganku yang tidak kuasa ditolaknya. Aku membimbingnya berjalan menuju ujung
dari deretan bungalow ini. Tempat yang disiang hari diperuntukkan bagi yang
suka memancing dilengkapi area
bermain anak-anak, tapi pada malam hari berubah menjadi tempat
yang sangat cocok buat yang pengen berdua-duaan dengan pasangannya. Temaram
lampu yang berwarna-warni serta pemandangan lampu dikejauhan membuat tempat itu
menjadi pilihan yang tepat bagi yang sedang dimabuk asmara, seperti aku saat
ini. Aku memilih meja dekat kolam ikan yang dikelilingi oleh taman-taman yang
indah. Aisyah nampak bersemangat kala melihat ikan-ikan hias yang beraneka
warna saling berkeliaran mengelilingi kolam. Sejenak Aisyah memandangku dan aku
paham bahwa Aisyah lebih tertarik duduk lesehan ditaman
tepat ditepi kolam. Ku duduk disebelah Aisyah dan kucoba menikmati kelucuan
ikan-ikan didepanku, tapi gemuruh jantungku membuat aku sulit untuk terhibur. Agak
lama kami saling terdiam, akhirnya kuberanikan diri untuk meraih tangan Aisyah,
kugengggam erat jari-jemarinya dan kupandangi wajahnya.
“Aisyah…..”ucapku parau hampir tak terdengar.
Kelu rasanya mulutku untuk segera
melanjutkan ucapanku, gemuruh jantungku terasa menghentak kencang dan rasa
percaya diriku seakan sirna tak berbekas. Aisyah menatapku sekilas dan
menundukkan pandangannya menanti kelanjutan ucapanku.
“Maafkan aku….. kalau aku….selama
ini……. Aku….” Sekuat tenaga aku berusaha menuntaskan kalimatku, tapi suaraku seperti
tercekat di tenggorokan.
Aisyah…. Aku… aku sungguh ...........mencintaimu…. “
Akhirnya aku bisa menyeleseikan
kata demi
kata yang terasa susah meluncur dari bibirku, kata demi kata yang merupakan
ungkapan perasaan hatiku selama ini. Aisyah menunduk dan terdiam. Aku menunggu
dan menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Aisyah, akhirnya dengan
sisa-sisa keberanianku, aku coba untuk memecahkan kebekuan,
“Aisyah, maukah kamu menerimaku,”
ucapku lirih kemudian.
Tapi belum juga Aisyah
mengucapkan sepatah katapun dan aku menjadi semakin kawatir kalau-kalau Aisyah
tidak dapat menerimaku. Aisyah masih terdiam tertunduk dan aku baru menyadari
ternyata air mata Aisyah mulai menetes membasahi pipinya. Aku mencoba memahami derita apa sebenarnya yang
ada dihati Aisyah. Kugenggam erat tangannya, kupandangi wajah Aisyah yang mulai
sesenggukan menahan tangis, airmata mulai
mengalir dipipinya dan semakin deras. Ada sesuatu yang tidak bisa ia
ungkapkan. Aku jadi teringat dengan penjelasan Sheila waktu itu….. ya Aisyah
menyimpan rahasia yang disimpannya sendiri diam-diam dengan penuh kepedihan. Ya
Allah aku berjanji dalam hatiku untuk membantu Aisyah keluar dari permasalahannya
karena aku begitu menyayanginya. Kesedihan mulai menguasaiku, aku harus bisa menahan
air mata ini, please….. tapi sia-sia saja aku berusaha menahan air mataku, satu
demi satu menetes juga dipipiku, aku berusaha mengusapnya sebelum ketahuan Aisyah. Tapi
terlambat, Aisyah terlanjur melihatnya, bibirnya sudah mau mengucap sesuatu tapi segera
diurungkannya demi melihat air mata yang menetes dipipiku dan dengan jarinya diusapnya
air mataku dengan lembut, seakan ingin menghapus kesedihan yang menderaku. Keharuan
menyeruak dalam hatiku, lirih Aisyah membisikkan kata-kata yang hampir tidak
dapat kutangkap maksudnya,
“Mas Yudha….. sebenarnya aku
sudah lama menanti saat-saat seperti ini…..aku sudah lama menunggu mas Yudha…..hampir
setiap hari aku selalu mengharapkan mas Yudha…..tapi aku …..”
Aisyah tidak melanjutkan
ucapannya, aku masih menatap kedua matanya untuk mencari-cari maksud dari
ucapannya. Aisyah menatapku sekali lagi dan masih dengan suara lirih
melanjutkan ucapannya,
“Tapi….aku takut nantinya akan
membuat mas Yudha kecewa, Aku belum pernah menceritakan…..siapa diriku
sebenarnya…”.
Aisyah tak mampu melanjutkan
kalimatnya, lama suasana kembali hening, kuusap sisa-sisa airmata yang
membasahi pipi Aisyah, kubelai lembut pipi Aisyah dengan penuh perasaan, ku
raih dagu Aisyah dan kudongakkan keatas.
“Aisyah…..” bisikku lembut.“Aku
tidak peduli siapa kamu…..yang aku tahu aku sungguh menyayangimu dan aku akan
menerima kamu apa adanya”.
Kuraih tubuh Aisyah, kudekap erat dalam
pelukanku dan kubiarkan Aisyah menumpahkan isak tangisnya dalam pundakku.
Dalam perjalanan pulang, kami
berdua hanya diam,
tenggelam dalam pikiran masing-masing. Alunan lagu A Thousand Years - Christina
Perry
dari stereo mobilku mengalun lembut, membawa anganku ke film Twilight Saga, dimana kekuatan cinta
membuat Edward dan Bella sanggup menghadapi berbagai rintangan dengan segala
usaha agar takdir bisa menyatukan mereka berdua.
Heart
beats fast, Colors and promises
How to be brave, How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt, suddenly goes away somehow
One
step closer
I
have died everyday, waiting for you
Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more………….
CHAPTER 6
Malam
minggu yang cerah dan lalulintas terasa begitu
padat, baru
kali ini selama hidupku aku merasakan indahnya malam minggu. Disepanjang
perjalanan dipenuhi warna warni lampu hias yang semakin mempercantik indahnya
jalanan kota. Memasuki jalan menuju kost Aisyah kepadatan kendaraan semakin
menjadi, maklum jalan tersebut satu-satunya akses menuju kampus dimana
dikanan-kiri penuh dengan kost-kost an. Aku sejenak menghentikan mobilku
tepat didepan pintu pagar kost Tiga Dara ketika seorang pria gagah segera membukakanya dan
tersenyum padaku. Segera kumasukkan mobilku dan di halaman sudah terparkir tiga
mobil, juga ada dua
pria yang lebih muda dariku nampak
asyik ngobrol diteras depan. Sedikit kegembiraanku surut, anganku untuk
berduaan dengan Aisyah dimalam minggu mendadak sirna demi melihat ramainya kost
Aisyah, tapi aku segera menghibur diriku bahwa aku bersama Aisyah tidak akan
berlama-lama di kost dan akan menghabiskan malam minggu disuatu tempat yang
romantis diluar. Baru saja keluar dari mobil beberapa pria tersebut menyambutku dengan antusias.
“Halo mas bro”
sapa pria gagah yang tadi membukakan pintunya dan segera menjabat tanganku,
“Saya Ito
pacarnya Sheila” lanjutnya sambil masih mengguncang-ngguncang tanganku.
Aku sudah
menduga dengan segala keistimewaan yang ada pada Sheila pasti tidak sulit untuk
mendapatkan kekasih yang seperti Ito ini. Dibelakang Ito ada kedua pria muda yang gagah-gagah
juga memperkenalkan
diri dan aku baru menyadari bahwa pasti mereka sudah merencanakan sesuatu malam
minggu ini, apakah ini juga ide dari Sheila? apa lagi yang akan direncanakan?
Tapi aku yakin semua ini pasti demi kebaikan hubunganku dengan Aisyah.
“Halo mas
Yudha” teriak Sheila dari dalam demi melihat kedatanganku.
“Tunggu
sebentar ya, Aisyah baru berdandan cantik” lanjut Sheila sambil melangkah mendekatiku.
”Mas
Yudha, kita sudah sepakat dalam rangka menyambut mas Yudha sebagai anggota kost
Tiga Dara, kita akan berkaraoke bersama” lanjut Sheila sambil meminta
persetujuan Ito yang sudah menjajarinya.
“Betul mas bro, kita rayakan persahabatan ini
dengan bernyanyi dan bergembira bersama”, timpal Ito sambil menepuk-nepuk
pundakku.
“Habis
deh gue” selorohku sambil tersenyum kecut demi menyadari suaraku yang
pas-pasan.
Seumur-umur
aku baru kali pertama aku menjejakkan kaki di tempat karaoke ini walau hampir setiap
hari aku melewatinya. Sepertinya Sheila sudah booking tempat karena setelah
bercakap-cakap sebentar dengan resepsionis, seorang petugas datang menghampiri
kami dan segera membimbing kami menuju ruangan yang sudah dipersiapkan di
lantai dua. Kami diantar ke ruangan karaoke yang cukup luas dengan deretan sofa
dan beberapa kursi tambahan, lampu warna-warni berpendar memenuhi ruangan serta TV layar lebar
terpampang megah didepan. Petugas mempersilakan kami masuk dengan sopan dan menerangkan
tata cara pengoperasian serta tata tertib yang harus dipatuhi serta mencatat
pesanan makanan dan minuman kami. Tiba-tiba Sheila menoleh kepadaku dan menyebut
namaku dengan cukup kencang,
“Please
welcome our beloved new member, mas Yudha” pekik Sheila diikuti tepuk tangan
dan cekikikan hampir semuanya tak terkecuali Aisyah.
Aku
meyambut mike dari Sheila dengan masih memutar otak mencari-cari lagu yang
sekiranya cukup aman ku nyanyikan. Ku ketik huruf-demi huruf melalui remote control untuk mencari lagu dan
setelah mereka tahu bahwa aku akan menyanyikan lagu Menemukanmu dari Seventeen
suasana jadi riuh,
“Hebat
mas bro, pas banget nih lagunya” seloroh Ito sambil tak henti-hentinya menepuk
pundakku.
“Tapi
bantu nyanyi bareng-bareng ya” teriakku diantara gemuruh tawa dan celotehan
mereka yang belum reda.
“Romantis
banget” celetuk Febri sambil memeluk erat Aisyah yang duduk disampingnya.
Sekilas Aisyah
melirikku sambil tersenyum demi melihat kehebohan teman-temannya, Aisyah terlihat cantik
sekali dengan kemeja putih dipadu dengan celana jean warna biru. Musik segera
mengalun dan kehebohan mulai mereda, tak kuduga seperti paduan suara mereka semua ikut
menyanyi tanpa terkecuali, hanya pada bagian-bagian tertentu mereka membiarkan suaraku
terlihat menonjol dan memasuki refrain kembali suaraku tenggelam diantara
teriakan mereka, selamat aku, batinku. Lagu kedua aku memilih Beautiful in White dari Shane Filan, lagi-lagi disambut dengan
kehebohan dan tepuk tangan dari teman-teman baruku, dan lagupun mengalir dengan
lancar karena semua ikut bernyanyi bahkan kali ini mereka tidak memberi
kesempatan kepadaku untuk bernyanyi sendiri. Selesai lagu kedua Sheila segera
mengambil mike yang ada di tanganku dan mereka langsung berteriak-teriak
menyebut nama Aisyah, rupanya mereka minta giliran Aisyah untuk bernyanyi. Aisyah
segera mengambil mike yang ada didepannya, dan Sheila terlihat sibuk membantu
mencarikan lagu yang diminta Aisyah. Tak kuduga Aisyah memilih lagunya Christina Perry, A Thousand Years, hatiku
bergetar dan merasakan pesan cinta yang dalam pada lagu yang dipilihnya. Suasana
semakin hiruk pikuk dan semua bertepuk tangan seakan-akan mengakui kekuatan
cinta kami berdua.
Ito
meraih pundakku sambil berbisik “kamu beruntung bro, saya yakin lagu ini
ditujukan khusus untukmu”.
Semua terdiam
saat Aisyah mulai melantunkan bait demi bait, sepertinya mereka tidak mau melewatkan
suara Aisyah yang bening dan sangat merdu. Tanpa sadar aku bertepuk tangan dan segera
diikuti yang lain, saat memasuki refrain tanpa diaba-aba aku ikut menyanyi dan kembali
ruangan bergemuruh oleh suara kami semua. Semakin malam semakin meriah karena satu demi satu
semua kebagian bernyanyi dan tidak ada yang menolak saat ditodong oleh Sheila. Waktu
sudah hampir habis sesuai waktu yang dibooking Sheila dan rasanya kita semua
juga sudah lelah. Aisyah mendekatiku saat kami berbenah-benah mau meninggalkan
ruangan, senyum manisnya mengembang dan saat menuruni tangga, tangannya menggenggam
erat tanganku dan beberapa kali Aisyah menyatakan kegembiraanya malam ini.
Sesampai di lobi bawah Aisyah melepaskan tangannya dari genggaman tanganku dan
menatapku lembut,
“Mas, aku
mau ngomong sesuatu kepadamu” bisiknya lirih.
Aku
membimbing Aisyah duduk di sofa lobi bawah dan mempersilakan Aisyah untuk
mengutarakan maksudnya. Kulihat Aisyah malah menundukkan kepalanya dan aku
segera menyadari kalau Aisyah mau mengungkapkan sesuatu hal yang serius,
mungkin rahasia yang selama ini dipendamnya sendiri. Aku segera membimbingnya
berdiri.
“Aisyah, bagaimana
kalau kita ke Serambi Resto yang tidak jauh dari sini, tempatnya cukup nyaman”
ajakku dan segera diiyakan oleh Aisyah.
Sheila
dan teman-teman yang sedang
menunggu diluar, segera aku memberitahukan ke mereka untuk pulang duluan karena
kami akan mampir di Serambi
sebentar. Sheila nampak tersenyum nakal kepadaku dan kali ini aku baru paham
maksud senyum Sheila selama ini.
Serambi resto nampak penuh bahkan meluap
sampai ke bagian luar, aku khawatir kalau tidak dapat tempat dan gairah Aisyah
untuk menceritakan masalahnya jadi pupus. Resepsionis menyambutku dengan ramah dan
menjawab kekawatiranku bahwa masih ada satu meja kosong di dalam. Selang
beberapa menit seorang pelayan memanduku menuju meja yang dimaksud dan setelah
mencatat menu yang kami pesan, pelayan
segera meninggalkan kami dengan sopan dan tidak lupa mengucapkan
terimakasih. Kualihkan pandanganku ke Aisyah yang sedari tadi menunduk dan
segera tersipu malu kala menyadari kalau aku memandangnya.
“Aisyah”
bisikku pelan sambil ku anggukkan kepala tanda siap mendengarkan.
Aisyah
memandangku dengan tajam dan terdiam lama dan tak
segera mengucapkan sepatah katapun. Aku genggam erat jemarinya dan sedikit
kuremas demi merasakan gelora hatiku yang tak tertahan.
“Aisyah,
aku siap mendengarkan apapun yang akan kamu ucapkan” bisikku lirih.
Aisyah
kembali memandangku dan senyum mulai mengembang di bibirnya walau hanya
sebentar,
“Mas….
Mengapa mas Yudha mencintai Aisyah, padahal mas Yudha belum tahu siapa
sebenarnya Aisyah” bisik Aisyah sambil berusaha melepas jemarinya dari
genggamanku.
Aku
merasakan getaran dalam hatiku lagi, kali ini bahkan lebih kencang dan membuat
tubuhku ikut bergetar. Aku tahu jawabannya dengan pasti mengapa aku memilih Aisyah,
dan semuanya pasti juga tahu bahwa Aisyah sangat cantik dan mempesona….. tapi
apakah itu jawabanku ke Aisyah untuk membuat Aisyah yakin
padaku. Aisyah
sungguh menarik, hidungnya yang mancung, matanya yang bulat berbinar-binar
dibingkai oleh bulu mata yang lentik, wajah yang putih bersih dihias dengan
bibir yang selalu merona, apakah ini yang akan kuungkapkan. Apakah Aisyah
keturunan Arab, apakah ini ada sangkut-pautnya dengan permasalahan yang
dipendam Aisyah selama ini. Kupandangi Aisyah yang sejak tadi masih menanti
jawabanku, kembali kugenggam erat tangan Aisyah,
“Aisyah,
sekian lama aku mencari dan menunggu seseorang yang sanggup menggetarkan hatiku
dan yang bisa menjadi pelabuhan rinduku, dan baru denganmu aku merasakan
getaran itu bahkan kurasakan getaran itu semakin hari semakin kuat dan aku
yakin bahwa kamulah wanita yang selama ini aku tunggu” jawabku sambil kutatap kedua
matanya.
Mata kami
beradu dan dari sorot matanya aku bisa merasakan cinta Aisyah yang begitu kuat.
Aku baru mau melanjutkan penjelasanku ketika pelayan datang membawa pesanan-pesanan kami,
meletakkan dimeja dengan hati-hati dan segera meninggalkan kami
setelah memastikan pesanan kami sudah sesuai. Aku segera meneguk jus avocado
pesananku dan Aisyah juga segera menikmati Lemon tea kesukaannya.
“Apakah
mas Yudha sudah tahu kalau Aisyah keturunan Arab tepatnya dari Yaman?” selanya
setelah beberapa kali menyeruput lemon tea.
“Aku
sudah menduganya, memangnya kenapa?” jawabku sambil kuraih kembali jemari Aisyah.
“Syukurlah,
walau aku masih belum yakin kalau kedua
orangtuaku akan setuju saat mengetahui pilihanku jatuh pada mas Yudha, tapi
sebetulnya bukan
itu yang akan Aisyah ungkapkan ke mas Yudha”. Sejenak Aisyah menghentikan
ucapannya dan meneguk sekali lagi Lemon tea nya.
“Sebenarnya
selepas SMA dulu papaku sudah menjodohkanku dengan anak dari teman bisnisnya,
awalnya aku menurut saja walau aku belum pernah bertemu, belum pernah tahu
siapa dia dan dari mana dia, tapi saat aku mau melanjutkan kuliah di kota ini, papaku
memutuskan untuk mengikatku dengan tali pertunangan agar semua bisa menjaga
diri masing-masing” Aisyah menghela nafas dan kulihat ada sedikit kepiluan
diwajahnya.
Kugenggam
erat kedua tangannya dan kubiarkan Aisyah melanjutkan ceritanya. Aisyah
menatapku sebentar dan mengalihkan pandanganya ke langit-langit seakan mau
melepas segala kesedihannya.
“Dan
terjadilah pertunangan itu, saat itu aku baru menyadari kalau Fadil ternyata
anak orang paling berpengaruh dan paling kaya dikotaku”,
Aisyah
menatapku dengan
pandangan sedih, aku merasakan sesuatu yang tiba-tiba membuat
hatiku jadi jengah.
“Aisyah,
aku yakin pasti setelah itu terjadi sesuatu yang membuatmu berubah pikiran”
tanyaku tak sabar dengan jalan cerita Aisyah.
“Kamu
benar mas, beberapa bulan setelah aku kost di kota ini, aku baru mendengar
tentang siapa sebenarnya Fadil itu” Aisyah menghela nafas lagi dan menatapku
untuk meyakinkan kata-katanya barusan.
“Tanpa
sengaja aku berkenalan dengan mantan pacar Fadil yang pernah aborsi hasil
hubungan gelapnya, tidak itu saja dia juga bercerita kalau sering melihat Fadil
mengkonsumsi narkoba serta sering bertindak kasar”.
Aisyah
mengelap dahi dan ujung hidungnya dengan tisu walau aku tidak melihat ada
keringat disana. Aku menunduk dan dalam hatiku mengutuk Fadil, aku berusaha
menahan diri jangan sampai perasaan benciku terhadap Fadil mengacaukan suasana
saat ini.
“Aisyah,
tapi kamu belum diapa-apakan kan sama si Fadil, maksudku berapa kali kamu
pernah bertemu dengan Fadil semenjak bertunangan?”.
Aisyah
meraih tanganku
dan mengelus-elus perlahan, seakan mau meredakan amarahku.
“Sebetulnya
semenjak bertunangan, beberapa kali Fadil berusaha menemuiku tapi Alhamdulillah
Allah selalu menjagaku, saat berkunjung kerumahku aku sedang di Semarang dan
saat dia berkunjung ke kost aku sedang keluar kota atau ada kegiatan kampus
yang cukup lama sehingga tidak pernah bertemu”.
Aku
menjadi lega dengan penjelasan Aisyah, tapi aku melihat kesedihan mulai
menyelimuti raut wajah Aisyah,
“Aisyah
kamu baik-baik saja kan?” tanyaku.
Aisyah
tidak menjawab pertanyaanku, tapi malah melanjutkan ceritanya,
”Genap satu
tahun aku di Semarang dan Fadil mulai sadar kalau aku berusaha menghindar
darinya, Fadil dan keluarganya menemui keluargaku dan menuntut untuk segera
melangsungkan perkawinan, Papa dan Mama yang sudah sadar siapa Fadil sebenarnya
segera menyusulku ke Semarang dan kami bertiga bertangis-tangisan demi
mengetahui kami semua telah terjebak”
Aisyah
tidak dapat menahan airmatanya, dan tangispun pecah tak dapat ditahan lagi. Aku
meraih tangan Aisyah dan kugenggam erat, akupun larut dalam kesedihan. Aisyah
masih sesenggukan dan tubuhnya ikut terguncang karena kesedihan yang
dirasakannya.
“Mas
Yudha… ucap Aisyah diantara derai airmatanya,
“Akibat
penolakan keluargaku terhadap tuntutannya, bisnis papaku hancur dan kami jatuh
miskin, tidak itu saja Fadil tetap berusaha mengejarku serta mengancam tidak
boleh ada lelaki lain yang mendekatiku, siapapun yang mendekatiku akan……”
Aisyah
tidak bisa melanjutkan ucapannya karena isak tangisnya yang semakin menjadi. Demi
melihat kondisi Aisyah yang sangat terguncang aku menawarkan untuk pulang saja,
dan untungnya Aisyah menuruti ajakanku. Sepanjang perjalanan kesedihan masih
membelenggunya dan kami hanya berdiam diri larut dalam bayangan masing-masing. Aisyah
memandangku sebentar dan merebahkan kepalanya di pundakku.
“Terimakasih
mas Yudha, akhirnya tuhan mempertemukan kita walau aku belum yakin apakah kita
akan benar-benar dipersatukan” bisik lirih Aisyah.
Aku tidak
berusaha menjawabnya, biarkan Aisyah menumpahkan segala perasaan hatinya, biar
sedikit longgar himpitan hatinya selama ini.
“Mas
Yudha…..akankah kita sanggup menghadapi segala rintangan yang akan menghadang
cinta kita ?”, Kali ini suara Aisyah sedikit tertekan mengungkapkan kekhawatirannya.
“Aisyah, serahkan
semua padaNya, hanya Dialah maha pengatur yang baik” bisikku sambil kupegang
erat bahunya untuk menenangkan suasana hati Aisyah
yang masih terguncang.
Semuanya kembali senyap, hanya
alunan musik dalam mobilku yang mengalun lembut lagu “Just For You”. Sesampai
di kost suasana sudah sepi dan kubimbing Aisyah sampai pintu, tangan Aisyah masih
erat memegang tanganku walau aku berusaha melepaskannya.
“Mas, aku
sudah terlanjur mencintaimu, aku tidak bisa membayangkan kalau mas Yudha
akhirnya meninggalkanku” bisik Aisyah.
Ku
tempelkan jari telunjukku kebibirnya “Sebaiknya Aisyah segera istirahat dulu,
besok pagi aku akan kesini lagi”,
Aisyah
nampak tersenyum mendengar janji yang baru kuucapkan dan tangannya mulai
melepaskan genggamannya.
“Terimakasih
mas Yudha,” ucap Aisyah yang terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya.
Akupun
segera berpamitan dan menjalankan mobilku pelan-pelan takut penghuni kost yang
lain akan terganggu.
CHAPTER 7
Sebenarnya
hari minggu ini
ada janji dengan teman-teman untuk diskusi membahas proyek bantuan air
bersih di desa-desa yang mengalami kekeringan, untungnya mereka mau mengerti
kalau aku kali ini belum bisa ikut, Juga rencana mau service mobil akhirnya
menjadi tidak penting. Aku harus bisa menenangkan suasana hati Aisyah dan
meyakinkannya kalau dia pantas untuk diperjuangkan.
Kost Tiga
Dara masih nampak sepi saat aku memasukkan mobilku ke halaman, bau harum dari
bunga mangga yang mulai mekar menyergapku tatkala aku keluar dari mobil. Aisyah
nampak sudah menungguku di teras,
dengan senyumnya yang mengembang menambah cantik penampilannya. Aku segera
menghampirinya dan belum sempat aku mengucap salam segera tanganku diraihnya
untuk dicium, aku benar-benar surprise dan bersyukur dalam hati menemukan
seorang wanita yang tidak hanya cantik wajahnya tapi juga baik budi pekertinya.
Setelah kami duduk berdua di teras, baru aku menyadari kalau kesedihan masih
menyelimuti Aisyah sehingga timbul keinginan dalam hatiku untuk membahagiakan hati Aisyah, tapi bagaimana
caranya.
“Ehm Aisyah,
aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke suatu tempat dimanapun yang kamu suka”
Nampak
senyum Aisyah mengembang dan matanya mulai berbinar demi mendengar tawaran yang
baru ku ucapkan.
“Ehm, kemana
ya…. Mungkin mas Yudha punya ide?
“Bagaimana
kalau ke daerah Tawangmangu, sepertinya banyak tempat-tempat wisata yang bagus
disana” jawabku spontan karena terlintas begitu saja dalam pikiranku dan memang
daerah lereng gunung Lawu itu terkenal
indah.
“Yess…
setuju mas, aku mau banget kalau kesana” sahut Aisyah dengan senyum lebar
menampakkan kegirangannya.
“Aku
sudah hampir tiga tahun tidak pernah kesana semenjak vila keluargaku dijual
untuk menutupi kerugian bisnis papa”
“Oh, maaf
kalau mengingatkanmu akan kenangan pahit ”
“Don’t
worry mas, dunia gak akan kiamat koq, hehehe…” candanya masih dengan senyum
lebarnya.
“Dulu aku
pernah punya obsesiku bahwa suatu saat aku akan membawa orang yang aku cintai berkeliling
menikmati indahnya tempat-tempat wisata di lereng gunung Lawu” lanjutnya
“Terbang
dengan karpet ajaib dong” godaku
“Ya, aku
akan membawa mas Yudha terbang, tapi bukan dengan karpet melainkan dengan kedua
sayapku” jawab Aisyah membuat kami berdua tertawa bahagia.
“Sebaiknya
kita segera berangkat yuk, mumpung masih pagi”
“Ayuk,
aku akan ambil sweater
dulu ya”
Aisyah
segera beranjak mengambil sweaternya dan aku baru menyadari kalau tidak membawa
perlengkapan apapun termasuk baju hangat mengingat hawa di lereng gunung Lawu
pasti sangat dingin, aku hanya berniat membahagiakan hati Aisyah, membantunya
keluar dari himpitan permasalahan yang dihadapinya. Tentang Fadil, aku juga belum
mau memikirkan tentang hal yang berhubungan dengannya. Andaikan benar
ancamannya, aku akan siap menghadapinya walaupun aku belum tahu dengan cara apa
aku nanti menghadapinya, karena pasti Fadil tidak akan turun tangan sendiri
tapi dengan kekayaannya akan begitu mudah baginya menyuruh preman bayaran untuk
mencelakaiku.
“Koq
malah melamun?” sapa Aisyah mengagetkanku
Aisyah sudah
didepan mataku dengan jean warna coklat dan tshirt putih dibalut sweater warna
abu-abu muda, sangat kasual dan terkesan relaks.
“Kamu
terlihat cantik sayangku”
“Terimakasih,
tapi sayangnya aku gak bawa uang receh”
“Hehehe…
awas ya kamu” sahutku sambil ku cubit pipi Aisyah dan baru kulepaskan setelah Aisyah
mengaduh kesakitan.
“By the
way koq sepi …. Pada kemana emangnya?”
“Ada koq,baru
pada ngrumpi dibelakang…..emang mas Yudha mau ngajak serta semua?” canda Aisyah
lagi sambil cekikikan
“Awas ya
kucubit pipimu sekali lagi dan tak akan kulepaskan” ancamku disambut dengan
tawa Aisyah setelah mobil mulai kujalankan.
Aku bersyukur
demi melihat Aisyah yang terlihat gembira, sepertinya untuk
sementara sudah
bisa melupakan
kesedihan yang membelenggunya. Sepanjang perjalanan Aisyah bersenandung
mengikuti setiap lagu yang mengalun dari stereo mobilku, aku tidak menyangka
kalau selera musik Aisyah tidak beda jauh denganku, dari lagu-lagu
evergreen, jazz,
rock, R & B sampai lagu-lagu koplo. Memasuki kota Solo Aisyah sangat
antusias bercerita tentang kota asalnya itu, kota tempat tinggal keluarganya
sebelum harus pindah ke kota kecil di dataran tinggi Dieng akibat bisnis orangtuanya
yang ambruk dijegal keluarga Fadil. Aku
lebih banyak mendengarkan dan sekali-kali memberikan pujian.
“Kita ke
Kebun Teh Kemuning dulu ya, dilanjut ke Air Terjun Jumog dan terakhir ke Lawu
Park” tawarku
“Mas, boleh
gak kalau nanti kita mampir ke bekas vila orangtuaku, aku kangen sama pak
Parmin dan istrinya?”
“Apakah
kita akan bermalam disana?” godaku
Tak
kuduga kali ini giliran aku yang dicubit, aku pura-pura mengaduh walau
sebetulnya aku kesenangan.
“Mulai
nakal ya, awas nanti kalau nakal lagi tak jewer beneran” canda Aisyah dan
kamipun terpingkal-pingkal.
“Terakhir
kali aku kesana tepat sehari sebelum aku mulai kuliah di Semarang, saat itu aku
mengajak beberapa teman dan saudara untuk menginap disana”
“Pak Parmin
dan istrinya dengan setia merawat vila kami seakan rumah miliknya sendiri serta
melayani kami sangat baik saat kami sekeluarga berlibur disana”.
“Apakah kamu
yakin kalau pak Parmin masih merawat rumah itu setelah berganti pemiliknya” tanyaku
“Entahlah,
semoga saja nanti masih bisa bertemu” jawab Aisyah dengan sedih.
Kebun teh
Kemuning nampak sudah didepan mata, pemandangannya begitu mempesona, hamparan
kebun teh yang menghijau diselingi dengan jalan yang berliku-liku dan deretan
pepohonan disepanjang pinggir kebun teh membuat decak kagum. Hawa dingin yang menusuk
tak begitu kuhiraukan, segera kususuri lebatnya pepohonan teh yang menghijau, mengikuti
langkah Aisyah yang sudah jauh meninggalkanku. Aisyah begitu antusias berlari-lari
kecil diantara rimbunnya kebun teh dan baru berhenti di ujung bukit, menatapku dengan
senyum riangnya dan meraih tanganku untuk didekapkan dipinggangnya. Aisyah
terus menatapku dengan senyum dibibirnya seakan mengungkapkan kegembiraan
hatinya.
Setelah
puas menghirup segarnya hawa pegunungan kami mampir ke restauran Teh Ndoro Donker yang tidak jauh dari area wisata kebun teh Kemuning.
Kesan pertama saat memasuki restauran terasa megah
dan luas, dulunya retauran ini
kepunyaan kepala kebun teh seorang berkebangsan Belanda yang pasti kaya-raya pada jamannya, hampir disemua bagian memperlihatkan
nuansa klasik
mengadopsi gaya eropa abad pertengahan. Beberapa
foto Tuan dan Nyonya Belanda menempel di dinding-dinding ruangan. Sejenak aku
edarkan pandangan keseluruh ruangan yang tidak begitu ramai dengan pengunjung, akhirnya kuputuskan memilih gazebo diluar
karena pemandangannya lebih leluasa dan sungguh bagus. Walau hari sudah
menjelang siang, udara masih begitu dingin serasa seperti masih pagi hari, apalagi matahari nampak enggan menampakkan
sinarnya karena tertutup
mendung. Aku memesan Original Black Tea dan Aisyah memesan Forest Tea, sedangkan
untuk sarapan aku pesan nasi liwet andalan restauran ini sedangkan Aisyah memesan
Soup Iga dan tak lupa memesan timus keju,
kentang onglok, ketela
dan jadah goreng, makanan tradisional yang menjadi andalan restaurant ini dan
terkenal enak.
“Mas,
tadi aku menelephone mama” ucap Aisyah sambil menekan tanganku meminta
perhatian. Aku sengaja menggodanya dengan pura-pura tidak mendengarnya,
pandanganku tetap lurus mengarah ke perkebunan teh yang mulai diselimuti kabut,
akibatnya Aisyah jadi terdiam tidak melanjutkan ucapannya. Jangan-jangan Aisyah
menjadi marah demi melihat aku cuek, aku jadi menyesal mengapa harus
menggodanya, baru saja aku palingkan wajahku untuk menatap Aisyah, tiba-tiba
tangan Aisyah langsung mencubit pipiku.
“Nih
balasannya kalau jadi anak nakal” dan tawa kamipun pecah kembali
“Yup, eh
tadi ngomomg apa ya?” tanyaku pura-pura lupa biar dapat cubitan lagi
Dan benar
tanpa ampun lagi kedua tangan Aisyah mencubit pipiku sampai aku mengaduh-aduh
minta dilepaskan, kutangkap tangan Aisyah yang masih mencubit pipiku dan
kutempelkan dikedua pipiku, kurasakan hangatnya elusan tangan Aisyah yang lembut
menggetarkan hati dan sekujur tubuhku. Aisyah menatapku dengan senyum riang dan
berulangkali mencubit hidungku.
“Aku
mengabari Mama kalau saat ini aku sedang jalan-jalan dengan sang pangeran”
“Waduh,
ceritanya buat jaga-jaga nih kalau sampai dilarikan” jawabku sambil bercanda
“Iya,
kamu emang sudah melarikan hatiku sejak pertama bertemu”
“Aku
bukan melarikan hatimu cantikku, tapi aku borong semua pesonamu dan aku simpan
rapat-rapat dalam hatiku biar tidak ada orang lain yang bisa mengambilnya”. Dan
tawa kamipun pecah kembali diantara gerimis kecil yang mulai membasahi kawasan
ini.
Beberapa
pengunjung restauran berlarian menuju tempat yang lebih aman dari jangkauan percikan
air hujan, beruntungnya gazebo yang aku pilih cukup aman untuk melindungi kami
dari tempias air hujan. Pelayan menghampiriku untuk menawari pindah di rumah
utama, tapi aku dan Aisyah sama-sama enggan pindah, karena dari sinilah tempat
yang paling tepat untuk melihat pemandangan yang menakjubkan. Gerimis hujan
justru menghalau kabut yang tadi sempat meyelimuti dan perlahan mulai
menghilang sehingga hamparan teh menjadi terlihat sangat jelas, kami berdua
lama menikmati indahnya alam kebun teh ini, tanpa menghiraukan hembusan hawa
dingin yang semakin menjadi bahkan sesekali air hujan menerpa tubuh kami. Setelah
sholat Luhur kami melanjutkan perjalanan
ke air terjun Jumog seperti rencana semula.
Air
terjun Jumog atau grojogan jumog terdiri dari 2 grojogan dan oleh penduduk
sekitar dinamakan grojogan pengantin karena letaknya yang berdampingan, banyak
mitos yang beredar di masayarakat bahwa pengunjung tempat ini apabila bersama
kekasihnya akan kekal abadi dan kelak akan menjadi suami istri. Halah, ada-ada saja tapi diam-diam dalam hati
aku juga berharap seperti mitos disini.
Aisyah
nampak sudah mencelupkan kakinya di aliran sungai bergabung dengan puluhan
pengunjung yang melakukan hal yang sama, aku sendiri masih berdiri menikmati
indahnya air terjun dari kejauhan dengan merapatkan dekapan tanganku demi
merasakan hembusan angin yang sangat dingin. Aisyah nampak ceria sekali dan
sesekali memanggil-mangilku untuk ikut melakukan hal yang sama, tetapi aku
masih ragu dengan hawa dingin yang begitu menusuk. Kuhampiri Aisyah dan
kubisikkan sesuatu padanya, Aisyahpun tertawa tergelak.
“Aduh
mulai nakal lagi ya” teriak Aisyah
“Kamu ikhlas
kalau sampai beku semuanya” jawabku sambil tergelak
“Gak
apa-apa mas, sosis beku aja enak dan tahan lama koq”
“Waduh
disamakan dengan sosis” jawabku dan tawa kami berduapun pecah
Seharusnya
masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi, tapi hari yang sudah menjelang
sore dan langit yang sangat gelap karena membawa beban mendung, membuat kami
mengurungkan niat untuk melanjutkan ke Lawu Park dan kami sepakat untuk langsung
menuju ke Vila Aisyah. Sebetulnya perjalanan menuju Vila yang dimaksud Aisyah dari
Air Terjun Jumog tidak terlalu jauh, tapi hujan yang sudah deras membuat
perjalanan menjadi sangat lambat. Jalan terus menanjak dan berkelok-kelok
dibawah guyuran hujan membuatku harus lebih berhati-hati, apalagi kalau harus
berpapasan dengan pengendara dari arah berlawanan. Aisyah juga menjadi khawatir
karena dalam derasnya air hujan dan jarak pandang yang terbatas membuat semakin
sulit mengenali vila yang pernah menjadi bagian dari sejarah hidupnya.
“Stop”
teriak Aisyah tiba-tiba sambil mencengkeram pundakku.
Seketika
itu juga kuhentikan mobil dan nampak
samar-samar disamping kiriku terlihat rumah yang cukup megah bergaya eropa dengan
halaman yang sangat luas. Aisyah langsung melompat keluar dari mobil dan tidak menghiraukan
derasnya air hujan, berlari-lari sambil berteriak-teriak memanggil pak Parmin, melewati pintu pagar yang
tidak terkunci dan terus berlari menuju teras rumah sampil menutupi kepalanya
dengan sweaternya. Nampak seorang bapak-bapak paruh baya keluar dari rumah dan
segera memeluk Aisyah. Alhamdulilah tak salah lagi pasti itu pak Parmin,
batinku. Aku segera memasukkan mobilku ke pekarangan rumah dan setengah berlari
menuju teras untuk menghindari derasnya air hujan, nampak Aisyah masih menangis
dalam pelukan pak Parmin. Aku berdiri dihadapan mereka dan membiarkan Aisyah
melepas kerinduannya. Sejenak pak Parmin menoleh padaku dan aku segera
mengangguk sambil menyodorkan tanganku. Aisyah memperkenalkanku sambil sesekali
mengusap air matanya.
“Perkenalkan
pak, ini mas Yudha”
“Saya pak
Parmin, yang merawat rumah ini sejak gendhuk Aisyah masih kecil” jawab pak Parmin
sambil menjabat tanganku dengan erat.
Pak
Parmin membimbing kami masuk ke dalam rumah, karena memang diteras ini hawa
dingin begitu menusuk. Lumayan hangat kurasakan ketika memasuki ruang tamu yang
menyatu dengan ruang utama, terlihat begitu luas dan indahnya ruangan ini membuatku
berdecak kagum. Ada beberapa lukisan dan patung-patung yang tersusun rapi di
sekeliling ruangan. Aku duduk di sofa berhadapan dengan Aisyah yang masih
terus-menerus mengeluarkan airmata. Kerinduan dan kenangan masa lalu akan rumah
ini pasti sangat membekas sekali. Aku biarkan Aisyah dengan nostalgianya
sementara aku masih mengagumi
ruangan dan terutama koleksi lukisan dan patung-patung yang pasti bernilai tinggi.
Pak Parmin muncul dengan membawa dua
gelas teh hangat dan menawari kami dengan ramah.
“Monggo
nak Aisyah, nak Yudha diminum dulu tehnya biar badannya hangat”
“Waduh
terimakasih sekali pak, jadi merepotkan” jawabku sambil membantu pak Parmin
meletakkan gelas ke meja.
Pak
Parmin beringsut mau kembali kedapur tapi Aisyah mencegahnya dengan memegang
tangan pak Parmin,
“pak Min, duduk dulu disini menemani Aisyah”
”simbok
kemana pak kok gak kelihatan” Tanya Aisyah
“Sekarang
simbok berjualan dipasar nak, lumayan buat tambah-tambah penghasilan”
“Loh
memangnya simbok gak bekerja lagi disini?”
“Sudah
enggak nak, sejak Vila ini dijual sama bapaknya nak Aisyah, pemilik baru hanya
mempekerjakan saya, karena pemilik Vila ini juga sangat jarang kesini, saya
saja baru sekali ketemu dan setiap bulan gaji saya ditransfer ke rekening anak
saya”
“Oh,
kalau anak-anak pak Min sekarang gak disini juga?”
“Anak-anak
saya juga ikut membantu jualan dipasar, hanya terkadang yang kecil suka
menjemput saya”
“Loh, pak
Min gak tidur disini?”
“Sekarang
tidak lagi nak, tidak ada temannya, kalau malam suka takut tidur sendirian di
rumah yang besar kayak gini” jawab pak Parmin sambil tertawa kecil.
“Terus
jemputnya jam berapa pak, ini sudah hampir maghrib lho?”
“Biasanya
setelah Ashar sudah dijemput nak, mungkin karena tadi hujan deras anak saya gak
berani jemput, mungkin kalau sudah reda hujannya baru dijemput”
“Wah
untung ya pak Parmin masih disini, coba kalau gak hujan, pasti pak Parmin sudah
pulang” selaku
“Iya
betul nak Yudha, kalau tadi tidak hujan, pasti saya sangat menyesal tidak bisa
ketemu nak Aisyah”
Aisyah
tak henti-hentinya bertanya tentang segala hal menyangkut vila dan
kenangan-kenangannya dulu, sampai sayup-sayup terdengar adzan Maghrib.
“Sudah
waktunya Maghrib nak, bapak tinggal dulu ya,”
“Sebaiknya
nak Aisyah mandi dulu, biar badannya segar” lanjut pak Parmin demi melihat Aisyah
basah kuyup karena tadi menerobos derasnya hujan.
Aisyah
mengangguk dan sejenak memandangku,
“Mas
Yudha mandi juga ya, kebetulan aku tadi membawa peralatan mandi”
“He em, Aisyah
dulu geh, nanti saya belakangan” jawabku sambil rebahan disofa
Aisyah segera bergegas ke kamar mandi dengan menenteng peralatan mandi dan baju ganti, aku baru ingat kalau tidak bawa pakaian ganti, tapi itu gak jadi masalah. Aku kembali menyandarkan kepalaku di kursi dan membayangkan seperti apa kehidupan Aisyah saat itu, aku tambah kagum dengan ketegaran Aisyah dengan segala permasalahan yang dihadapinya, semakin membuatku bertekad untuk melindungi Aisyah bersama menghadapi segala rintangan yang menghadang didepan.
Aku terkaget
ketika Aisyah mengelus pipiku perlahan membangunkanku dan memintaku mandi, aku
segera bergegas kekamar mandi dan setengah meringis menahan dinginnya air yang
serasa mandi air kulkas. Selesai mandi aku buru-buru menyeruput teh yang tadi
dihidangkan pak Parmin untuk mengusir hawa dingin yang seakan membuatku jadi
beku, sayang teh yang tadi masih panas mengepul kini juga sudah jadi sedingin
es dan Aisyah jadi terkekeh-kekeh melihat kejadian malang yang menimpaku ini.
“Yuk kita
sholat?” ajak Aisyah sambil masih tersenyum dan bergegas menuju ruangan yang
letaknya disudut depan.
Aku
mengikuti Aisyah menuju ruangan persis disamping ruang tamu yang ternyata sebuah kamar yang didesain sebagai
mushola, sangat luas dan terasa hangat, seluruh lantai ruangan terhampar
karpet tebal dan empuk yang pasti berharga mahal. Suasana sangat sepi sehingga
bacaanku yang lirih sudah cukup menggema dalam ruangan itu. Selesai sholat
dengan takzim Aisyah mencium tanganku dan kamipun berdoa dengan khusyuk
bersama-sama.
Berlanjut....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar